Thariq bin Ziyad, Legenda Penaklukan Andalusia

Penulis: Ruruh Anjar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Tersebarnya Islam di Spanyol tak lepas dari peran penting panglima muslim terbaik yang menjadi legenda, Thariq bin Ziyad, yang bernama lengkap Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgha bin Walfajun Hibr Ghazin bin Walhas bin Yatuffath bin Nafzan. Dalam sejarah Spanyol, ia dikenal sebagai Thariq El-Tuerto atau Thariq yang mempunyai satu mata.

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko.

Masa kecilnya sama seperti masa kecil kebanyakan umat Islam saat itu, ia belajar membaca dan menulis, juga menghafal surah-surah Al-Qur’an dan hadis-hadis. Namun, Syekh Muhammad Sa’id Mursi menyebut Thariq bin Ziyad masuk Islam bersama kaumnya melalui perantaraan Musa bin Nushair.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah budak dari amir Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang. Setelah beberapa generasi kemudian, status Thariq sebagai budak dibantah oleh keturunan-keturunannya.

Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian salah seorang pasukannya, yakni Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.

Potret Spanyol Pra-Islam

Sejak 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Chadic dari Jerman, yang dipimpin oleh Raja Roderick yang zalim. Masyarakat Spanyol dibagi ke dalam lima kasta sosial. Kasta pertama keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kasta kedua diduduki para pendeta.

Baca juga:  Ramadan di Spanyol, Bumi Andalusia

Kasta ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperlakukan penguasa sebagai alat untuk memeras rakyat.

Kasta keempat para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat lainnya yang hidup pas-pasan. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Kasta kelima para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Mereka yang paling menderita hidupnya.

Akibatnya, rakyat Spanyol banyak yang hijrah, sebagian besar ke Afrika Utara. Di wilayah ini, di bawah pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Musa bin Nushair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan Gubernur Cheuta yang bernama Julian dan putrinya Florenda juga ikut mengungsi.

Orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menggulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.

Andalusia Takluk dengan Jihad

Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalusia. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukan Andalusia yang telah dirintis sebelumnya.

Pada Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7.000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Baca juga:  Aisyah al-Qurthubiyah, Ulama Perempuan "Kutu Buku"

Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya Perang Sidonia langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin.

Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.

Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5.000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari.

Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kukuh berjihad menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.

Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin Nushair bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

Dalam waktu dua tahun, pasukan Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad, berhasil menguasai seluruh daratan Spanyol. Portugis juga mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Algharb. Sungguh keberhasilan yang luar biasa.

Baca juga:  Aisyah al-Qurthubiyah, Ulama Perempuan "Kutu Buku"

Cahaya Islam Tersebar di Eropa

Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad tidak hanya mengalahkan penguasa-penguasa zalim di Eropa, tetapi mereka berhasil menaklukkan hati masyarakat Eropa dengan memeluk Islam. Dengan dakwah, mereka berhasil menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama mulia dan memuliakan manusia.

Manusia tidak lagi menghinakan diri mereka di hadapan sesama makhluk, kemuliaan hanya diukur dengan ketakwaan bukan dengan nasab, warna kulit, status sosial, dan materi. Musa dan Thariq juga berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk, hanya kepada Allah semata.

Melihat keberhasilan Musa dan Thariq menaklukkan Andalusia dan menanamkan nilai-nilai Islam di negeri tersebut, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik kemudian memanggil mereka kembali ke Damaskus. Setelah bertemu Khalifah Al-Walid, Thariq bin Ziyad ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk tidak kembali ke Spanyol atau Eropa. Ia sakit dan mengembuskan napas terakhirnya di Damaskus, Suriah, pada 720 M.

Jasa-jasa Thariq dan kepahlawanannya diabadikan dengan nama selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol dengan nama Selat Gibraltar. Gibraltar adalah kata dalam bahasa Spanyol, yang diartikan dalam bahasa Arab sebagai Jabal Thariq.

Perjuangan Thariq bin Ziyad dan kaum muslimin saat itu, memperlihatkan terwujudnya kewajiban dakwah dan jihad ke penjuru alam. Membawa dampak besar terhadap perkembangan peradaban, sebagaimana tergambar pada kemajuan Kota Cordoba.

Terbitnya cahaya Islam, hadir menerangi kegelapan benua Eropa. Kediktatoran dan hukum rimba, berganti dengan keadilan dan kedamaian melalui penerapan syariat Islam kafah, sebagai rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan