Hari Kesehatan Seksual Sedunia, Kasus Kekerasan Seksual Anak Meningkat, Benarkah Pendidikan Seks dan Kespro Solusinya?

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, ANALISIS — Tanggal 4 September dijadikan Hari Kesehatan Seksual Sedunia. Namun mirisnya, kasus kekerasan seksual pada anak makin meningkat. Dalam laporan yang diterima KPAI, jumlah anak sebagai korban kekerasan seksual meningkat dua kali lipat pada masa pandemi. Dari 190 kasus (2019) menjadi 419 kasus (2020).

Peningkatan kasus selama pandemi juga terjadi terhadap anak yang menjadi korban kejahatan seksual online, dari sebelumnya 87 laporan, menjadi 103 laporan. Selain itu, kasus anak yang mengoleksi konten pornografi meningkat empat kali lipat dari masa sebelum pandemi. Semula 94 kasus, menjadi 389 kasus. (bbc.com/indonesia/majalah)

Melalui anggotanya, Ai Maryati Solihah, KPAI menilai hak anak untuk mengakses pendidikan seks dan kesehatan reproduksi (kespro) yang tersumbat merupakan “rangkaian” yang menyuburkan krisis kekerasan seksual anak paad masa pandemi. Minimnya pengetahuan siswa tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini secara tidak langsung ikut menyumbang angka kehamilan yang tak diinginkan, kasus aborsi, pernikahan usia anak, sampai kematian ibu saat melahirkan.

Sejauh ini, pemerintah telah melakukan internalisasi atau menyisipkan pendidikan kespro dan seksualitas dalam Kurikulum 2013 melalui mata pelajaran lainnya, seperti biologi, pendidikan olah raga, dan pendidikan agama.

Situasi makin buruk, karena tak banyak sekolah yang menerapkan program pendidikan seks dan kespro dalam mata pelajaran dengan alasan tabu atau karena keteteran dengan mata pelajaran utama.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kemendikbudristek, Samto, mengakui pendidikan seks dan kespro terbatas. Pemerintah khawatir, peserta didik justru mencari lebih jauh konten negatif lewat internet selama pembelajaran jarak jauh. (bbc.com/indonesia/majalah)

Jika kita cermati beberapa pernyataan ini, bisa kita simpulkan bahwa sebagian kalangan menilai bahwa kekerasan seksual yang makin marak—terlebih pada masa pandemi—terjadi karena minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kespro akibat tersumbatnya peserta didik untuk mengakses pendidikan seks dan kespro.

Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa dengan menerapkan program pendidikan seks dan kespro dalam mata pelajaran di sekolah, terlebih menjadikannya sebagai mata pelajaran utama, dinilai akan memberikan solusi terhadap permasalahan ini. Benarkah demikian?

Mencari Akar Masalah

Tidak dimungkiri, berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk pendidikan seks dan kespro yang sudah diwacanakan sejak lama. Bahkan, sudah ada beberapa sekolah yang dijadikan percontohan. SMPN 22 Semarang adalah satu dari tiga sekolah percontohan dari 3.357 SMP se-Jawa Tengah. Sejak 2017, sekolah ini menerapkan paket materi dalam Modul Semangat Dunia Remaja (Setara) yang disampaikan guru bimbingan konseling.

Kebanyakan sekolah menyisipkannya ke dalam mata pelajaran utama, seperti biologi, pendidikan olah raga, dan agama. Namun, belum ada data yang menunjukkan evaluasinya, bahkan terdapat sekolah-sekolah yang menolak kerja sama untuk pendidikan seks dan kespro dengan alasan tabu. (bbc.com/indonesia, 4/8/2021).

Survei terakhir PKBI dan sejumlah lembaga lainnya menunjukkan hanya 27,9% siswa remaja yang mengetahui hak kesehatan reproduksi mereka. Hanya 26,7% siswa mengetahui apa saja layanan reproduksi itu, 12,7% yang memahami proses pubertas, serta hanya 8,5% memahami sistem organ reproduksinya. Hal ini disebut PKBI akibat minimnya informasi dari sekolah maupun luar sekolah. (cnnindonesia)

Jika kita mau jujur, sesungguhnya pendidikan seks dan kespro telah nyata tidak mampu menghentikan kekerasan seksual terhadap anak, bahkan kasusnya makin meningkat. Sebab, apabila kita cermati, upaya ini belum menyentuh akar persoalan. Jalan untuk menyelesaikan kasus ini dengan pendidikan seks dan kespro pada anak adalah solusi parsial semata.

Baca juga:  Kejahatan terhadap Anak Beranak Pinak, Masihkah Bertahan dengan Sistem Rusak?

Persoalan kekerasan seksual yang terjadi pada anak tidak akan pernah selesai selama sistem yang menguasai dunia adalah sistem yang dibuat manusia yang mengutamakan pemenuhan nafsu. Sekularisme dengan paham-paham turunannya yang batil—liberalisme dan materialisme—yang diemban negeri ini memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah. Terlebih lagi, lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kafah, sehingga Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja.

Kini, makin banyak keluarga yang sekuler, cenderung berlepas tanggung jawab dalam membina ketaatan anak-anaknya kepada Sang Khalik. Berbekal minimnya pembinaan ketaatan dari keluarga, mereka pun memasuki dunia pendidikan di sekolah yang juga tak memberinya cukup imunitas terhadap derasnya serangan liberalisasi. Apalagi, kini sekolah sudah makin kapitalistik dengan kecenderungannya menitikberatkan aspek kognitif dan kemampuan akademis, serta mengabaikan target-target pembentukan kepribadian dan perilaku saleh pada peserta didik.

Adapun masyarakat, kian kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara, tak mampu menjadi pengurus dan penjaga umat akibat sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha, bahkan sibuk berdagang dengan rakyatnya.

Jika sistem sekuler kapitalisme yang mengusung liberalisme telah terbukti justru melahirkan maraknya kekerasan terhadap anak, sudah selayaknya sistem ini kita buang jauh-jauh dari kehidupan umat yang mayoritas muslim ini. Demikian halnya, berharap kepada negara sekuler yang akan memfungsikan dirinya sebagai pengayom dan pelindung anak-anak, hanyalah mimpi.

Pendidikan Seks dan Kespro Mampukah Menyelesaikan Masalah?

Negeri ini telah menjalankan sistem sekuler dalam hampir seluruh lini kehidupan, termasuk sistem pendidikan. Akidah Islam tidak dijadikan asas dalam penyelenggaraan pendidikan bagi rakyatnya. Sebaliknya, pendidikan nasional diselenggarakan dengan konsep pemisahan antara agama dan materi ajar, serta tata cara penyelenggaraannya.

Dari sisi kualitas, sistem pendidikan nasional juga telah benar-benar dijauhkan dari akidah Islam yang mengharuskan setiap muslim tunduk patuh kepada Allah Swt., sekaligus tidak menyiapkan guru sebagai pembimbing dan pendidik yang bertanggung jawab atas pembentukan kepribadian siswa. Akhirnya, siswa dipaksa menjadi robot pengejar ilmu keduniawian hingga melupakan urusan akhirat.

Nah, ketika peserta didik tidak lagi berada dalam suasana takwa, mereka lebih mudah terseret arus liberalisasi. Masifnya gelombang “pembaratan”, terutama yang menyangkut perilaku remaja, begitu mudah merasuk tatkala mereka tidak terformat sebagai manusia yang berkepribadian Islam.

Di satu sisi, lembaga pendidikan sebenarnya menjadi tempat yang cukup efektif untuk membentuk kepribadian Islam, di samping peran keluarga. Kenyataannya, sistem pendidikan sekuler saat ini gagal menyelamatkan generasi dari liberalisasi seks karena mereka menjauhkan agama.

Baca juga:  Tidak Ada Urgensi Pengesahan RUU P-KS bagi Penyelesaian Kasus Kekerasan Seksual

Maka, muncullah gagasan memasukkan kurikulum pendidikan seks. Kekosongan bahan ajar yang berkaitan dengan pendidikan yang sangat diperlukan generasi muda ini kemudian dituangkan dalam bentuk penyajian pendidikan seks. Andai saja pendidikan agama mengajarkan cara memelihara organ reproduksi, cara menjaga hubungan atau interaksi dengan lawan jenis, menjelaskan tentang proses penciptaan manusia, dan sebagainya, maka tidak diperlukan lagi kurikulum khusus pendidikan seks.

Demikian juga dengan mata pelajaran lain, semestinya senantiasa mengaitkan pembahasannya dengan pokok-pokok ajaran Islam, misalnya pembahasan reproduksi manusia pada pelajaran biologi dikaitkan dengan hukum-hukum syariat, seperti haramnya melahirkan keturunan dari perzinaan.

Dengan demikian, tidak perlu susah-susah menjelaskan bagaimana mencegah kehamilan tak diinginkan apabila mereka memahami bahwa seorang muslimah dibolehkan hamil hanya dalam ikatan pernikahan. Namun sayangnya, semua ini tidak ada dalam pendidikan sekuler yang saat ini dijalankan.

Sistem pendidikan sekuler juga tidak mampu memberikan suasana takwa kepada peserta didik. Ini terlihat dari tata cara penyelenggaraan pendidikan yang cenderung liberal. Misalnya, tidak memisahkan laki-laki dan perempuan, tidak mewajibkan siswa putri menutup aurat dengan benar, membiarkan siswa berlainan jenis berkhalwat, berpacaran, berpegangan tangan, dan sejenisnya. Bahkan, aktivitas pacaran dianggap lumrah bagi muda-mudi. Kondisi ini turut memicu pergaulan bebas. Inilah salah satu kelemahan sistem pendidikan sekuler.

Demikianlah, gagasan kurikulum pendidikan seks—baik dalam bentuk mata ajaran khusus maupun terintegrasi dengan mata pelajaran lain—dijadikan sebagai bentuk penyempurnaan sistem pendidikan yang rusak. Parahnya, dianggap sebagai solusi di tengah kerusakan sistem pendidikan. Padahal, persoalannya tidak hanya pada kurangnya bahan ajar pendidikan seks, tetapi juga penyelenggaraan pendidikan, seperti kualitas guru, hubungan pendidik dan peserta didik, hubungan antarpeserta didik, peraturan dan sanksi yang diterapkan, suasana sosial, dan lain-lain.

Membentuk remaja berkepribadian Islam yang mampu menangkal serangan liberalisasi sebenarnya bisa dilakukan oleh sekolah. Akan tetapi, hal itu hanya bisa dilakukan oleh sistem pendidikan Islam yang didukung sistem masyarakat yang islami pula. Karena itulah, seharusnya yang dilakukan umat saat ini adalah mengganti sistem pendidikan sekuler tersebut dengan sistem pendidikan Islam.

Islam Punya Solusi

Islam, sebuah sistem kehidupan yang paripurna, telah memberikan tanggung jawab yang demikian sepadan kepada kaum muslimin—individu, keluarga, masyarakat, terlebih lagi negara—untuk melindungi setiap anggota keluarga. Dalam keluarga, ayah bertanggung jawab memberikan nafkah pada istri dan anak-anaknya, juga menjaga keamanan mereka dari berbagai gangguan.

Di level masyarakat, setiap anggota masyarakat ada kewajiban untuk saling beramar makruf nahi mungkar, tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, kepada siapa saja. Termasuk saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat dan saling menjamin rasa aman lingkungan. Sebab, Islam sangat memperhatikan kesehatan masyarakat.

Sedangkan negara, ia adalah pihak yang memiliki tanggung jawab penuh atas rakyatnya. Negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam persoalan masyarakat, hingga individu per individunya.

Baca juga:  Islam, Solusi Atas Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Anak

Dalam Islam, tanggung jawab negara diserahkan kepada kepala negara, yaitu khalifah. Sebagai raain, kepala negara harus melindungi rakyatnya dari segala mara bahaya. Ia bertanggung jawab untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sekaligus menerapkan sanksi terhadap pelaku penyimpangan terhadap syariat Islam.

Ssyariat Islam memiliki sejumlah aturan yang berkaitan dengan penanaman pemahaman agar setiap muslim bertanggung jawab atas kehormatan dirinya (Lihat QS An-Nuur: 30—31) . Hukum Islam juga mengatur apa yang mesti dilakukan bila kebetulan libido mereka muncul. Islam bahkan mengatur kehidupan masyarakat agar interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan tidak menimbulkan rangsangan seksual, baik dalam kehidupan umum dan khusus. Semua itu tercakup dalam hukum-hukum pergaulan dalam Islam.

Aturan Islam tersebut juga mengatur bagaimana rangsangan seksual boleh dimunculkan (yaitu dalam hubungan pernikahan) dan menjaga dari perilaku dan segala hal yang memunculkan rangsangan seksual.

Dengan penerapan aturan ini, siapa pun akan dijauhkan dari pergaulan bebas. Oleh karena itu, solusi bagi meningkatnya kasus kekerasan seksual baik yang menimpa anak-anak, remaja atau dewasa sebenarnya adalah dengan menerapkan hukum-hukum pergaulan Islam.

Di sisi lain, jika negara memiliki kapasitas menerapkan hukum Islam dalam semua persoalannya, tentu kemunculan kasus pergaulan bebas akan segera diminimalisir. Di antaranya adalah melalui sanksi tegas dan kebijakan yang mengikat, baik bagi pelaku seks bebas maupun para pemilik modal yang mendapatkan keuntungan dari bisnis seks ini.

Selama ini, kebijakan setengah hati inilah yang membuat pelaku menyimpang ini bertebaran di mana-mana. Memblokir situs porno, menjatuhkan sanksi tegas pengedar pornografi dan pelaku pornoaksi, menghentikan kondomisasi dan lokalisasi miras maupun PSK, hingga kebijakan pendidikan yang integral dengan akidah dan hukum syariat Islam menjadi prioritas utama negara untuk menyelesaikan persoalan ini.

Di samping itu, keluarga sebagai benteng terakhir pembinaan dan pengamanan anggota keluarga selayaknya mengambil peran lebih. Mereka berkewajiban memberikan pemahaman keislaman yang kuat kepada anak-anak, sekaligus mengawasi perilaku dan mendorong mereka untuk terlibat dalam berbagai aktivitas produktif dan menghindarkan dari pelampiasan energi secara keliru. Orang tua tak perlu latah ikut-ikutan memberikan pendidikan seks yang justru hanya akan menggairahkan rangsangan seksual mereka.

Khatimah

Telah sangat jelas, pendidikan seksual dan kespro bukanlah solusi bagi permasalahan kekerasan seksual pada anak. Faktanya, kasusnya makin marak akibat cengkeraman ideologi kufur sekuler kapitalisme yang menumbuhsuburkan kebebasan.

Oleh karena itu, satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah dengan mencabut akar ideologi kufur tersebut dan menanamkan ideologi Islam yang terbukti sahih dan membawa kebaikan bagi manusia di dunia dan akhirat.

Semoga kita semua makin menyadari pentingnya kembali kepada sistem Islam dan menjadikannya satu-satunya sistem yang mengatur kehidupan manusia. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan