[Haditsu al-Shiyam] Ishraf dan Tabzir

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM -—Allah Swt. berfirman,

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ  وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا  ◌   اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ

“Dan berikan kepada keluarga-keluarga terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang berada dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta-hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS Al Isra’: 26—27)

Dan firman Allah ,

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ  ◌  قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan siapa pulakah yang mengharamkan rezeki yang baik?” (QS Al A’raf: 31—32)

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِقُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan juga mereka (yang diridai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil, dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah sederhana di antara kedua cara (boros dan bakhil) itu.” (QS Al-Furqan: 67)

Sebagian orang menjadikan ayat-ayat di atas sebagai dalil untuk mengharamkan infak dalam jumlah banyak sekalipun untuk persoalan-persoalan mubah. Mereka menyatakan bahwa israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (penghambur-hamburan) dalam segala hal hukumnya haram. Sampai-sampai saat seseorang berwudu dengan air yang berlebihan adalah perbuatan haram, karena dijumpai larangannya.

Kekeliruan pendapat ini hingga mengharamkan hal-hal yang halal disebabkan ketidakmampuan untuk membedakan antara kata israf dan tabzir menurut makna bahasa dengan makna syarak. Perlu diketahui bahwa kedua kata yaitu israf dan tabzir memiliki makna bahasa dan syarak.

Adapun makna kata saraf dan israf tersebut menurut makna bahasa adalah melampaui batas serta i’tidal, lawan dari kata qashdu. Sedangkan kata tabzir dipergunakan dalam kalimat: Bazara Al Mal Tabziran (Menghambur-hamburkan harta), satu akar kata maknanya dengan israfan dan bazratan. Keduanya, kata israf dan tabzir menurut makna syarak berarti menafkahkan harta untuk hal-hal yang telah dilarang Allah. Sedangkan untuk hal-hal yang diperintahkan, baik sedikit maupun banyak bukan termasuk israf dan bukan tabzir. Setiap bentuk nafkah (pengeluaran) untuk hal-hal yang dilarang Allah, baik sedikit maupun banyak adalah israf dan tabzir (menurut makna syarak).

Imam Az Zuhri meriwayatkan bahwa tatkala beliau menyatakan firman Allah,

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ

“Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu di atas lehermu, dan janganlah membukanya lebar-lebar.” (QS Al Isra’: 29)

Beliau berkomentar,

وَلاَتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Janganlah kamu mencegah tanganmu dari kebajikan, serta jangan dipergunakan memberikan nafkah untuk kebatilan.”

Kata israf termaktub dalam Al-Qur’an,

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al furqan: 6—7)

Israf yang dimaksud dalam ayat ini semata-mata menafkahkan harta untuk kemaksiatan. Adapun untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tidak tergolong israf. Ayat tersebut artinya, “Janganlah kalian menafkahkan harta-harta kalian untuk kemaksiatan, dan jangalah kalian bakhil terhadap sesuatu yang mubah. Bahkan nafkahkanlah harta tersebut dalam perkara mubah yaitu ketaatan sebanyak-banyaknya.”

Dengan demikian menafkahkan (harta) untuk selain perkara mubah adalah tindakan tercela, dan bakhil (kikir) dalam perkara mubah juga tercela. Yang terpuji adalah memberikan nafkah untuk perkara mubah dan ketaatan. Allah berfirman,

وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-An’am: 141)

Dalam ayat ini Allah mencela tindakan israf, yaitu infak untuk kemaksiatan. Kata israf dalam ayat-ayat tersebut maknanya adalah infak (memberikan harta) untuk hal-hal maksiat. Kata israf dan musrifin disebutkan dalam Al-Qur’an dalam banyak arti. Namun apabila kata israf disebut bersamaan dengan kata infak, maknanya adalah memberikan harta untuk tindakan maksiat. Al-Qur’an menyatakan kata musrifin dengan makna mu’ridhin ‘an zikrillah (melalaikan zikir kepada Allah). Allah berfirman,

كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Begitulah orang-orang yang lalai (kepada Allah) itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus : 12)

Kata musrifin bermakna kadang-kadang berarti orang yang keburukannya melebihi kebaikannya. Allah berfirman,

وَاَنَّ الْمُسْرِفِيْنَ هُمْ اَصْحٰبُ النَّارِ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.” (QS Al Mu’min: 43)

Kata musrifin juga diartikan dengan mufsidin (yang membuat kerusakan), sebagaimana firman Allah,

وَلَا تُطِيْعُوْٓا اَمْرَ الْمُسْرِفِيْنَ  ◌  الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ

“Dan janganlah kamu perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di muka bumi.” (QS Asy-Syu’ara: 151 -152)

Jadi kata israf dan musrifin memiliki beberapa makna syarak. Oleh karena itu, penafsiran menurut makna bahasa tidak diperbolehkan. Bahkan, harus dibatasi hanya dengan makna syarak saja. Dengan meneliti kata musrifin, israf, mubazirin dan tabzir dalam Al-Qur’an yang ada semata-mata hanya satu makna yaitu menafkahkan harta dalam perkara yang haram.

Israf dalam praktik wudu maknanya adalah melebihi tiga kali (guyuran air), karena hal ini telah melampaui apa yang telah diperintahkan oleh syarak. Praktik tersebut jelas-jelas tergolong israf, jadi maknanya bukan israf (berlebih-lebihan) dalam pemakaian air. Seperti halnya menjadikan salat sunah subuh lebih dari dua rakaat, padahal sunahnya dua rakaat. Sama halnya menjadikan bacaan tasbih sebanyak tiga puluh lima kali, padahal sunahnya tiga puluh tiga kali.

Berdasarkan hal itu, sebenarnya seorang muslim bisa saja menafkahkan hartanya untuk perkara mubah dan ketaatan sekehendak hatinya, tanpa syarat-syarat mengikat apa pun. Baik karena ia butuh, ataupun karena semata-mata pemberian saja, semuanya adalah mubah. Dan bukan dianggap israf. Penyataan yang menyatakan bahwa hal itu tergolong israf yang diharamkan adalah tidak benar, sebab itu berarti mengharamkan sesuatu yang dimubahkan. Sedangkan menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan oleh syarak termasuk perbuatan dusta atas nama Allah.

Ayat-ayat yang menyatakan tentang israf dan tabzir amat jelas. Bahwa kesemuanya memiliki arti membelanjakan harta untuk perbuatan (perkara) yang haram. Padahal, di samping itu, Allah juga tidak mengharamkan idha’atul mal (melenyapkan harta kekayaan) tanpa ada sebab apa pun. Lalu bagaimana mungkin infak dalam jumlah banyak untuk perkara yang tergolong mubah diharamkan?

Rasulullah saw. bersabda,

حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الْاُمَّهَاتِ وَوَأْدُالْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةُ السُّؤَالِ وَاِضَاعَةً

“Kalian diharamkan berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan dilarang menghimpit (di tanah), serta makruh bagi kalian mengatakan ‘begini’ dan ‘begitu’ serta banyak bertanya dan melenyapkan harta.”

Idha’atul mal adalah makruh dan bukan haram. Makruh di sini berarti, tidak ada dosa di hadapan. Di samping itu, makna kata israf menurut arti bahasa adalah melampaui batas. Maka, bila seseorang ingin menafsirkan ayat-ayat dengan makna tersebut, pertanyaannya adalah apa batasannya sehingga dianggap hal itu melampaui batas? Apakah menurut batas kebutuhan hidup masyarakat Yaman, atau masyarakat Syam, atau para fakir, atau orang-orang kaya atau orang-orang yang sederhana hidupnya?

Jadi melampaui batas harus memiliki batasan tertentu. Sedangkan yang dapat menentukan batasan tersebut adalah syarak, bukan akal, adat, kebiasaan, begitu juga bukan kesederhanaan yang menjadi standar hidup. Syarak sebenarnya telah menjelaskan bahwa batasannya adalah sesuatu yang dihalalkan Allah. Maka, disebut melampaui batas apabila ia melakukan sesuatu yang tidak dihalalkan Allah atau yang diharamkannya.

Seandainya seseorang ingin mengatakan dan menetapkan batas-batas (ukuran) tersebut, maka untuk menafsirkan kata israf menurut arti bahasa tadi dalam ayat-ayat Al-Qur’an, jelas hal-hal ini tidak mungkin, karena harus kembali kepada makna syarak. Walhasil penafsiran israf dan tabzir, menurut makna bahasa tidak dapat dibenarkan. Dan haram bagi siapa pun untuk menafsirkan dengan konteks tersebut. Sebab, hal itu tidak termaktub di dalamnya. Bahkan harus ditafsirkan berdasarkan makna syarak yang ada dalam nas-nas Al-Qur’an. [MNews/Rgl]

One thought on “[Haditsu al-Shiyam] Ishraf dan Tabzir

Tinggalkan Balasan