Fikrul Islam

[Fikrul Islam] Islam Adalah Mafahim bagi Kehidupan, Bukan Sekadar Maklumat

Penulis: Muhammad Ismail

MuslimahNews.com, FIKRULISLAM — Mafahim Islam bukanlah pemahaman kepastoran, bukan pula informasi-informasi kegaiban tanpa dasar. Mafahim Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang memiliki penunjukan-penunjukan nyata yang dapat ditangkap akal secara langsung, selama masih berada dalam batas jangkauan akalnya. Namun bila hal-hal tersebut berada di luar jangkauan akalnya, maka hal itu akan ditunjukkan secara pasti oleh sesuatu yang dapat diindra, tanpa rasa keraguan sedikit pun.

Karena itu, seluruh mafahim Islam berada di bawah pengindraan secara langsung, atau pada sesuatu yang dapat diindra secara langsung yang menunjukkan adanya pemahaman itu. Dengan kata lain, seluruh pemikiran Islam merupakan mafahim. Sebab dapat dijangkau oleh akal atau ditunjuk oleh sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal.

Tidak ada satu pemikiran pun di dalam Islam yang tidak memiliki mafhum. Artinya, pemikiran itu memiliki fakta dalam benak dan dapat dijangkau oleh akal. Atau dapat diterima dengan sikap pasrah (memuaskan akal dan jiwanya) dan dipercaya secara pasti, bahwa faktanya ada di dalam benak dan apa yang menunjuknya dapat dijangkau oleh akal.

Dengan demikian di dalam Islam tidak ditemukan hal-hal gaib yang tidak masuk akal sama sekali (semacam dogma yang dipaksakan, pen.). Namun masalah-masalah gaib yang diharuskan Islam untuk diimani adalah masalah gaib yang dapat diterima melalui perantaraan akal, yaitu melalui sumber yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui akal, yang tidak lain adalah Al-Qur’an dan hadis-hadis mutawatir.

Berdasarkan hal ini, maka pemikiran-pemikiran Islam bersifat nyata, faktual, dan ada di dalam kehidupan. Sebab semua pemikiran-pemikiran ini memiliki fakta di dalam benak, didasarkan pada proses pengindraan, dan bersandarkan pada akal. Karena itu, sebenarnya akal manusia menjadi asas bangunan Islam, yakni akidah dan syariat Islam.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Perbuatan Manusia menurut Islam

Akidah dan hukum-hukum Islam merupakan pemikiran yang memiliki fakta dan dapat dijangkau dengan riil, baik itu berupa hal-hal gaib ataukah hal-hal nyata, juga keputusan akal terhadap sesuatu (ide), atau hukum atas sesuatu (pemecahan masalah), atau berita dari dan tentang sesuatu. Semuanya ini ada faktanya dan pasti adanya. Dengan kata lain, pemikiran-pemikiran Islam, hukum-hukumnya, hal-hal yang riil indrawi, atau hal-hal gaib, semuanya adalah kenyataan yang memiliki fakta di dalam benak dan bersandarkan pada akal manusia.

Akidah islamiah adalah keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Qada Kadar. Pembenaran terhadap semua ini dibangun dari kenyataan yang ada, dan tiap-tiap dari keimanan tersebut memiliki fakta di dalam benak.

Iman kepada Allah, Al-Qur’an, dan kenabian Muhammad saw. dibina di atas penemuan bahwa wujud (eksistensi) Allah itu azali, tidak ada awal dan akhir bagi-Nya. Akal telah menemukan secara indrawi bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah berdasarkan kemukjizatannya bagi manusia yang dapat diindra di setiap waktu. Akal pun telah menemukan secara indrawi bahwa Muhammad saw. adalah Nabi Allah dan Rasul-Nya berdasarkan bukti yang nyata bahwa beliau adalah yang membawa Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang membuat manusia tak berdaya untuk membuat yang semisalnya.

Maka ketiga hal ini, yaitu wujud (eksistensi) Allah, Al-Qur’an sebagai Kalamullah, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, dapat ditangkap oleh akal dengan perantaraan indra dan dapat diimani. Dengan demikian tiga hal di atas memiliki fakta yang dapat diindra dalam benak dan merupakan fakta yang nyata.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Seruan dan Bentuk Kalimat Perintah

Adapun Iman kepada malaikat, kitab-kitab sebelum Al-Qur’an (seperti Taurat dan Injil), Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah saw. (seperti Musa, Isa, Harun, Nuh, Adam as.), dibangun berdasarkan kabar dari Al-Qur’an dan hadis mutawatir. Kaum muslimin diperintahkan membenarkan adanya semua itu.

Itu semua memiliki fakta dalam benak, karena bersandarkan pada sesuatu yang terindra, yaitu Al-Qur’an dan hadis mutawatir. Berarti seluruhnya merupakan mafahim, sebab merupakan fakta dari ide-ide (Islam) yang dapat dijangkau dalam benak.

Sedangkan iman kepada qada dan kadar dibangun di atas akal berdasarkan pengamatan terhadap perbuatan manusia; bahwa perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia atau telah menimpa dirinya (arti qada); dan berdasarkan penangkapan secara akli dan indrawi, bahwa khasiat (karakteristik) yang dimiliki benda bukanlah diciptakan oleh benda itu sendiri (arti kadar). Buktinya, suatu pembakaran tidak akan terjadi kecuali dengan derajat panas atau aturan tertentu (misalnya pembakaran kayu perlu derajat panas tertentu yang lain dengan pembakaran besi, pen.).

Seandainya khasiat itu diciptakan oleh api itu sendiri, maka kebakaran itu dapat terjadi sesuai dengan kehendaknya, tanpa tergantung pada derajat panas atau aturan tertentu. Dengan demikian, jelaslah bahwa khasiat itu diciptakan Allah Swt., bukan ciptaan yang lainnya. Oleh karena qada dan kadar dapat ditangkap oleh akal secara langsung dengan perantaraan indra, maka keduanya itu diimani, menjadi fakta dalam benak, dan merupakan fakta yang terindra. Dengan demikian, keduanya merupakan mafahim, sebab merupakan fakta dari ide yang dijangkau dalam benak.

Baca juga:  [Fikrul Islam] Pemikiran Islam (Pendahuluan dan Definisi)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka akidah Islam merupakan mafahim yang pasti adanya dan pasti penunjukannya. Akidah Islam memiliki fakta dalam benak seorang muslim yang dapat mengindranya, atau mengindra sesuatu yang dapat menunjukkannya. Dengan demikian akidah Islam akan dapat memberikan pengaruh besar terhadap manusia.

Sedangkan hukum-hukum syarak kedudukannya adalah sebagai pemecah terhadap kenyataan atau problematika hidup manusia. Di dalam menyelesaikan semua problem hidup ini diharuskan terlebih dahulu mengkaji dan memahami masalah yang dihadapi. Lalu mempelajari hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan problem tersebut, dengan memahami nas-nas syarak yang berkaitan dengannya. Kemudian pemahaman tersebut dipertimbangkan untuk mengetahui apakah itu hukum Allah atau bukan.

Jika penerapan itu tepat, menurut pandangan seorang mujtahid, maka pemahaman itu pun merupakan hukum Allah. Jika tidak tepat, maka dicarilah makna atau nas lain, hingga ditemukan yang tepat dengan kenyataan itu. Dengan demikian, maka hukum-hukum syarak merupakan pemikiran yang memiliki fakta dalam benak (mafhum), sebab hukum-hukum syarak merupakan pemecahan yang dapat diindra untuk suatu masalah yang nyata, yang dipahami dari nas-nas yang ada.

Maka berdasarkan hal ini hukum-hukum syarak adalah merupakan mafahim. Dengan demikian sesungguhnya akidah Islam dan hukum-hukum syarak bukanlah pengetahuan yang semata-mata untuk dihapal, dan bukan pula sekadar pemuas akal. Namun keduanya merupakan mafahim yang mendorong manusia untuk berbuat, menjadikan perbuatannya selalu terkait, terikat, dan teratur karenanya.

Atas dasar inilah, maka seluruh ajaran Islam merupakan mafahim yang mengatur kehidupan manusia, bukan sekadar informasi atau pengetahuan semata. [MNews/Rgl]

Sumber: Al Fikru Al Islamiyu, Muhammad Ismail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *