[Nafsiyah] Kesalahan Sepenuh Bumi, Allah Tetap Ampuni

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Apa yang bisa kita perbuat ketika Allah telah memanggil ke hadapan-Nya dalam kondisi berlumur dosa? Tentu kita sangat mengkhawatirkan masa itu, saat harta, jabatan, dan anak-anak tidak berguna untuk diandalkan.

Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88—89).

Sebagai hamba-Nya kita berupaya untuk terus berbaik sangka kepada Allah Swt.. Dengan cara mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan  dan pertolongan dari-Nya.

Firman Allah Swt., “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS Ar-Ra’d: 6)

Maksud dari ayat di atas ialah Allah mempunyai ampunan dan maaf, serta menutupi kesalahan manusia sekalipun mereka berbuat zalim dan kesalahan pada waktu siang maupun malam harinya. Kemudian, ketetapan itu disertai ketetapan lainnya yang menyatakan bahwa siksa Allah amat keras. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut.

Rasulullah saw. pernah bersabda, ”Seandainya tidak ada pemaafan dan ampunan Allah, tentulah tidak seorang manusia pun yang hidup tenang dan seandainya tidak ada ancaman  dan siksa-Nya, niscaya semua orang akan bertawakal.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Baca juga:  Bertobatlah Sebelum Masa Itu Tiba

Kemudian, hadis qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda, Allah Swt. berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR Tirmidzi no. 3540)

Makna hadis di atas ialah walau seseorang mendatangi Allah dengan dosa sepenuh bumi dan ia memenuhi syarat yaitu berjumpa Allah dalam keadaan terbebas dari dosa syirik, maka ia akan memperoleh ampunan. Terbebas dari syirik kecil maupun besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Syirik itu ada dua macam, yaitu syirik besar dan kecil. Siapa yang bersih dari kedua syirik tersebut, maka ia pasti masuk surga. Barang siapa yang mati dalam keadaan bersih dari syirik besar, tetapi masih memiliki syirik kecil dan memiliki kebaikan lainnya yang mengalahkan dosa-dosanya maka ia masuk surga. Namun jika ia bebas dari syirik besar akan tetapi ia masih memiliki syirik kecil yang banyak sehingga kejelekannya mengalahkan timbangan kebaikan, maka ia masuk neraka. Kesimpulannya, setiap hamba harus terbebas dari kedua syirik tersebut, kalau pun  memiliki syirik kecil dan jumlahnya sedikit. Namun ia memiliki keikhlasan dalam dirinya, ia tidak disiksa oleh Allah Swt..” (Taisirul ‘Azizi Hamid, 1: 247)

Baca juga:  [Nafsiyah] Masihkah Mau Bermaksiat, Enggan Bertobat?

Syirik ialah mempersekutukan Allah dengan menjadikan sesuatu sebagai obyek pemujaan dan atau tempat menggantungkan harapan dan dambaan. Menurut Ibnu Manzur, kata syirik berasal dari kalimat fi’il madhi yaitu “syaraka” yang bermakna bersekutu dua orang misalnya seseorang berkata, “A asyraka billah,” artinya bahwa dia sederajat dengan Allah Swt..

Syirik besar (kabair) yaitu mempersekutukan Allah Swt.. Syekh Syamsudin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz at-Turkmaniy mencontohkan syirik kepada selain Allah Swt. yaitu menyembah pohon, batu, matahari, bulan, nabi, guru, binatang. dll..

Syirik kecil yaitu menyertai amal dengan ria (bangga, ed.). Allah Swt. berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah dia mengerjakan amalan yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS Al-Kahfi: 110)

Artinya, amalan-amalan yang dikerjakan, selain mengharapkan rida Allah Swt., juga dapat membatalkan pahalanya serta menjadikannya bagai debu yang beterbangan.

Rasul saw. bersabda, “Jauhilah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Ria.” Pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan manusia, Allah Swt. berfirman, “Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amalan-amalan kalian. Lalu lihatlah, Adakah pahala yang disediakannya?” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Baca juga:  Ramadan Bulan Tobat

Saudariku, untuk itu, kita terus berupaya menjaga diri dari perbuatan syirik. Agar Allah berkenan mengampuni segala dosa-dosa kita meski sepenuh bumi. Akan jauh lebih mudah dan tenang saat kita hidup dalam naungan Islam karena penjagaan diri terhadap perbuatan syirik bisa maksimal.

Sementara, saat hidup dalam sistem kufur bernama demokrasi, kita akhirnya terbiasa melihat perilaku maksiat dan pelakunya yang justru difasilitasi oleh negara. Bukan suasana keimanan yang kita dapatkan, melainkan suasana penuh dengan kemaksiatan. Astaghfirullah. [MNews/Rndy-Gz]

Tinggalkan Balasan