Menelikung Makna Hadis atas Dasar Kemaslahatan

Sejak awal, ide kesetaraan gender menjadikan perempuan hidup sebebas-bebasnya tanpa aturan. Sebagai legitimasi agar paham tersebut seolah benar, tak segan mereka menafsirkan Al-Qur’an dan hadis sesuai dengan hawa nafsunya.

Penulis: Ustazah Kholishoh Dzikri

MuslimahNews.com, FOKUS — Baru-baru ini, diluncurkan buku dengan judul Perempuan (bukan) Sumber Fitnah yang ditulis oleh Dr. Faqihuddin Abdul Kodir. Buku ini ditulis dengan alasan untuk meluruskan makna hadis-hadis yang sudah populer di masyarakat yang dinilai telah mendiskreditkan perempuan (misoginis) dengan makna baru sesuai perspektif mubadalah (saling melengkapi untuk kemaslahatan bersama).

Di antara hadis yang dinilai misoginis adalah hadis yang menyebutkan bahwa perempuan adalah sumber fitnah bagi laki-laki, “Tidak sekali-kali aku tinggalkan suatu fitnah yang paling membahayakan diri kalian, selain fitnah perempuan.” (HR Bukhari).

Hadis tentang aurat perempuan, larangan khalwat, jihadnya perempuan di rumah tangga suaminya, keutamaan wanita salat di kamarnya, dan masih banyak lagi hadis tentang perempuan yang dinilai perlu dimaknai ulang agar tidak bias gender, sehingga laki-laki dan perempuan sama-sama berhak memperoleh kemaslahatan dan terhindar dari mafsadat.

Dalam mubadalah, kemaslahatan menjadi penentu relasi laki-laki dan perempuan. Agar kemaslahatan bisa diraih, Al-Qur’an dan hadis ditafsirkan dan dimaknai sesuai kemaslahatan yang mereka inginkan. Sebagai contoh, kewajiban mencari nafkah bagi laki-laki dinilai sebagai produk kebudayaan masa lalu, yang mana kesempatan bekerja di luar rumah terbuka lebar untuk kaum laki-laki, sedangkan sekarang kesempatan bekerja untuk perempuan terbuka lebar.

Karena itu, kewajiban nafkah semestinya tidak lagi dibebankan kepada laki-laki saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama agar perempuan juga mendapat kebaikan dengan menafkahi suami dan anak-anaknya.

Jadi, menurut penggiat mubadalah, kewajiban nafkah bukan atas dasar jenis kelamin, melainkan kesempatan dan kemampuan individu masing-masing. Mereka melandaskan pandangannya sebagai hasil dari pemaknaan perspektif mubadalah terhadap hadis dari Ibn Sa’d dalam Thabaqat-nya (Juz 1, hlm. 29, No. Hadis: 4239), Rasulullah saw. pernah didatangi perempuan pekerja bernama Ritah, istri Abdullah bin Mas’ud, dan ia menanyakan bagaimana hukumnya istri mencari nafkah untuk suami dan anak? Lalu, Nabi saw. menjawab bahwa ia memperoleh pahala dari apa yang ia nafkahkan pada suami dan anaknya.

Pemaknaan seperti itu tentu tidak sejalan dengan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 233, “Dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf..,” dan banyak hadis yang menjelaskan nafkah adalah kewajiban suami atas istri dan anak-anaknya, di antaranya hadis berikut, “Warisanku tak boleh dibagi-bagi dengan diuangkan dinar, apa yang kutinggalkan terkemudian sebagai nafkah istriku dan untuk mencukupi pegawaiku, itu semua adalah sedekah.” (HR Bukhari); serta masih banyak hadis lain yang menegaskan bahwa nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri.

Baca juga:  Program Perempuan SDGs, Sanggupkah Sejahterakan Perempuan?

Apabila saat ini ada banyak kesempatan perempuan untuk bekerja atau bahkan mengembangkan hartanya, tidak akan mengubah status perempuan menjadi wajib menafkahi keluarga. Selamanya perempuan tidak memiliki kewajiban menafkahi hatta dirinya sendiri, apalagi kewajiban menafkahi keluarga.

Akibat Sistem Ekonomi Kapitalisme

Kesulitan menafkahi keluarga yang banyak dialami laki-laki saat ini disebabkan karena sulitnya lapangan pekerjaan untuk mereka, ditambah lagi harus bersaing dengan perempuan yang juga berlomba mengais rezeki. Pada sisi lain, kehidupan serba mahal dan layanan yang harus berbayar menjadikan beban ekonomi keluarga menjadi kian berat.

Penerapan sistem ekonomi kapitalisme menjadi akar persoalan, bukan karena perempuan tidak memiliki kewajiban menanggung nafkah bersama laki-laki sehingga harus mengubah status hukumnya dari yang tidak wajib menjadi wajib.

Menjadikan kemaslahatan sebagai penentu status hukum suatu perbuatan artinya menjadikan akal sebagai sumber hukum, dan ini sangat berbahaya karena hukum akan berubah-ubah sesuai kemaslahatan yang hendak diraihnya. Jika akal dibiarkan menentukan kemaslahatan sendiri, padahal sejatinya akal memiliki kemampuan yang terbatas, pasti ia tidak akan mampu menjangkau hakikatnya.

Karena itu, kemaslahatan berdasarkan akal manusia hanyalah asumsi atau klaim yang akan menyeret manusia ke dalam kehancuran. Sebab, adakalanya manusia mengira suatu perkara mengandung kemaslahatan, tetapi akhirnya terbukti menimbulkan kemudaratan, demikian juga sebaliknya. Karena itu, kemaslahatan yang ditentukan oleh akal manusia pasti bersifat asumtif dan relatif belaka.

Kemaslahatan pada dasarnya adalah diperolehnya manfaat dan terhindarkannya kerusakan (jalb al-manafi’ wa daf’al-mudhirrah). Yang paling mengetahui sesuatu mengandung kemaslahatan atau kemudaratan hanyalah Allah Swt..

Walhasil, kemaslahatan yang hakiki pada dasarnya adalah kemaslahatan yang ditentukan oleh syariat. Penting untuk dipahami bahwa syariat pasti mengandung maslahat. Artinya, di mana ada syariat, di situ pasti ada maslahat. Sebagaimana dinyatakan kaidah ushul berikut,

Baca juga:  Perempuan Jadi Pimpinan Perusahaan, Solusi Keterpurukan?

*حَيْثُمَا كَانَ الشَّرْعُ فَثَمَّتِ اْلمَصْلَحَةُ*

“Di mana pun ada syariat, di situ pasti ada maslahat.”

Kemaslahatan syariat akan dirasakan oleh umat Islam manakala diterapkan secara keseluruhan, tidak parsial, karena satu syariat saling terkait dengan syariat yang lain.

Syariat kewajiban nafkah suami kepada istri terkait dengan syariat kewajiban negara menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Kewajiban negara menyediakan lapangan pekerjaan juga terkait dengan bagaimana negara berkewajiban mengelola kekayaan alam.

Demikian juga syariat kewajiban laki-laki menundukkan sebagian pandangan (ghadhul bashar), berkaitan dengan kewajiban perempuan menutup seluruh auratnya ketika di kehidupan umum, dan seterusnya.

Kemaslahatan yang selalu ditonjolkan dalam perspektif mubadalah sangat kental dengan ide kesetaraan gender yang terus dipropagandakan di tengah-tengah umat, khususnya para muslimah. Dengan jargon kemaslahatan yang hendak diraih bersama oleh laki-laki dan perempuan, mereka tidak segan untuk menyelewengkan makna hadis yang berkaitan dengan muslimah.

Kedudukan Laki-Laki dan Perempuan di Hadapan Syariat

Secara fitrah, laki-laki dan perempuan diciptakan Allah Swt. tidaklah sama. Masing-masing memiliki perbedaan dari sisi fisik maupun psikologi. Dengan kekhasannya, Allah Swt. memberi tugas khusus sesuai dengan kodratnya. Menyamakan laki-laki dan perempuan apalagi memaksakan perempuan menjalani tugas laki-laki, seperti mencari nafkah, akan memberikan beban ganda kepada perempuan dan itu akan sangat memberatkannya.

Perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga dan dilindungi. Karena itu, Islam telah menetapkan seperangkat aturan karena kasih sayang Allah Swt.. Larangan khalwat, perintah menutup aurat, keutamaan salat di rumahnya, medan jihadnya ada di rumah tangga suaminya, larangan bepergian tanpa mahram, dan lain sebagainya, bukan untuk membelenggu perempuan atau membatasi perempuan untuk melakukan kebaikan, tetapi justru untuk melindungi dan memuliakan perempuan.

Syariat Islam memberikan tugas dan tanggung jawab yang berbeda dengan laki-laki, baik dalam urusan domestik maupun peran publik. Maka, itu adalah ketentuan terbaik dari Allah Swt. untuk kemaslahatan masing-masing dan umat secara keseluruhan.

Sebagai manusia, laki-laki dan perempuan sama. Keduanya memiliki naluri yang sama, sama-sama memiliki akal, dan kebutuhan jasmani (hajatu al-‘udhawiyah) keduanya pun sama. Dalam kapasitas sebagai manusia (muslim/muslimah), laki-laki dan perempuan mendapat taklif hukum yang sama, baik dalam persoalan ibadah mahdhah seperti salat, zakat, puasa, haji, dll., juga dalam hukum-hukum muamalah seperti bekerja dan mengembangkan harta, serta keterlibatan dalam aktivitas politik berupa kewajiban amar makruf nahi mungkar. Perempuan dan laki-laki juga berkewajiban menuntut ilmu dan mengajarkannya.

Baca juga:  Pandemi Covid-19 Bebani Perempuan?

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan kesamaan laki-laki dan perempuan dalam kedudukan mereka sebagai seorang muslim/muslimah. Di antaranya Allah Swt. telah berfirman,

*إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا*

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35).

Rasulullah saw. juga memosisikan laki-laki dan perempuan sama dalam posisi mereka sebagai manusia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ath-Thabarani, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim (dan muslimah).” Hadis Nabi saw. ini menegaskan bahwa kaum perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki dalam hal menuntut ilmu.

Adapun posisi mereka sebagai laki-laki dengan kelelakiannya (maskulin, ed.), dan perempuan dengan keperempuanannya (feminin, ed.), Islam memberikan tanggung jawab hukum yang berbeda. Sebagai seorang laki-laki (suami), Islam mewajibkan mereka menafkahi istri dan anak-anaknya dengan cara yang makruf. Sebagai seorang perempuan, Islam mewajibkan menutup aurat dengan sempurna, larangan khalwat, dll..

Dalam kebaikan dan amal saleh, laki-laki dan perempuan diperintahkan berlomba-lomba untuk meraihnya dengan menjalankan kewajiban syariat sesuai porsi masing-masing, tidak dengan melakukan peran yang bukan perannya.

Seorang muslim dan muslimah yang mengharapkan rida Allah dan Rasul-Nya akan tunduk dengan ketentuan syariat yang telah ditentukan untuk diri mereka masing-masing, tanpa upaya menyelewengkan makna hadis dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan alasan apa pun, termasuk mubadalah. Waallahu a’lam. [MNews/Tim WAG-Gz]

*Artikel ini adalah pengantar dalam diskusi WAG Muslimah News ID pada Senin (13/9/2021)

Tinggalkan Balasan