Berpikir Produktif, Upaya Mewujudkannya di Tengah-Tengah Umat

Penulis: Najmah Saiidah

“Banyak orang membaca, tetapi tidak berpikir (tentang apa yang dibacanya). Banyak pula yang membaca dan berpikir, tetapi proses berpikirnya tidak lurus dan tidak dapat menjangkau pemikiran-pemikiran yang diekspresikan oleh kalimat-kalimat yang dibaca.” (Taqiyuddin an-Nabhani, kitab At-Tafkiîr, hlm. 123)

MuslimahNews.com, FOKUS — Sejarah telah membuktikan, sejak Rasulullah saw. diutus untuk menyebarkan dakwah Islam dan membangun masyarakat yang tegak di atas akidah Islam, kemudian mengatur seluruh interaksi dalam masyarakatnya dengan syariat Islam, pada saat itu terwujudlah umat Islam sebagai sebaik-baik umat—khairu ummah. Lalu, bangunan masyarakat ini dilanjutkan oleh generasi setelahnya dari kalangan Khulafaurasyidin dan khulafa setelahnya. Umat Islam pada saat itu pun benar-benar mampu tampil sebagai umat terbaik.

Di samping tingkat kesejahteraan yang tinggi, peradaban Islam juga tampil sebagai mercusuar kemajuan di berbagai bidang kehidupan, seperti ekonomi, politik, akhlak, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Bahkan, dalam percaturan politik internasional, Daulah Khilafah Islamiah memegang peranan penting sebagai negara adidaya yang memiliki kewibawaan yang tinggi dan mampu menjalankan fungsinya sebagai penebar rahmat bagi seluruh alam melalui dakwah dan jihad.

Hanya saja, gambaran umat terbaik tersebut kini telah hilang setelah umat sedikit demi sedikit meninggalkan aturan Islam dari pengaturan kehidupan mereka. Padahal, yang menjadi kunci umat terbaik adalah diterapkannya aturan Islam secara kafah dalam kehidupan.

Lambat laun kegemilangan Daulah Islamiah pada masa lalu itu pun nyaris tak lagi terdengar, tertutup oleh kenyataan-kenyataan buruk yang menjadi potret keseharian umat Islam saat ini.

Kini, ketika berbicara tentang umat Islam, selalu identik dengan kemiskinan, kebodohan, terjajah, konflik, dan perang berkepanjangan. Tidak hanya itu saja, pemikiran umat Islam pun saat ini dipengaruhi oleh pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran Islam. Ide Islam moderat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan Islam pun ditelan mentah-mentah oleh umat Islam, bahkan di kalangan sebagian para ulama. Yang menyedihkan lagi, mereka ikut serta mempropagandakannya.

Dalam konstelasi politik Internasional pun, umat Islam adalah umat yang tidak berdaya, selalu terpinggirkan, bahkan menjadi bulan-bulanan negara-negara adidaya—kekayaan alamnya dirampok, akhlak generasi mudanya dirusak, dan masa depan mereka dihancurkan.

Di berbagai belahan dunia, umat Islam berada dalam cengkeraman negeri kafir penjajah. Sebagian masih mengalami penindasan kejam dari rezim negeri-negeri kufur, sebagian lainnya masih terombang-ambing gaya hidup hina yang dipropagandakan serta dipaksakan kaum kufur sebagai sistem hidup mereka. Kenyataannya, dunia Islam hingga kini masih dalam kondisi terpuruk.

Realitas yang buruk ini sebenarnya telah diprediksikan oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya. Dari Said Al-Khudri, dari Nabi saw. bersabda, “Kamu pasti akan mengikuti sunah perjalanan orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga walaupun mereka masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw., apakah mereka Yahudi dan Nasrani? Rasulullah menjawab, “Siapa lagi?” (HR Bukhari dan Muslim).

Beginilah nasib dunia Islam pada akhir zaman yang diprediksikan Rasulullah saw.. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nasrani. Prediksi tersebut sekarang benar-benar tengah menimpa sebagian besar umat Islam dan dunia Islam.

Mayoritas umat Islam tidak menyadari kenyataan ini sebagai sebuah masalah. Sebagian enjoy, bahkan mengambil manfaat dari keadaan ini. Sebagian lagi bersikap apatis alias tidak mau tahu dan cenderung “tenggelam” dalam persoalan pribadi; dan sebagian lagi sadar, tetapi bingung harus berbuat apa.

Mengapa Terjadi?

Sesungguhnya, keterpurukan umat Islam ini disebabkan oleh hilangnya aspek pemikiran politik produktif pada diri umat. Runtuhnya Khilafah Islamiah pada 1924 M menjadi gong kehancuran institusi politik umat. Hal ini menandai hilangnya kemampuan berpikir kaum muslimin.

Selanjutnya, kaum muslimin mengatur urusan kehidupan bernegara dan bermasyarakat di atas dominasi pemikiran sekuler kapitalisme. Kaum muslimin telah kehilangan pemikiran produktifnya yang cemerlang. Hilangnya metode berpikir produktif inilah yang menyebabkan mereka tidak bisa bangkit dan menemukan jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Tentu ini menyebabkan mereka menjadi tidak independen. Jangankan memimpin dunia, menyelesaikan masalah internal mereka saja tidak bisa.

Akhirnya, mereka lebih senang mengikuti telunjuk negara-negara kafir imperialis. Membebek apa pun yang berasal dari mereka, tidak hanya perbuatan dan perilaku mereka saja, akan tetapi ide-ide dan pemikiran yang mereka emban diikuti. Padahal, mereka itu adalah musuh umat Islam yang menghendaki kemunduran bahkan kehancuran umat Islam. Nah, kalau sudah begitu, dapat dipastikan umat Islam akan terpinggirkan dan tidak akan pernah bisa mendominasi dunia.

Kondisi inilah yang mengharuskan umat Islam berpikir secara benar dan produktif, meskipun berada dalam penindasan kekuasaan tiran dan meskipun hidup dalam penderitaan akibat penerapan sistem yang salah.

Akidah Islam sebagai akidah politik harus menjadi dasar pemikiran dalam mengatur seluruh urusan, menjadi kepemimpinan berpikir yang bersifat menggerakkan, dan memiliki sudut pandang yang khas dalam menyelesaikan persoalan. Lalu, seperti apa gambaran berpikir produktif itu ?

Makna Berpikir Produktif

Berpikir produktif adalah cara berpikir yang terbentuk ketika seseorang mempunyai kaidah yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pemikiran dalam hidupnya. Dengan kata lain, metode berpikir produktif—yang sesungguhnya telah diwariskan oleh Islam—adalah menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri kita. Jika ini dimiliki oleh umat, umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi. (Hafidz Abdurrahman, Membangkitkan Taraf Berpikir Umat, 2004).

Metode berpikir produktif menyebabkan umat mampu meluaskan cakrawala yang akan mengangkat dirinya dari kubangan penderitaan dan menghilangkan egoismenya. Pemikiran produktif Islam akan menghancurkan egoisme yang hanya berpikir untuk menyelesaikan masalah pribadi. Berpikir produktif tidak hanya berpikir terkait dengan masalah pribadinya semata, tetapi berpikir tentang umat dan cara menyelesaikan urusan umatnya.

Pada hakikatnya, berpikir produktif merupakan aspek alami dari tumbuhnya kesadaran politik. Kesadaran politik ini tidak hanya bersifat regional, tetapi juga internasional. Sebab, umat Islam adalah satu saudara, satu dunia, satu tuntunan—Al-Qur’an dan hadis—dan satu tujuan hidup yaitu rida Allah dan Surga-Nya.

Pemikiran Islam yang bersifat global inilah yang akan mampu membawa kaum muslimin memimpin dunia dengan Islam. Islam tidak membatasi pengaturannya sebatas hanya sebuah wilayah, negara, atau benua. Namun, Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan kembali ketinggian taraf berpikir umat saat ini?

Membangun Kemampuan Berpikir Produktif Umat

Berpikir produktif sangat penting untuk dimiliki dan diwujudkan di tengah-tengah umat Islam. Karenanya, harus ada upaya keras dalam mewujudkannya di tengah-tengah umat Islam dari semua kalangan, bukan hanya pada diri individu-individu tertentu saja —seperti negarawan, pemimpin partai politik, pemikir atau politisi—dari umat Islam.

Inti argumentasinya sebenarnya jelas, yaitu bahwa kekuasaan itu hakikatnya ada di tangan umat. Umatlah yang memilih siapa yang akan menjadi penguasa atau pemimpin mereka, dan umatlah yang akan mengawasi jalannya roda kekuasaan dalam sebuah pemerintahan Islam, sesuai dengan tuntunan syariat atau tidak. Bagaimana umat bisa mengoreksi penguasanya (muhasabah lil hukkam) jika kemampuan berpikir produktif tidak ada di tengah-tengah umat?

Mula-mula, pemikiran Islam tersebut ditanamkan di tengah-tengah umat sebagai pemikiran yang harus mereka yakini, lalu pemikiran tersebut mereka gunakan untuk mengurusi setiap persoalan yang mereka hadapi. Caranya adalah dengan melakukan pencerdasan dan pembinaan dengan pemikiran-pemikiran politik yang sahih, yakni pemikiran politik Islam ke tengah-tengah umat, serta memberikan beraneka ragam informasi dan berita politik kepada umat.

Kemudian, menggunakan khazanah keilmuan Islam yang kita miliki untuk menghukumi fakta yang kita hadapi. Setelahnya, mengajak umat untuk senantiasa mengikuti berita, sehingga paham fakta-fakta yang terjadi yang menimpa umat, kemudian mengaitkannya dengan pemahaman Islam yang sudah dipelajarinya.

Dengan melakukan proses tersebut secara berulang-ulang, metode berpikir produktif tersebut akan terbentuk di dalam diri umat Islam. Sehingga, umat akan terbiasa menyelesaikan seluruh permasalahan yang dihadapinya maupun yang dihadapi umat dengan hukum-hukum dan aturan Islam yang telah dipahaminya.

 Jika ini dimiliki oleh umat, umat pun pasti akan mampu menyelesaikan problem yang mereka hadapi dengan Islam. Berpikir produktif dalam Islam bukan sekadar menyelesaikan masalah, melainkan menyelesaikan masalah tersebut dengan sudut pandang Islam dan menjadikan akidah Islam sebagai rujukan dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan kehidupan.

Tanpa berpikir produktif yang benar atau akibat berpikir politis yang lemah dan buruk, kondisi dan nasib buruklah yang akan menghinggapi umat Islam. Tanpa berpikir produktif yang sahih, umat Islam akan terhalangi dari upaya membebaskan diri dari cengkeraman hegemoni imperialisme yang kejam. Tanpa berpikir produktif yang sahih, umat Islam akan terhalangi pula proses kebangkitannya untuk menjadi umat terbaik yang diciptakan Allah untuk segenap umat manusia.

Sudah saatnya kita sadar, bahwa hanya dengan berpikir produktiflah umat Islam akan kembali menyandang gelar khairu ummah’ ‘sebaik-baik umat’. Karenanya, dibutuhkan upaya keras yang berkesinambungan untuk mewujudkannya di tengah-tengah umat, dengan cara melakukan pembinaan yang intensif dan pencerdasan pemahaman Islam kafah ke tengah-tengah umat. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews/Gz]

Sumber bacaan:

1. At-Tafkiir, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, 1973

2. Dirosaat fil Fikril Islamiy, Muhammad Husain Abdullah, 1990

3. Hakikat Berpikir, Syekh Taqiyuddin An Nabhani, 2003

4. Membangkitkan Taraf Berpikir Umat, Hafidz Abdurrahman, 2004.

Tinggalkan Balasan