Ummu Muslim al-Khaulani, Pertolongan Allah untuk Keluarga Taat

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Ketika keluarga dibangun dengan ketaatan, Allah akan memberikan pertolongan-Nya dari arah yang tidak dia sangka. Hal inilah yang dialami keluarga taat dari para tabiin.

Di antara keluarga tersebut ialah kehidupan rumah tangga Abu Muslim dan Ummu Muslim al-Khaulani. Kehidupan yang zuhud, dihiasi dengan ibadah, dan senantiasa berupaya menggapai rida Allah Swt. menjadi permulaan kisah rumah tangga Abu Muslim bersama istrinya, Ummu Muslim.

Ummu Muslim al-Khaulani adalah seorang wanita dari kalangan wanita tabiin. Selain sifat zuhud dan ketakwaannya, ia merupakan wanita terhormat, mempunyai pengaruh besar, dan memiliki kapasitas keilmuan dan pengetahuan yang luas.

Suaminya adalah Abu Muslim al-Khaulani ad-Darani, seorang tokoh tabiin yang zuhud sepanjang masa, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Tsaub (salah satu dari delapan tabiin yang zuhud).

Ia masuk Islam pada masa hidup Rasulullah Saw., Namun, ia tidak sempat bertemu dengan beliau. Ia datang ke Madinah saat pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu Muslim meriwayatkan hadis dari Umar, Muadz bin Jabal, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Ubaidah dan Ubadah bin ash-Shamit.

Banyak tokoh besar tabiin di masanya meriwayatkan hadis darinya. Ia menjadi orang bijak bagi umat. Allah memberikan padanya kemuliaan dan keilmuan. Ia mendatangi Syam lalu tinggal di Daraya (sebuah desa yang terletak sekitar tiga mil dari pusat kota Damaskus)

Kepopuleran Ummu Muslim semakin bertambah karena ia dan suaminya dikenal sebagai pasangan suami istri yang zuhud dan taat. Ummu Muslim mengisi waktunya dengan ketaatan. Ia selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri dan duduk baik di waktu sore maupun pagi.

Karenanya, ia menempati kedudukan tinggi di antara wanita-wanita tabiin. Nama baiknya berkumandang di dunia dan menjadi teladan baik bagi siapapun yang ingin seperti dirinya.

Ummu Muslim bukan termasuk wanita yang terfokus secara penuh dengan kewajiban-kewajiban agama semata dengan meninggalkan kewajiban duniawi. Ia adalah seorang wanita produktif dan mandiri. Ia sangat pandai menyulam dan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan tangan.

Kepiawaiannya menyulam ia gunakan untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Uang satu dirham hasil menjual kain sulamannya dia berikan kepada suaminya untuk dibelikan bahan-bahan pokok sehari-hari.

“Wahai Abu Muslim, kita tidak punya tepung lagi.” Abu Muslim cukup terkaget karena dia tidak memiliki uang untuk membeli tepung.

Dengan pasrah dia berkata, “Apakah engkau mempunyai sesuatu (uang) untuk membeli tepungnya?” kata Abu Muslim sambil menatap nanar wajah istrinya.

Dengan suara lembut dan nada yang merendah, Ummu Muslim menjawab, “Kita punya satu dirham dari menjual kain sulam.” Abu Muslim menjawab, “Baiklah wahai istriku, berikan uang itu dan kantong untuk tepung.”

Setelah menerima uang berikut kantong untuk diisi tepung, Abu Muslim berangkat ke pasar. Ketika tiba di depan toko yang menjual tepung, Abu Muslim didatangi pengemis dan berkata, “Wahai Abu Muslim, berikan sedekah kepadaku,” kata pengemis itu.

Si pengemis itu terus menerus meminta. Akhirnya ia menyerahkan satu-satunya uang dirham itu. Ia meraih kantongnya lalu mengisinya dengan serbuk kayu bersama debu. Lalu ia menuju rumahnya. Kemudian ia meletakkan kantong itu dibalik pintu kemudian pergi menuju tempat ibadahnya.

Ummu Muslim membuka kantong itu dan ternyata isinya tepung putih bersih. Ia pun membuat adonan untuk dijadikan roti.

Saat Abu Muslim datang di malam hari, Ummu Muslim telah meletakkan kue dan roti dihadapannya. Ia berkata,”Dari manakah engkau mendapatkan ini, wahai Ummu Muslim?”

Dengan suara rendah hati, Ummu Muslim menjawab, “Dari tepung yang engkau bawa tadi wahai suamiku,” katanya sambil memberikan roti yang telah dihidangkannya kepada suaminya. Sementara, suaminya menangis karena tak merasa memberikan tepung kepadanya.

Dari situlah Allah memberikan pertolongan tersebab kejernihan hati Abu Muslim dan Ummu Muslim untuk selalu bersikap sabar dan dermawan. Menolong mereka yang membutuhkan meski dalam kondisi kekurangan.

Allah pun membalas kebaikannya  dari arah yang tak mereka duga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq:2—3)

Ujian Rumah Tangga

Ujian lain yang dihadapi oleh keluarga taat ini tak terhenti pada soal ekonomi. Keharmonisan rumah tangga mereka pernah diuji dengan hasutan yang dilakukan oleh perempuan, yang tak lain adalah tetangganya.

Kebiasaan Abu Muslim ketika hendak masuk rumah selalu mengucapkan salam dan takbir. Ucapan tersebut pun dijawab dan tak pernah luput dari Ummu Muslim.

Namun, akibat hasutan sang tetangga, suatu ketika Ummu Muslim tak menjawab kebiasaan sang suami itu.

Sikap yang jarang dilakukan oleh istrinya membuat Abu Muslim bertanya-tanya dalam hatinya. “Ada apa istriku tidak menjawab salam serta takbirku, padahal dia berada di rumah.”

Abu Muslim mendekat dan bertanya kepada Ummu Muslim yang sedang duduk termenung di halaman belakang rumah. “Ada apa denganmu?” Ia bertanya dengan nada lembut.

Dengan tegas, Ummu Muslim menjawab, “Engkau mempunyai kedudukan tinggi di mata Muawiyah bin Abu Sufyan, sedangkan kita tidak punya pembantu (budak). Seandainya engkau meminta diberikan budak, ia pasti memberikannya kepadamu,” katanya.

Abu Muslim sadar dari perkataan istrinya tadi ada sesuatu yang disembunyikannya. Dengan segala kepasrahan dan kerendahan hati, Abu Muslim menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata. “Ya Allah, siapa pun yang merusak istriku, butakanlah matanya.”

Abu Nuaim al-Ashbhani menceritakan,”Sebelumnya ada seorang wanita datang menemui Ummu Muslim. Wanita itu berkata,”suamimu mempunyai kedudukan penting di sisi Muawiyah. Seandainya engkau katakan padanya agar minta diberikan budak untuk melayanimu, pasti ia akan memberikannya hingga kalian dapat hidup sejahtera.”

Ketika wanita itu sedang duduk dirumahnya malam hari, tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap. Ia berkata, “Ada apa gerangan dengan lentera-lentera kalian? Apakah padam?”

Saat itu ia menyadari dosanya dan campur tangannya dalam kehidupan Ummu Muslim. Maka ia menghadap Abu Muslim seraya menangis dan memintanya berdoa kepada Allah agar mengembalikan penglihatannya.

Abu Muslim merasa kasihan lalu memohon kepada Allah dengan sepenuh hati agar Allah mengembalikan penglihatannya. Selanjutnya Ummu Muslim kembali ke kehidupan harmonis bersama suaminya, Abu Muslim.

Pemberian Allah Swt. Lewat Tangan Khalifah

Dalam kitab Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir menuturkan kisah Abu Muslim bersama istrinya.

Ummu Muslim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Muslim, sekarang musim dingin telah tiba. Kita tak punya bahan pakaian, makanan dan juga cadangan lauk pauk, sepatu dan juga kayu.”

Abu Muslim berkata, ”Apa yang engkau inginkan, wahai Ummu Muslim?”

Ia menjawab,”Engkau datang kepada Muawiyah dan dia orang yang paling mengerti dirimu. Engkau bisa memberitahukan kebutuhanmu dan kesulitan kita.”

Abu Muslim berkata, ”Saya malu meminta sesuatu pada selain Allah!”

Namun, Ummu Muslim terus menerus meminta. Ketika ia semakin banyak berkata-kata, Abu Muslim berkata,” Mengapa engkau? Siapkanlah perlengkapan untukku!”

Lalu Abu Muslim menuju masjid dan berdiam seharian penuh. Ketika banyak orang menunaikan salat Isya dan masjid menyisakan dirinya sendirian, ia bersimpuh di atas kedua lututnya, lalu berkata, ”Ya Allah! Engkau Maha Mengetahui keadaanku dalam hubungan antara diriku dengan-Mu. Engkau telah mendengar pernyataan Ummu Muslim. Ia memintaku menghadap Muawiyah sedangkan seluruh simpanan kekayaan dunia ada pada-Mu. Muawiyah hanyalah satu dari makhluk-makhluk-Mu. Sesungguhnya saya memohon kepadaMu dari kebaikan-Mu yang banyak dan mudah.” Lalu ia menuturkan kebutuhan-kebutuhannya.

Kemudian ia meneruskan, “Sesungguhnya simpanan kekayaan-Mu tak akan pernah habis, dan kebaikan-Mu tak akan berkurang. Engkau Maha Mengetahui diriku. Engkau telah mengetahui bahwa Engkau paling saya cintai dari selain-Mu. Apabila Engkau memberikannya padaku maka saya pasti banyak memuji-Mu atas pemberian itu. Apabila Engkau menghalangiku maka bagi-Mu segala puji yang banyak.”

Sementara ada seorang dari keluarga Muawiyah masih berada di masjid, mendengarkan semua perkataan dari Abu Muslim. Lalu ia keluar dari masjid menuju tempat Muawiyah, serta memberitahukan kejadian dan perkataan yang telah ia dengar.

Muawiyah berkata, ”Tahukah engkau siapa gerangan dirinya? Dia adalah Abu Muslim. Bukankah engkau telah mendata apa yang ia katakan?”

Orang itu menjawab,”Benar, wahai Amirulmukminin.”

Muawiyah berkata, ”Maka lipatgandakan baginya setiap yang ia minta dan cepat-cepatlah memberikannya sekarang ke rumahnya. Jangan sampai besok, kecuali semua ini berada di rumahnya dengan setiap sesuatu digandakan.”

Ia membawa semua yang ia katakan. Ketika semua barang itu tiba di hadapan Ummu Muslim, ia memuji Muawiyah, “Saya masih mengumpat orang tua itu agar mendatanginya, namun ia menolak permintaanku itu.”

Ketika Abu Muslim selesai melaksanakan salat subuh, ia pulang dengan penuh keyakinan kepada Tuhannya. Ketika sampai di rumahnya, ia mendapati barang-barang yang melimpah terlihat kehitam-hitaman dari kejauhan.

Ummu Muslim berkata kepadanya,”Wahai Abu Muslim, lihatlah apa yang telah dihadiahkan oleh Amirulmukminin kepadamu.”

Dia menjawab,”sungguh jauh sekali pikiranmu!  Engkau mengkufuri nikmat dan tidak bersyukur kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Sungguh demi Allah, saya tidak datang ke rumah Muawiyah, juga tidak berbicara pada pengawalnya dan tidak pula menyampaikan keperluanku kepadanya. Ini tidak lain adalah bagian dari Allah yang telah Dia hadiahkan kepada kita. Sungguh segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya.”

Sejak saat itu Ummu Muslim menyadari perhatian besar suaminya dalam mendidiknya akan hakikat tawakal kepada Allah. Sejak saat itu pula, ia tidak lagi meminta sesuatu padanya. Ia sangat menjaga diri untuk selalu berada dalam jalan hidup yang telah diajarkan suaminya.

Semoga kisah mereka menjadi inspirasi bagi keluarga muslim agar senantiasa bersabar, berikhtiar, dan bertawakal dalam menjemput rezeki dan menghadapi ujian hidup.

Tidak tergoda dengan nikmat dunia yang fana. Sungguh, nikmat yang sesungguhnya bagi setiap hamba adalah nikmat berada dalam ketaatan kepada Allah baik di kala lapang maupun sempit. [MNews/Chs/Juan]

Tinggalkan Balasan