[Fikrul Islam] Syakhshiyah (Kepribadian Manusia)

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRUL ISLAM — Kepribadian dalam diri setiap orang terdiri dari pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Tidak ada hubungannya dengan wajah, bentuk tubuh, kerapian busana, atau hal-hal lainnya. Sebab semua itu hanyalah aksesoris semata.

Adalah suatu kedangkalan berpikir bila seseorang menyangka aksesoris semacam itu sebagai salah satu faktor kepribadian atau berpengaruh terhadap kepribadian. Sebab, manusia dapat dibedakan melalui akal dan tingkah lakunya, dan inilah yang akan menunjukkan tinggi rendahnya derajat seseorang. Karena tingkah laku manusia dalam kehidupan ini tergantung pada mafahim-nya, dengan sendirinya tingkah laku manusia pun terikat erat dan tidak bisa dipisahkan dengan mafahim yang dimilikinya.

Tingkah laku (suluk) adalah perbuatan-perbuatan manusia yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan naluri dan kebutuhan jasmaninya. Tingkah laku ini berjalan secara pasti sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan (muyul) yang ada pada diri manusia untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, mafahim dan kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki oleh manusia adalah penyangga bagi syakhshiyah-nya.

Sedangkan apa yang dimaksud dengan mafahim, dari apa sebenarnya mafahim ini tersusun, apa saja yang dapat dihasilkannya, kemudian apa yang dimaksud dengan kecenderungan (muyul), apa yang menimbulkannya, dan apa saja pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya, maka hal ini memerlukan penjelasan sebagai berikut:

Mafahim adalah makna-makna pemikiran, bukan makna-makna lafaz. Sedangkan lafaz adalah ucapan-ucapan yang menunjukkan makna-makna tertentu yang mungkin ada dalam kenyataan dan mungkin pula tidak ada. Seperti perkataan penyair,

“Di antara kaum lelaki, ada seseorang
yang jika diserang
bagaikan piramida besi yang kukuh,
dan jika dilontarkan kebenaran (akidah)
di hadapannya, luluhlah keperkasaannya,
hancurlah mereka.”

Makna syair di atas dapat ditemukan dalam kenyataan dan dapat dijangkau oleh pancaindra, walaupun untuk menemukannya diperlukan kedalaman dan kecemerlangan berpikir.

Namun, bila penyair berdendang,

“Mereka berkata,
Apakah orang itu mampu
menembuskan tombak
pada dua orang serdadu sekaligus
di hari pertempuran
dan kemudian tidak menganggapnya itu
sebagai hal yang dahsyat!
Kujawab mereka,
‘Andaikan panjang tombaknya satu mil, tentu
akan menembus serdadu yang berbaris
sepanjang satu mil'”

Adapun arti yang ditunjukkan oleh pemikiran adalah apabila makna yang dikandung oleh suatu lafaz memiliki fakta yang dapat diindra, atau yang bisa digambarkan dalam benak sebagai sesuatu yang dapat diindra. Maka, makna tersebut menjadi mafahim bagi orang yang bisa mengindra atau menggambarkannya dalam benak. Namun, tidak menjadi mafahim bagi orang yang belum dapat mengindra atau menggambarkannya, meskipun orang tersebut memahami langsung makna kalimat yang disampaikan kepadanya, atau yang ia baca.

Baca juga:  Khilafah Pencetak Generasi Tangguh Penegak Peradaban Mulia

Oleh karena itu, mutlak bagi seseorang untuk menerima ungkapan yang dibaca atau didengarnya dengan cara berpikir; dengan kata lain hendaklah ia memahami makna-makna pada kalimat sebagaimana yang ditunjukkan oleh maksud kalimat tersebut, bukan yang diinginkan atau dikehendaki oleh orang yang mengucapkannya. Dan pada saat yang sama, ia harus memahami pula fakta dari makna-makna tersebut dalam benaknya, dengan cara memersonifikasikan kenyataan tersebut, sehingga makna-makna itu menjadi mafahim baginya.

Berdasarkan penjelasan di atas, mafahim adalah makna-makna yang bisa dijangkau, yang memiliki fakta dalam benak, baik fakta yang bisa diindra di luar atau berupa fakta yang diyakini keberadaannya di luar, dengan suatu keyakinan yang didasarkan kepada suatu fakta (bukti) yang bisa diindra.

Selain dari hal di atas, yaitu berupa makna-makna lafaz atau kalimat saja, tidak bisa disebut sebagai mafahim, melainkan sekadar maklumat atau pengetahuan belaka.

Mafahim ini terbentuk dari upaya mengaitkan fakta/realitas dengan pengetahuan (bila kita ingin memahami hakikat dari sesuatu, pent.) atau dengan mengaitkan (setiap) pengetahuan dengan kenyataan (bila ingin mengetahui realitasnya).

Setelah mafahim itu terbentuk, maka akan lebih jelas lagi bila didasarkan pada satu atau lebih landasan (ideologi) yang dijadikan tolok ukur untuk fakta dan pengetahuan ketika ia berpikir.

Dengan kata lain, mafahim itu akan lebih jelas bila memiliki cara berpikir tertentu terhadap kenyataan dan pengetahuan (yang ia miliki), maka akan terbentuklah pada orang tersebut suatu pola pikir (yang khas) dalam memahami kata-kata, kalimat, serta makna-maknanya sesuai dengan kenyataan yang tergambar dalam benaknya. Kemudian barulah dia menentukan sikap terhadapnya.

Dengan demikian aqliyah adalah cara yang digunakan dalam memahami atau memikirkan sesuatu. Dengan kata lain, aqliyah adalah cara yang digunakan dalam mengaitkan kenyataan dengan pengetahuan atau sebaliknya, yang disandarkan kepada satu atau lebih landasan (ideologi). Dari sinilah timbulnya perbedaan pola berpikir (aqliyah); seperti pola pikir islami, pola pikir komunis, pola pikir kapitalistik, pola pikir anarkis, atau pola pikir yang teratur.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Nafsiyah

Adapun apa yang dihasilkan oleh mafahim, maka hal itu adalah sebagai penentu tingkah laku manusia terhadap kenyataan yang dapat dipikirkannya; juga sebagai penentu corak kecenderungan manusia terhadap kenyataan tersebut, apakah diterima ataukah ditolak. Bahkan kadang-kadang dapat membentuk suatu kecenderungan dan satu kesukaan tertentu.

Akan halnya kecenderungan (muyul) adalah keinginan yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya, dan senantiasa terikat dengan mafahim yang ia miliki tentang hal-hal yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan yang menimbulkan kecenderungan itu adalah energi dinamis yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan naluri dan jasmani, serta daya pikir yang mengaitkan antara kemampuan/potensi dengan mafahim. Dengan kecenderungan tersebut, atau keinginan yang terkait dengan mafahim tentang kehidupan, maka akan terbentuklah pola sikap (nafsiyah) manusia.

Berdasarkan keterangan di atas, maka nafsiyah adalah cara yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan naluri dan jasmaninya. Dengan kata lain, nafsiyah adalah cara yang digunakan untuk mengikat dorongan memenuhi kebutuhan dengan mafahim. Nafsiyah itu adalah gabungan antara keinginan manusia yang bergejolak secara pasti dan normal dalam dirinya, dengan mafahim terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya, yang terikat dengan mafahim-nya tentang kehidupan.

Dari aqliyah dan nafsiyah ini, terbentuklah syakhshiyah (kepribadian manusia). Walaupun akal dan pemikiran ada secara fitri dan pasti keberadaannya pada setiap manusia, akan tetapi pembentukan aqliyah terjadi dari hasil usaha manusia sendiri.

Demikian juga dengan kecenderungan, walaupun ada secara fitri dan pasti keberadaannya, tetapi pembentukan nafsiyah terjadi dari hasil usaha manusia itu sendiri. Sebab, yang menjelaskan makna suatu pemikiran sehingga menjadi mafahim adalah adanya satu atau lebih landasan (ideologi) yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk pengetahuan dan kenyataan ketika seseorang berpikir.

Karena yang menjelaskan dan menentukan keinginan sehingga menjadi suatu kecenderungan adalah gabungan (kombinasi) yang terjadi antara kecenderungan dan mafahim, maka adanya satu atau lebih landasan (ideologi) yang dijadikannya sebagai tolok ukur untuk pengetahuan dan kenyataan ketika manusia berpikir, mempunyai pengaruh yang terbesar dalam membentuk aqliyah dan nafsiyah. Berarti juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk syakhshiyah dengan suatu cara yang khas, yang berbeda dengan yang lain.

Baca juga:  Pemimpin Bodoh dan Dampak Buruknya

Apabila yang membentuk aqliyah adalah hal-hal yang sama dengan apa yang digunakan untuk membentuk nafsiyah, yaitu membutuhkan satu atau lebih landasan (ideologi), maka pada saat itu terbentuklah pada diri manusia suatu kepribadian yang mempunyai corak dan warna tertentu yang berbeda dengan yang lain.

Namun, apabila yang membentuk aqliyah adalah hal-hal yang berbeda dengan apa yang digunakan untuk membentuk nafsiyah, yaitu berupa satu atau lebih landasan (ideologi) yang berbeda, maka dapat dikatakan bahwa aqliyah seseorang berbeda dengan nafsiyah-nya, dengan kata lain ia akan memiliki pola sikap yang berbeda dengan pola pikirnya. Sebab dengan keadaan tersebut ia akan mengaitkan kecenderungannya kepada satu atau lebih landasan (ideologi) yang masih ada dalam dirinya sejak semula (sebelum mempunyai pola pikir yang baru, pent.).

Dengan demikian, ia akan mengaitkan kecenderungannya dengan mafahim (lama) yang berbeda dengan mafahim (baru) yang telah membentuk aqliyah-nya, kemudian akan terbentuk pada dirinya suatu kepribadian yang kacau, yang tidak memiliki corak dan warna tertentu, sehingga pemikirannya berbeda dengan kecenderungannya. Hal ini disebabkan karena ia memahami kata-kata, kalimat-kalimat, dan kejadian-kejadian dengan cara yang bertentangan dengan kecenderungannya terhadap apa yang ada di sekitarnya.

Oleh karena itu, usaha memperbaiki kepribadian manusia dan pembentukannya adalah dengan cara mewujudkan satu landasan (ideologi) tertentu yang digunakan secara bersamaan bagi aqliyah maupun nafsiyah-nya. Dengan kata lain, landasan (ideologi) yang dijadikannya sebagai tolok ukur untuk pengetahuan dan kenyataan ketika manusia berpikir, harus digunakan pula untuk menggabungkan kecenderungan dengan mafahim.

Dengan cara ini, terbentuklah sebuah kepribadian yang dibangun atas suatu landasan ideologis serta tolok ukur tertentu, yang mempunyai corak warna tertentu. [MNews/Rgl]

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *