Mempersiapkan Anak Menjadi Bagian Umat Terbaik

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, KELUARGA — Adalah wajar jika setiap orang tua berharap kehidupan yang terbaik bagi anaknya kelak. Anak yang sukses, bahagia di dunia juga akhiratnya. Maka, sudah seharusnya setiap orang tua muslim menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh/salihah, berilmu, berbakti tidak hanya kepada orang tuanya, juga berkontribusi positif bagi masyarakat bahkan negara.

Buah yang akan dipetik sangat bergantung kepada benih yang ditanam. Begitu pula kondisi serta kualitas lingkungan di mana pohon itu tumbuh.

Umat Terbaik menurut Islam

Sudut pandang orang tua berperan penting dalam perjalanan proses perkembangan anak, sehingga orang tua akan menuai hasil sesuai dengan harapan mereka. Maka, Islam harus menjadi sudut pandang setiap orang tua muslim dalam menilai dan memutuskan apa pun di dalam hidup. Termasuk dalam mempersiapkan anaknya menjadi bagian barisan umat terbaik (khairu ummah).

Allah Swt. telah memberikan kriteria umat terbaik di dalam firman-Nya,

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Swt.. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imran: 110)

Syekh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menafsirkan ayat ini, bahwa kamu adalah umat yang dijadikan Allah sebagai umat yang terbaik, kalian telah menjadi ketetapan Allah atas hal ini.

Baca juga:  [News] Masihkah Umat Islam sebagai Khairu Ummah?

Umat Islam adalah umat terbaik secara mutlak. Mereka adalah umat yang telah dipilih sebab mereka diperintahkan untuk menyeru kepada yang makruf, yaitu yang baik sesuai perintah syariat; dan mencegah dari yang mungkar, yaitu segala perkataan, perangai, atau perbuatan yang bertentangan dengan syariat. Juga sebab bahwa mereka beriman kepada Allah dan meyakini bahwa Allah tidak mempunyai sekutu.

Allah Sayang Hamba-Nya yang Beramar Makruf Nahi Mungkar

Amar makruf nahi mungkar merupakan aktivitas dakwah yang dilakukan oleh hamba pilihan Allah, sehingga mereka akan mendapat gelar umat terbaik. Bercerita kepada anak tentang aktivitas amar makruf nahi mungkar yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabatnya, menjadi motivasi awal bagi anak bahwa ini adalah aktivitas manusia mulia yang disayangi dan dicintai Allah Swt..

Selanjutnya adalah mengenalkan kepada anak apa saja yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, juga apa saja yang tidak boleh dilakukan anak karena Allah dan Nabi Muhammad saw. melarangnya. Tidak hanya memberitahu anak, upaya berikutnya yang dilakukan orang tua adalah mengajak mereka untuk melaksanakan syariat Islam.

Orang tua mencontohkan bagaimana dorongan keterikatannya terhadap syariat adalah karena keimanannya kepada Allah Swt.. Di samping itu, anak juga dipahamkan bahwa akan ada cobaan saat dia melakukan ketaatan. Malas, godaan kesenangan dunia, dicap sok alim, adalah contoh cobaan ketika anak ingin terikat dengan syariat, termasuk ketika mulai beramar makruf nahi mungkar.

Baca juga:  [News] Cendekiawan Muslim: Perubahan Standar Pendidikan Tidak Masalah, Selagi Mampu Menyiapkan Manusia Segala Zaman

Umat Terbaik adalah Problem Solver Bukan Trouble Maker

Harus dipahami oleh orang tua bahwa umat terbaik itu pemberi solusi bukan pembuat masalah. Anak yang terbiasa melakukan yang makruf dan meninggalkan yang mungkar, akan peka jika dia menemui hal yang tidak sesuai Islam terjadi di sekitarnya. Ini adalah masalah yang harus dia sampaikan bagaimana seharusnya, tentu dengan bahasa anak.

Pada hakikatnya, anak saleh ini akan memberi solusi terhadap permasalahan yang terjadi. Tidak hanya problem yang terjadi pada dirinya, tetapi juga yang dialami teman-temannya. Anak akan terhindar dari cap pembuat masalah.

Umat terbaik ini sejak dini telah belajar menjadi manusia yang memberi manfaat bagi manusia lain. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Allah Swt. berfirman, “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri…” (QS Al-Isrâ: 7).

Si problem solver tidak hanya menyampaikan mana yang makruf dan mana yang mungkar, tetapi juga mengajak dan membantu temannya untuk terikat dengan syariat Islam. Orang tua senantiasa mengingatkan akan kebaikan yang dilakukan anak untuk orang lain harus didasari keimanan dan ikhlas semata karena Allah, menjalankan perintah-Nya dan hanya berharap diberi imbalan oleh Allah Swt..

Baca juga:  Dari Buih di Lautan Menuju Gelombang Kebangkitan, Bangunlah Wahai Raksasa yang Tertidur!

Nabi saw. bersabda, “Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR Bukhari). “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR Turmudzi).

Inilah upaya orang tua agar anak berbahagia di dunia sebab keberkahan hidup yang dia peroleh dari Sang Pencipta. Juga berbahagia di akhirat karena mendapatkan rida dan rahmat dari Allah Swt.. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan