Wahai para Ibu, Surga Berada di Bawah Kedua Kakimu

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Kita sering mendengar ungkapan, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Tentu saja ini bukan makna yang sebenarnya, tetapi ungkapan indah dan penuh makna. Ungkapan ini sering dikonotasikan kepada kewajiban seorang anak yang baik adalah harus taat, sayang, dan berbakti kepada ibunya. Sebab, ibu telah mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan seterusnya. Jarang sekali diungkap sebaliknya. Lalu, bagaimana sosok seorang ibu yang di bawah kedua kakinya terletak surga bagi anak-anaknya?

Sesungguhnya, Islam telah memosisikan seorang ibu pada posisi yang sangat mulia. Hal ini tampak dari beberapa hadis Rasulullah saw.. Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi saw. menjawab, “Ibumu!'”Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?'”Nabi saw. menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw. menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR Bukhari)

Hadis lainnya diriwayatkan dari sahabat, Mu’awiyah bin Jahimah,

أنه جاء النبي صلى الله عليه وآله وسلم فقال: يا رسول الله، أردت أن أغزو، وجئت أستشيرك فقال: «هل لك من أم؟» قال: نعم، قال: «فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا»

Bahwasanya ia (Mu’awiyah bin Jahimah) datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan aku datang untuk meminta petunjukmu.” Nabi saw. bersabda, “Apakah engkau memiliki ibu?” Aku menjawab, “Iya, benar”. Lalu Rasulullah bersabda, “Menetaplah dengannya, karena sungguh surga di bawah kedua kakinya.” (HR Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ahmad, Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir dengan sanad hasan, disahihkan oleh Imam al-Hakim)

“Nikahilah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak anak), karena sungguh aku akan menyaingi umat-umat yang lain dengan bilangan kalian pada hari kiamat kelak.” (HR Ahmad)

Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya, karena kecantikannya itu akan menjadikannya berlebihan. Jangan pula kalian menikahi perempuan karena hartanya, karena hartanya itu akan membuatnya membangkang. Nikahilah perempuan atas dasar agamanya. Sesungguhnya seorang hamba sahaya perempuan yang hitam legam yang memiliki kebaikan agama adalah lebih utama. (HR Ibn Majah)

Dari hadis-hadis di atas, dapat kita pahami bahwa Islam telah memberikan posisi yang penting dan mulia bagi seorang perempuan, khususnya untuk seorang ibu. Syariat Islam memberi aturan sedemikian terperinci, bahkan mewanti-wanti agar memilih pasangan yang subur, penyayang, dan memiliki pemahaman Islam yang mumpuni. Karena nantinya, seorang perempuan akan menjadi ibu yang memiliki peran sangat penting dalam sebuah keluarga.

Pentingnya Peran Ibu

Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya, karenanya tanggung jawab untuk pengasuhan, pemeliharaan, dan pendidikan anak-anak berada di pundaknya. Jika ia bukan penyayang dan tidak paham din Islam, akan terbayang oleh kita bagaimana generasi yang akan dihasilkan nantinya.

Sejarah panjang pada masa keemasan Islam yang berlangsung dari awal tahun Hijriah sampai sekitar 14 abad sesudahnya, diwarnai oleh banyak orang besar. Para khalifah menorehkan namanya sebagai pemimpin terbaik saat itu. Para pejuang membawa Islam dalam kemenangan gemilang. Mereka tidak takut mati, bahkan mati di jalan Allah menjadi tujuan tertinggi hidup mereka. Para ulama berjuang dengan tinta dan pena mereka. Karena merekalah kita mengenal dan bisa mempelajari Islam saat ini.

Di balik sosok-sosok hebat mereka, ada sosok-sosok yang tak kalah hebatnya. Nama mereka memang tak diukir oleh sejarah, tetapi harum semerbak oleh prestasi yang ditorehkan anak-anak yang mereka lahirkan dan mereka bentuk.

Merekalah para ibu teladan, menggembleng anak-anak mereka dengan iman, mengukuhkan ketundukan mereka pada aturan Allah, serta menyemaikan bibit keberanian, pantang menyerah, dan semangat untuk mengejar rida Allah dalam perjuangannya. Merekalah para ibu yang menjadi surga bagi anak-anaknya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Para ibu yang hidup di tengah gempuran sistem sekuler kapitalisme yang penuh dengan kemungkaran dan ketakberkahan. Di rumah, kita mendidik anak-anak kita dengan pemahaman Islam yang benar, akan tetapi ketika mereka ke luar rumah—kehidupan yang sesungguhnya—mereka harus berhadapan dengan hal-hal yang sebagian besarnya bertentangan dengan yang diajarkan di rumah oleh kedua orang tuanya.

Maka, menghadapi kondisi buruk yang terjadi, kita diperintah untuk tidak berpasrah diri. Laa yughayyiru maa bi qaumin hattaa yughayyiru maa bi anfusihim. Apalagi masa depan umat ini mau tidak mau menjadi salah satu tanggung jawab kita, termasuk upaya untuk mengembalikan kemuliaan umat dengan membangun kembali sosok generasi mumpuni, sebagaimana generasi-generasi terdahulu.

Caranya tidak lain adalah dengan mencerdaskan dan membina diri kita dan para ibu umat saat ini agar juga memiliki kualitas sebagaimana para ibu terdahulu. Tentu saja hanya dengan merujuk kepada standar Islam. Di sinilah pentingnya mengoptimalkan peran ibu.

Bekal Untuk Mengoptimalkan Peran Ibu

Islam, sebagai din yang lengkap dan sempurna, telah menempatkan sosok Ibu dalam posisi yang sangat mulia dan tidak kalah penting dari peran kaum laki-laki. Fungsi ibu bukan hanya bersifat biologis, melainkan juga bersifat strategis—sebagai arsitek generasi pemimpin masa depan.

Oleh karenanya, Islam menuntut agar kaum perempuan benar-benar bisa menjalankan fungsi keibuan ini dengan optimal. Sehingga, sekalipun Islam mengatur tugas dan peran kaum perempuan sebagai anggota masyarakat, tugas dan peran tersebut tidak boleh mengalahkan peran dan fungsi utamanya sebagai ummun wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah suaminya).

Sangatlah tepat ketika Islam memberikan tugas utama kepada perempuan sebagai ibu. Melalui rahimnyalah, anak-anak manusia dilahirkan. Penderitaan tak dirasa demi buah hatinya, bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Ibu, bagaikan langit yang selalu memberikan perlindungan, bagaikan bumi sebagai tempat untuk berpijak, dan bagaikan matahari yang memberikan kehangatan kepada anak-anaknya. Betapa mulianya seorang ibu, sehingga diibaratkan surga berada di bawah telapak kakinya.

Sebagai ibu, tentu saja kita tidak boleh menyia-nyiakan hal ini. Kita harus mengoptimalkan diri kita, sehingga peran dan fungsi kita sebagai ibu dalam mempersiapkan generasi unggul bisa terlaksana.

Dengan merujuk pada nas-nas dan pelajaran yang kita dapati dari Rasulullah saw. dan juga para shahabiyat, maka ada beberapa bekal yang harus kita miliki, antara lain:

1) Memiliki ketakwaan yang tinggi.

Ketakwaan ini dimanifestasikan ke dalam pola pikir dan pola sikap yang senantiasa bersandar pada Islam. Allah Swt. telah menjelaskan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang adalah karena ketakwaannya (QS Al-Hujurat: 13).

Dengan ketakwaan yang tinggi, seorang ibu akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah dari-Nya. Ibu seperti ini akan menggembleng anaknya agar memahami hakikat dan tujuan hidup, menanamkan keimanan yang kokoh, sekaligus mengajarkan pada mereka untuk tunduk dan patuh pada aturan Sang Pencipta. Ibu akan tampil sebagai teladan bagi anak-anaknya dalam hal berpikir dan bersikap. Ibarat kaset kosong, anak akan merekam segala tindak-tanduk orang tuanya, terutama ibu.

2) Memiliki rasa kasih sayang yang benar.

Seorang ibu harus mampu mendidik anak-anaknya dengan rasa dan kasih sayang yang benar (yaitu mendahulukan rasa cinta dan sayang kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya), sehingga anak-anaknya kelak akan mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang benar pula terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang tua dan keluarganya.

Rasa cinta seorang ibu terhadap anaknya tidak menghalanginya untuk mendidik anaknya menjadi mujahid yang rela berkorban jiwanya untuk Islam. Demikian pula seorang anak, tidak akan terhalang untuk mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk memperjuangkan tegaknya Islam, walaupun ia harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.

3) Memiliki pemahaman bahwa anak adalah aset perjuangan dan masa depan umat.

Saat ini umat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dalam perjuangan untuk bangkit kembali sebagai khairu ummah sebagaimana yang seharusnya (QS Ali Imran 110). Pemimpin yang tangguh hanya akan lahir dan terbentuk dari ibu yang tahu persis posisi anak sebagai aset perjuangan dan masa depan umat. Ibu yang memiliki kesadaran semacam ini akan berusaha menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak, membekali anak dengan sifat-sifat terpuji bagi seorang pemimpin seperti mandiri, rela berkorban, lemah lembut, bertanggung jawab, peduli umat, dan lain-lain.

4) Memiliki kesadaran politik Islam.

Kesadaran politik Islam artinya memahami dan meyakini bahwa pemeliharaan urusan-urusan umat harus diatur dengan syariat Islam. Inilah bentuk kesadaran politik yang paling mendasar. Dengan demikian, seorang ibu juga harus memiliki ilmu yang utuh tentang syariat Islam, bagaimana penerapannya dalam kehidupan, siapa yang berkewajiban menerapkan, urusan apa yang menjadi hak dan kewajibannya dan apakah hukum-hukum itu sudah tertunaikan. Dengan demikian, seorang ibu yang memiliki kesadaran politik Islam akan memiliki kepekaan yang tinggi dalam melihat kezaliman-kezaliman yang menimpa umat akibat tidak diterapkannya aturan-aturan Islam. Dia pun akan berperan untuk menghilangkan kezaliman itu dengan aktivitas dakwah dan menjadikan anak-anaknya juga menjadi kader dakwah yang turut mengawal pelaksanaan syariat Islam dalam mengatur urusan-urusan kehidupan masyarakatnya.

5) Memiliki ilmu dan wawasan yang luas tentang konsep pendidikan anak.

Pada tataran praktis seorang ibu membutuhkan “ilmu tambahan” terkait dengan konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya agar pembentukan generasi unggul dapat terwujud dengan baik. Termasuk pengetahuan terkait masa emas anak yang harus ditangani secara optimal oleh setiap ibu agar pembentukan dasar-dasar proses berpikir anak dan tumbuh kembangnya bisa dimaksimalkan.

Demikianlah, telah sangat jelas betapa besarnya peran dan posisi seorang ibu. Ia merupakan sosok yang dekat dengan kasih sayang, kedamaian, pengorbanan, dan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Ibu sangat berperan dalam mewarnai corak sebuah generasi. Demikian tinggi penghargaan Islam bagi kaum ibu, hingga Rasulullah saw. menyatakan dalam hadisnya bahwa surga berada di bawah kedua kakinya. Maka, perempuan mana yang tidak ingin berperan sebagai ibu yang baik? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan