[Tapak Tilas] Uzbekistan, Gerbang Islam di Asia Tengah

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Pernahkah mendengar nama Kota Samarkand, Termez, dan Bukhara? Pada masa kejayaan Islam, kota-kota ini pernah menjadi pusat pengetahuan Islam yang sempat melahirkan beberapa ulama ternama di dunia.

Sebutlah Imam Bukhari atau Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (810—870 M). Beliau lahir di Bukhara. Dikenal sebagai ulama ahli hadis yang diakui periwayatannya memiliki derajat paling tinggi. Sampai-sampai di kalangan ahli ilmu beliau digelari Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal ilmu hadis).

Lalu ada Abu Laits as-Samarqandi (944—983M). Beliau dikenal sebagai ahli fikih, ahli hadis, dan ahli tafsir. Di antara karyanya adalah tafsir Bahrul Ulum atau tafsir al-Samarqandy, serta kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan bagi Orang-Orang yang Lalai) yang biasa diajarkan di pesantren-pesantren Indonesia.

Ada pula Imam Tirmidzi yang lahir di Termez. Beliau adalah salah satu murid Imam Bukhari yang akhirnya juga menjadi ahli hadis. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Sunan at-Tirmidzi.

Mereka hanya sebagian kecil saja dari nama-nama besar ulama dan cendekiawan muslim yang pernah lahir di salah satu kota ini. Masih ada deretan nama lain seperti tokoh pendiri tarekat Naqsabandiyah, tokoh muktazilah Al-Maturidi, bahkan Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi yang kehidupannya juga dinisbahkan ke kota-kota ini.

Posisi Strategis Uzbekistan

Ketiga kota itu merupakan kota-kota penting di wilayah Uzbekistan yang posisinya ada di kawasan Asia Tengah. Sebelum ditaklukkan oleh pasukan Islam, wilayah ini termasuk dalam wilayah pengaruh imperium Persia atau Sassanid.

Secara geografis, kawasan Uzbekistan ini memang dikenal sangat strategis. Selain menghubungkan wilayah Anatolia dan Laut Mediterania dengan Cina, juga menghubungkan antara Asia Selatan dengan Eropa dan Afrika. Wajar jika kawasan ini menjadi salah satu bagian Jalur Sutra Agung, sekaligus menjadi tempat bercampurnya berbagai peradaban di dunia. Bahkan, berbagai tempat di kawasan ini menyimpan banyak nostalgia masa lalu yang menjadikan Uzbek hari ini menjadi salah satu tempat ziarah terkemuka di dunia.

Kota Samarqand misalnya, menyimpan jejak penaklukan Alexander Agung (356—323 SM), Jengis Khan (meninggal 1227 M), dan Timur Lenk (1336—1405 M). Bahkan, patung dan makam Timur Lenk berdiri megah di kota ini. Maklum, penguasa turunan Turki Mongol ini pernah menjadikan kota ini sebagai ibu kota keamirannya yang membentang dari India hingga ke Turki, dan Rusia hingga Saudi.

Pada masa lalu, kota ini pun dikenal dengan keindahan dan keramaiannya di seantero dunia. Hingga para petualang dunia, tertarik mengunjunginya dan mencatat pengalaman mereka dalam buku harian mereka. Sebutlah nama Ibn Battuta dari Maroko (lahir 1304 M), Marco Polo dari Italia (1254—1324 M), dan lainnya.

Baca juga:  Laporan Pentagon Menimbulkan Pertanyaan tentang Kekuatan Militer AS

Disebutkan, kota ini begitu eksotis dan megah, penuh dengan istana dan masjid dengan menara-menara dan kubahnya yang indah dan berukuran besar. Begitu pun dengan madrasah, mausoleum, bahkan observatorium. Semuanya dibangun dengan tembok bercorak yang kondisinya masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Bangsa Pembela Islam

Pembebasan wilayah Uzbekistan oleh pasukan muslim beriringan dengan pembebasan ke wilayah kekuasaan Sassanid yang sudah dirintis oleh Khalifah Umar. Namun, wilayah ini baru benar-benar dibuka saat kekhalifahan berada di tangan Bani Umayyah, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Saat itu, sekitar tahun 712 M, atas perintah Khalifah, Gubernur Khurasan, Qutaibah bin Muslim, berhasil membebaskan Samarqand sebagai pembuka wilayah lainnya. Hingga kota ini pun kemudian dikenal sebagai jantung penyebaran Islam di Asia Tengah, Cina, hingga Rusia.

Ketika kekhalifahan beralih pada dinasti Bani Abbasiyah, wilayah Uzbekistan—terutama Kota Samarqand—menempati posisi sebagaimana kota-kota metropolis lainnya seperti Baghdad, Kairo, dan Cordoba.

Puncak kejayaan ilmu pengetahuan, seni, budaya, dan perdagangan pun terjadi di sana. Hal ini terus berlangsung hingga kekhalifahan berada di bawah Dinasti Utsmaniyah yang berpusat di Turki (1299—1924 M).

Dalam sejarah perkembangan Islam, muslim Uzbek berperan besar dalam menyebarkan Islam ke berbagai wilayah. Di antaranya ke kawasan India yang penduduknya masih beragama Hindu di bawah pimpinan Pangeran Zahiruddin Mohammad Babur. Di sana, pangeran keturunan Timur Lenk ini berhasil mendirikan keamiran Mughal pada tahun 1526 M dan berakhir pada 1857 M.

Kekuasaannya membentang di sebagian besar anak benua India (termasuk Pakistan dan Kashmir), Afganistan, dan Balochistan. Maka, di mata bangsa Uzbekistan, Pangeran Babur pun dipandang sebagai salah satu pahlawan besar.

Saat Uzbekistan Dikooptasi Rusia

Salah satu tantangan luar yang dihadapi Kekhalifahan Utsmaniyah di kawasan ini datang dari Kekaisaran Rusia. Keduanya kerap berperang memperebutkan wilayah kekuasaan, terutama karena keinginan Rusia merebut wilayah yang sudah menerima dakwah Islam.

Sejalan dengan kelemahan internal di tubuh Khilafah dan menguatnya kekuatan Rusia, beberapa wilayah Islam pun berhasil direbut oleh Rusia. Pada 1853 M misalnya, Rusia menyerbu Uzbek, khususnya wilayah Kokand dan Tashkent. Lalu pada tahun berikutnya (1866), Rusia mulai menggarap Samarkand dan Bukhara.

Jatuhlah wilayah-wilayah itu dan wilayah Asia Tengah lainnya ke dalam arena perebutan pengaruh dua kekuatan politik tersebut. Konflik makin panas saat Inggris berhasil merebut India dari Khilafah yang kian lemah dan berusaha meluaskan pengaruhnya ke Asia Tengah. Upaya Rusia pun makin keras agar bisa menguasai wilayah Asia Tengah termasuk di Uzbekistan dan berhasil dengan gemilang.

Sejak saat itu, sejarah Uzbek sebagaimana Asia Tengah lainnya berada dalam bayang-bayang Kekaisaran Rusia. Maka, kaum muslim di sana mulai mengalami kerasnya hidup di bawah kekuasaan Tsar Kristen Rusia.

Baca juga:  Ancaman Raja Salman Dinilai Tak Bisa Cegah Qatar Beli S-400 Rusia

Pada masa ini, kaum muslim mendapat tekanan yang luar biasa. Identitas kemusliman mereka dikikis dengan berbagai cara, terutama melalui peracunan budaya dan misionarisme. Tanah-tanah mereka dirampas dengan cara menyebarluaskan bank-bank riba.

Uzbekistan di Bawah Rezim Komunis

Penderitaan mereka bertambah-tambah saat di Rusia terjadi Revolusi Bolsevik yang menjatuhkan Tsar dari kekuasaannya. Rusia pun berubah menjadi negara berhaluan sosialisme komunisme dengan nama Republik Sosialis Uni Soviet hingga keruntuhannya pada 1991 M.

Pasca-Soviet runtuh, Uzbekistan tetap menerapkan sosialisme komunisme sebagai ideologi negara. Saat itu, Presiden Partai Komunis Uzbekistan pada masa Soviet bernama Islam Karimov, mendeklarasikan berdirinya Uzbekistan sebagai negara merdeka pada 31 Agustus 1991.

Ia dikenal memerintah Uzbek sebagai seorang diktator. Berbagai tindakan represif dilakukannya untuk membuat kaum muslim hidup dalam ketakutan. Pada masanya, penggunaan jilbab, jenggot, azan, dan sejenisnya, termasuk tindak kriminal. Bahkan, sterilisasi muslimah pun dilakukan masif pada masanya.

Hal ini dikarenakan, pasca-Uni Soviet runtuh, geliat kebangkitan Islam mulai bangkit ke permukaan sebagaimana yang terjadi juga di dunia internasional. Bahkan, di Asia Tengah, gerakan perubahan ke arah Islam ini dengan cepat berkembang dan mendapat dukungan besar.

Salah satunya adalah gerakan Hizbut Tahrir yang mendakwahkan kewajiban menegakkan kepemimpinan Islam (Khilafah Islam). Gerakan Islam ini berasal dari Al-Quds dan tumbuh berkembang menjadi gerakan yang bersifat internasional, serta menjadi musuh berbagai rezim sekuler di berbagai belahan dunia.

Saat berkembang ke Asia Tengah, gerakan ini pun menjadi musuh utama rezim diktator warisan Soviet, khususnya di Dagestan dan Uzbekistan. Kisah-kisah kekejaman rezim Karimov pada aktivis HT di wilayah ini sampai memicu protes masyarakat dan lembaga-lembaga HAM internasional.

Betapa tidak? Ribuan aktivis Islam dijebloskan ke dalam penjara dan dihukum dengan berbagai penyiksaan. Tak peduli apakah mereka laki-laki ataupun perempuan, hingga Karimov dikenal sebagai penguasa paling represif sedunia.

Namun, upaya tersebut tak menyurutkan tekad dan jiwa perjuangan mereka. Sampai-sampai pernyataan bergabung dengan gerakan Islam itu justru bisa terjadi di dalam penjara maupun di depan sidang pengadilan. Hingga dukungan dan keanggotaan pun tak lagi bisa dibendung.

Inilah yang membuat rezim penguasa ketakutan dan membuat kebijakan yang lebih represif dari sebelumnya. Terlebih ketika isu kebangkitan Islam dan Khilafah ini kian mendunia.

Negara-negara besar yang tadinya terpecah pun mulai bersatu padu menghadapi Islam melalui proyek perang global melawan terorisme. Serangan militer, serangan opini, dan penyesatan pun masif dilakukan dengan kendali lembaga-lembaga internasional.

Sejak saat itu, kondisi pergerakan Islam pun mulai kembali surut ke belakang, meskipun tak benar-benar hilang. Mereka bergerak di bawah tanah dan konsisten membawa visi perubahan ke tengah umat seraya menunggu pertolongan yang Allah janjikan.

Baca juga:  Konflik Rusia-Ukraina Meluas ke Gereja Ortodoks

Uzbekistan pada Masa Sekarang

Hari ini, Karimov memang sudah tak memerintah Uzbekistan. Kekuasaannya berakhir pada 2015 lalu digantikan oleh Shavkat Miromonovich Mirziyoyev yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Uzbekistan.

Di bawah kekuasaannya, umat Islam yang merupakan agama mayoritas mulai kembali beroleh ruang napas. Hal ini sesuai dengan penilaian Foreign Policy yang menyebut bahwa pada masa Mirziyoyev, Uzbekistan mengalami pencairan politik.

Antara lain ditandai dengan pembebasan ribuan tahanan politik dari kalangan aktivis Islam, serta dikeluarkannya nama belasan ribu aktivis Islam lainnya dari daftar hitam radikalis. Juga melalui pembukaan berbagai platform media online yang membuat ekspresi politik masyarakat kian tampak ke permukaan, baik yang bernapaskan liberalisme maupun Islam.

Namun pada akhirnya, kebijakan yang cair ini memang membuat pemerintah sendiri kelabakan, terutama ketika muncul friksi yang tajam antara kelompok liberal dan kelompok Islam yang mereka sebut radikal.

Pada Maret 2021 lalu misalnya, telah terjadi unjuk rasa kaum muslim memprotes gerakan LGeBeTQ yang berujung kekerasan. Sementara pada saat yang sama, seruan penegakan syariat Islam, seruan mengenakan jilbab, pelarangan hari raya sekuler, dan sejenisnya, juga makin kencang.

Tak heran jika penguasa mulai ketar-ketir. Apalagi desakan datang dari berbagai komunitas internasional, seperti organisasi HAM dan sejenisnya. Mereka rata-rata mengkritik sikap politik penguasa yang terlalu memberi kebebasan kepada Islam.

Sampai-sampai Foreign Policy pun akhirnya menyimpulkan bahwa pada tahun-tahun mendatang, pemerintah akan menghadapi tugas yang sulit dan tidak bisa lagi mengabaikan pergerakan umat muslim garis keras yang sekarang ini menuntut penafsiran ajaran Islam di luar kendalinya.

Khatimah

Tentu saja, apa yang disebut sebagai berita buruk bagi pemerintah sekuler dan dunia internasional kapitalis ini sejatinya merupakan kabar baik bagi umat Islam, karena spirit kebangkitan Islam ternyata tak pernah padam di dalam diri muslim Uzbekistan.

Terlebih tak dimungkiri, tanpa kepemimpinan Islam, nyatanya Uzbek tak mampu bangkit sebagai negara yang berdaulat, apalagi punya posisi politik di dunia internasional. Malah terus terposisi sebagai objek jajahan. Terbukti, saat ini, perekonomian Uzbek sangat tergantung pada pinjaman lembaga keuangan internasional seperti ADB dan WB.

Pada saat yang sama, pemerintah berusaha melobi negara-negara Barat, khususnya Amerika, agar mendukungnya untuk bergabung dalam keanggotaan WTO, sekaligus merintis kerja sama dengan Cina dalam proyek Jalur Sutra Perdagangan.

Maka, jalan satu-satunya yang harus ditempuh umat Islam di Uzbekistan adalah istikamah memegang dan memperjuangkan Islam, serta menyatukan diri dengan gerakan penegakan Islam di seluruh dunia hingga Islam dimenangkan. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan