[Fikrul Islam] Mafahim Islam Adalah Patokan-patokan Tingkah Laku Manusia dalam Kehidupan

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRULISLAM — Pemikiran-pemikiran Islam adalah berupa mafahim, bukan sekadar maklumat yakni informasi-informasi yang hanya berupa pengetahuan. Arti keberadaannya sebagai mafahim adalah bahwasanya pemikiran-pemikiran Islam memiliki makna yang menunjukkan suatu kenyataan dalam kehidupan.

Pemikiran-pemikiran tersebut bukan sekadar keterangan terhadap hal-hal yang disangka keberadaannya secara logis. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, setiap makna yang ditunjuk olehnya memiliki fakta-fakta yang dapat diindra oleh setiap manusia; baik itu merupakan mafahim yang membutuhkan pemikiran dan perenungan yang mendalam, atau berupa mafahim yang dapat dipahami dengan mudah. Juga apakah makna itu merupakan hal-hal yang dapat diindra, yakni yang memiliki fakta indrawi, seperti ide-ide yang berkaitan dengan pemecahan problem hidup, pemikiran-pemikiran, dan opini-opini umum, ataukah merupakan hal-hal gaib, tetapi yang mengkabarkannya kepada kita adalah sesuatu yang dapat dipastikan keberadaannya oleh akal secara indrawi, seperti adanya malaikat, surga, atau neraka.

Jadi seluruh pemikiran Islam adalah berupa fakta-fakta riil yang memiliki penunjukan-penunjukan (makna) yang nyata dalam jangkauan indra atau benak manusia. Dengan kata lain merupakan fakta yang memiliki penunjukan yang nyata dalam benak, secara tegas, dan pasti.

Hanya saja, penunjukan yang nyata tersebut bukanlah merupakan pembahasan semisal astronomi, pengetahuan tentang kedokteran, atau konsep pemikiran yang berkaitan dengan ilmu kimia yang telah disampaikan kepada kita guna memanfaatkan apa yang ada dalam alam semesta. Namun sebaliknya, penunjukan-penunjukan itu merupakan patokan-patokan tingkah laku manusia dalam kehidupan dunia ini dan untuk menuju kehidupan akhirat, tak ada hubungannya dengan selain itu. Patokan-patokan itu datang sebagai petunjuk dengan membawa rahmat, peringatan, dan nasihat. Juga untuk memecahkan problem hidup yang timbul dari perbuatan manusia serta menentukan bentuk tingkah lakunya.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Rasulullah ﷺ Bukan Mujtahid (Bagian 1/2)

Jika kita menelusuri mafahim ini dalam nas-nas yang menjadi sumber mafahim tersebut, yakni nas-nas yang menerangkan pemikiran-pemikiran yang melahirkan mafahim tersebut, maka akan kita dapati bahwa seluruh nas yang ada datang dalam bentuk ini (sebagai patokan tingkah laku manusia) tidak dalam bentuk lain; dan terbatas hanya pada pembahasan ini. Jadi, nas-nas Al-Qur’an dan sunah, baik dari segi manthuq-nya (apa yang ditunjuk oleh lafaz), atau dari segi mafhumnya (apa yang ditunjuk oleh makna lafaz), ataupun dari segi dilalah-nya, seluruhnya terbatas dalam satu cakupan, yaitu akidah dan hukum-hukum yang terpancar dari akidah, termasuk pemikiran-pemikiran yang dibangun di atas akidah tersebut. Tidak ada pembahasan selain itu.

Oleh karena itu setiap muslim diwajibkan memahami bahwa nas-nas syariat, yaitu Al-Qur’an dan sunah, datang untuk diamalkan dan khusus ditujukan terhadap tingkah laku manusia dalam kehidupan. Dengan kata lain, setiap muslim wajib menyadari dua hal dalam Islam, yaitu:

Pertama, bahwasanya Islam datang dengan membawa mafahim sebagai patokan untuk mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan dunia ini dan menuju kehidupan akhirat. Kemudian, ia pun mengambil setiap pemikiran Islam sebagai patokan (peraturan) untuk mengatur tingkah lakunya sesuai dengan peraturan tersebut. Jadi yang menonjol dalam Islam adalah segi amaliyah (praktis), bukan segi taklimiyah (teoritis) semata.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Islam Suatu Metode Kehidupan yang Unik

Perlu diketahui, jika Islam diambil dari segi teori semata, tentu akan kehilangan shibghah (warna) aslinya, yaitu kedudukannya sebagai patokan untuk mengontrol tingkah laku manusia; dan akhirnya Islam pun hanya akan sekadar menjadi pengetahuan belaka, sebagaimana ilmu geografi dan sejarah. Dengan demikian Islam akan kehilangan daya hidup (power) yang ada padanya, dan ia pun tidak akan menjadi Islam yang murni, tetapi hanya sekadar pengetahuan Islam yang dapat ditandingi oleh kaum orientalis kafir yang tidak mengimani apa yang mereka pelajari dari Islam, dan orang-orang yang mempelajarinya hanya untuk menghantam Islam dan pemeluknya. Dua orang tersebut akan sama kedudukannya dengan seorang muslim yang alim, yang beriman pada ajaran Islam, tetapi menyifatinya sekadar sebagai pengetahuan atau kepuasan intelektual, tanpa terlintas dalam hatinya untuk mengambil ajaran-ajaran Islam sebagai patokan bagi tingkah lakunya dalam kehidupan ini.

Oleh karena itu, mengetahui pemikiran-pemikiran Islam dan hukum syarak tanpa merealisasikannya sebagai patokan tingkah laku manusia dalam kehidupan ini adalah suatu penyakit yang menjadikan Islam tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku kaum muslimin dewasa ini.

Kedua, wajib disadari oleh setiap muslim tentang dinul-Islam, bahwasanya Al-Qur’an dan sunah diturunkan tidak lain sebagai din dan syariat, bukan sekadar pengetahuan atau ilmu semata. Dan keduanya tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan mana pun, baik itu ilmu sejarah,geografi, ilmu alam, kimia, atau penciptaan-penciptaan dan penemuan-penemuan ilmiyah.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Islam Adalah Mafahim bagi Kehidupan, Bukan Sekadar Maklumat

Ayat-ayat yang tercantum dalam Al-Qur’an tentang bulan, bintang, planet, gunung, sungai, hewan, burung, dan tumbuh-tumbuhan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah,

“(Dan) matahari berjalan (berputar pada lingkaran yang ditentukan) sampai ia berakhir (pada batas tertentu).” (QS Yaasin: 38)

“(Api neraka) yang menembus ke dalam.” (QS Al Humazah: 7)

Begitu juga ayat-ayat lain yang serupa dengan kedua ayat tersebut tidak memiliki suatu petunjuk pun terhadap ilmu pengetahuan. Ayat-ayat itu bermaksud mengajak manusia memerhatikan kekuasaan Allah, menjadi petunjuk terhadap keagungan Allah, serta memberi petunjuk kepada manusia tentang hal-hal yang dapat menundukkan akalnya, akan sangat perlunya beriman kepada Allah Swt.

Jadi ayat-ayat tersebut adalah bukti-bukti kekuasaan dan keagungan Allah Swt., serta merupakan himbauan kepada akal manusia untuk melakukan pengamatan, agar ia sadar dan mengambil petuah dari ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat itu bukanlah dimaksudkan untuk sekadar pembahasan di bidang sains atau ilmu pengetahuan umum.

Jadi pemikiran-pemikiran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah tidaklah sekadar sebagai pengetahuan atau pembahasan teoritis, tetapi diturunkan untuk memecahkan problematika kehidupan manusia; dan merupakan patokan-patokan bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan dunia, serta dalam perjalanannya menuju kehidupan akhirat. [MNews/Rgl]

Sumber: Al Fikru Al Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam), Muhammad Ismail

Tinggalkan Balasan