Berpolitik sebagai Kewajiban bagi Kaum Muslimin (Bagian 1/2)

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ اَصْبَحَ وَهَمُّهُ غَيْرِاللهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ وَمَنْ اَصْبَحَ لاَ يَهْتَمْ بِالْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barang siapa di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas diri dari orang itu. Dan barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).”

Rasulullah saw. juga bersabda,

وَكَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الْأَنْبِياَءِ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِي خَلَفَهُ نَبِيَ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَ بَعْدِي وَسَتَكُونُ  خَلَفَاءُ فَتَكْثُرُ

“Bani Israil dulu dipimpin oleh para nabi.Tatkala seorang nabi wafat, maka diganti dengan nabi baru, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku tetapi akan ada para khalifah yang jumlahnya banyak (artinya, para khalifah akan memimpin kalian–penj.)”.

Sabda Rasulullah yang lain,

سَتَكُوْنُ اَمَرَاءٌ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ فَمَنْ عَرَفَ فَقَدْ بَرِيِءَ وَمَنْ اَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنَّ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَلُوْا اَفَلاَ نُقَاتِلُهُمْ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ لاَمَاصَلُّوْا

“Nanti akan muncul di antara kalian berbagai tingkah laku penguasa (tindakan mereka) ada yang kalian anggap baik dan ada yang kalian pandang salah. Siapa saja yang menolak tindakan salah mereka (minimal dalam hati), maka dia bebas (dari dosa). Siapa saja yang ingkar, dia juga selamat (dari dosa). Namun siapa saja di antara kalian yang merasa rela bahkan mengikuti (perbuatan-perbuatan yang salah itu), maka dia telah berdosa.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak lebih baik mereka itu diperangi saja ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, selama mereka menegakkan salat (hukum-hukum Islam).”

Sabda beliau yang lain,

Baca juga:  Prof Yusril Ihza Mahendra: HTI Bukan Organisasi Terlarang, Anggotanya Tetap Boleh Berdakwah

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةٌ وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَنَصِحَهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang lalim lalu menasihatinya, kemudian ia dibunuhnya.”

Dari Ubadah bin Shamit,

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَالِهِ وَسَلَّمَ فَبَا يَعْنَاهُ فَقَالَ فِيْمًا اَخَذَ عَلَيْنَا اَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرِهِنَا وَعُسْرِنَا وَيَسِّرْنَا وَأَثَرِهِ عَلَيْنَا, وَاَنْ لاَ نَنَازِعَ الْأَمْرَ اَهْلَهُ اِلاَّ اَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَواَحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah mengajak kami (untuk membaiatnya) lalu kami berbaiat pada beliau (kemudian beliau mengajarkan kepada kami bagaimana kami harus berbaiat) lalu kami berbaiat kepadanya, untuk setia mendengarkan dan menaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi atau tidak kami sukai, pada saat sulit maupun lapang. Juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin kecuali kalau kalian melihat kekufuran secara terang-terangan yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah.”

Hadis-hadis ini menjelaskan bahwa berpolitik adalah fardu. Politik menurut bahasa adalah pemeliharaan (pengurusan) kepentingan. Dalam kamus dikatakan,

“Sustu ar ra’iyata siyasatan, ai amartuha wa nahaituha, ai ra’itu syu’unaha bil awamir wan nawahi.” (Aku memimpin rakyat dengan sungguh-sungguh, yaitu aku memerintah dan melarangnya, atau aku mengurusi urusan-urusan mereka dengan perintah dan larangan-larangan tertentu).

Baca juga:  Ketika Suami Futur Berdakwah

Memperhatikan (mempedulikan) kaum muslimin adalah kepedulian terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Kepedulian terhadap kepentingan mereka artinya mengurusi kepentingan mereka serta mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyatnya. Mengingkari (kejahatan) penguasa termasuk berpolitik dan peduli terhadap kepentingan umat Islam, menasihati pemimpin yang lalim adalah juga bentuk kepedulian terhadap kepentingan kaum muslimin, mendongkrak otoritas penguasa (yang tidak islami) yaitu memeranginya merupakan kepedulian terhadap kepentingan kaum muslimin dan mengurusi persoalan-persoalan mereka.

Hadis-hadis di atas menunjukkan adanya tuntutan yang tegas, yakni Allah telah menuntut kaum muslimin dengan tuntutan yang tegas agar mempedulikan kepentingan kaum muslimin, yaitu agar mereka berpolitik. Dan ini berarti bahwa berpolitik itu hukumnya fardu bagi kaum muslimin.

Menyibukkan diri dalam politik, yakni memperhatikan kepentingan kaum muslimin, adalah dengan cara menolak tindakan aniaya penguasa serta aniaya musuh terhadap mereka. Karena itu, hadis ini tidak hanya berisi penolakan terhadap aniaya yang dilakukan oleh penguasa saja, melainkan juga mencakup keduanya. Hadis,

مَنْ لَمْ يَهْتَمْ بِالْمُسْلِمِنَ

“Barang siapa yang tidak memperhatikan kaum muslimin.”

berbentuk umum.

Kata Yahtamma (memperhatikan) berarti memimpin kaum muslimin. Sedangkan kata “al muslimin” itu sendiri adalah umum, karena ia berbentuk jamak (banyak) yang disertai dengan alif dan lam. Maka itu berarti perhatian tersebut tertuju kepada kaum muslimin secara umum, serta kepada apa saja yang terkait dengan kaum muslimin.

Baca juga:  Pentingnya Keyakinan di Jalan Dakwah

Ada hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata,

اَتَيْتُ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : اُبَايَعْكَ عَلَى اْلإِسْلَامِ, فَشَرَطَ عَلَيَّ النَّصِحُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku mendatangi Nabi saw. lalu aku berkata, ‘Aku membaiatmu berdasarkan Islam.’ Maka beliau menyaratkan agar aku memberi nasihat pada semua muslim.”

Lafadz An Nushhu (nasihat) dalam hadis itu berbentuk umum. Termasuk di dalamnya adalah menolak tindakan zalim penguasa dan kelaliman musuh (Islam) terhadap kaum muslimin. Hal itu berarti menyibukkan diri dalam berpolitik dalam negeri untuk mengetahui kebijakan yang diberlakukan penguasa terhadap rakyatnya, dalam rangka mengoreksi tindakan-tindakan mereka.

Di samping itu, berarti pula menyibukkan diri dalam berpolitik luar negeri untuk mengetahui strategi-strategi makar (tipu daya) negara-negara kafir terhadap kaum muslimin, dalam rangka membeberkannya kepada mereka serta berupaya mewaspadainya dan menolak ancamannya.

Berdasarkan hal tersebut, yang fardu itu tidak hanya menyibukkan diri dalam berpolitik dalam negeri saja, melainkan menyangkut juga berpolitik luar negeri. Karena yang wajib itu adalah menyibukkan diri dalam berpolitik secara mutlak, baik berupa politik dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena aktivitas-aktivitas penguasa bersama-sama dengan negara-negara lain adalah bagian dari politik luar negeri, maka salah satu aktivitas berpolitik luar negeri itu adalah mengoreksi aktivitas penguasa yang dilakukan bersama-sama dengan negara-negara lain. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

Sumber: Haditsu al-Shiyam

Tinggalkan Balasan