[Tanya Jawab] Dakwah, Fardu Ain atau Fardu Kifayah?

Oleh: Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

MuslimahNews.com, FIKIH — Soal: Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah memberikan balasan kepada Anda atas kami dengan semua kebaikan dan semoga Allah menolong Islam dan kaum muslim melalui kedua tangan Anda.

Pertanyaan saya adalah: apakah mengemban dakwah adalah fardu kifayah ataukah fardu ain? Dan apakah mengemban dakwah bersama jemaah mengambil warna yang sama dengan mengemban dakwah sebagai individu? Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Anda. [Abdurrahman al-Mayyu]

Jawab:

Wa alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

1. Amal (perjuangan) untuk tegaknya Khilafah adalah wajib (fardu) sampai tegak. Dan amal untuk melanjutkan kehidupan islami adalah wajib (fardu) sampai kehidupan islami dapat dilanjutkan. Amal untuknya tidak datang kecuali di dalam kelompok (kutlah). Maka keberadaan seorang muslim di dalam kelompok yang beramal untuk melanjutkan kehidupan islami adalah wajib (fardu), tetapi itu merupakan fardu kifayah dan tidak gugur dari orang mukalaf yang mampu sampai kehidupan islami dapat dilanjutkan dengan tegaknya Khilafah.

2. Adapun kenapa itu adalah fardu, karena firman Allah Swt.,

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali Imran [3]: 104)

Di dalam buku at-Ta’rîf dinyatakan seputar tafsir ayat ini:

[ … Allah Swt. memerintahkan kepada kaum muslim di dalam ayat ini agar ada dari mereka jemaah yang berkelompok, melakukan dua perkara:

Pertama: menyeru kepada kebajikan, yakni menyeru kepada Islam.

Baca juga:  Kunci Surga

Kedua: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

Dan perintah untuk menegakkan jemaah yang berkelompok ini adalah semata tuntutan, tetapi ada qarinah yang menunjukkan bahwa tuntutan itu merupakan tuntutan yang tegas (jâzim). Aktifitas yang ditentukan oleh ayat tersebut untuk dilakuan oleh jemaah yang berkelompok ini -berupa menyeru kepada Islam dan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar- adalah fardu bagi kaum muslim untuk melakukannya sebagaimana yang ditetapkan di banyak ayat dan hadis yang menunjukkan hal itu. Rasul saw. bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسِي بيَده لَتَأْمُرُنَّ بالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أو لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاباً من عِنْده ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيبُ لَكُمْ» [رواه أحمد]

“Demi Zat yang jiwaku ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kalian menyuruh kepada yang makruf dan sungguh kalian mencegah dari yang mungkar atau hampir-hampir Allah menimpakan terhadap kalian sanksi dari sisinya kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak menjawab doa kalian.” (HR Ahmad)

Yang demikian itu menjadi qarinah bahwa tuntutan tersebut merupakan tuntutan yang tegas (jâzim) dan perintah di dalam ayat tersebut adalah untuk wajib …] selesai.

3. Adapun kenapa itu merupakan fardu kifayah, karena ayat tersebut menyatakan kata “minkum”. Jadi kewajiban (al-fardhu) di dalam keadaan ini adalah terhadap al-kifâyah yakni jemaah yang berkelompok dari kalian yang menyeru kepada Islam (menyeru kepada kebajikan). Dan kata “al-khayr” itu di-makrifat-kan dengan huruf alif dan lam dan ini menunjukkan umum yakni kepada Islam seluruhnya dan kepalanya adalah negaranya.

4. Adapun fakta fardu kifayah adalah:

Baca juga:  [Nafsiyah] Lelah karena Lillah

a. Di dalam buku asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah juz III bab “al-Wâjib” dinyatakan: [adapun kewajiban (fardu) dari sisi pelaksanaan maka ada dua kelompok: fardu ain dan fardu kifayah, dan tidak ada perbedaan di antara keduanya dalam hal kewajiban, sebab pewajiban itu satu (sama) di dalam keduanya. Masing-masing dari keduanya merupakan tuntutan untuk mengerjakan sebagai tuntutan yang tegas (thalaban jâziman). Hanya saja, perbedaan di antara keduanya adalah bahwa fardu ain itu dituntut dari setiap individu itu sendiri, sedangkan fardu kifayah dituntut dari seluruh kaum muslim, dan jika telah tercapai kecukupan (alkifâyah) pelaksanaannya maka kewajiban (al-fardhu) itu telah eksis baik yang melakukannya tiap orang dari mereka atau sebagian dari mereka. Dan jika tidak tercapai kecukupan pelaksanaannya maka tetap menjadi kewajiban bagi setiap orang dari mereka sampai kewajiban itu eksis].

b- Di buku asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah juz ii dinyatakan: (keberadaan penegakan Khilafah agar menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam sebagai kewajiban bagi kaum muslim merupakan perkara yang tidak ada syubhat dalam ketetapannya di dalam nas-nas syarak yang sahih. Terlebih lagi, keberadaannya sebagai kewajiban yang diniscayakan oleh kewajiban yang diwajibkan oleh Allah Swt. terhadap kaum muslim berupa penegakan hukum Islam dan melindungi kemuliaan kaum muslim. Hanya saja kewajiban ini merupakan fardu terhadap al-kifâyah. Jika sebagian telah menegakkannya maka kewajiban itu telah eksis dan kewajiban ini gugur dari sebagian lainnya. Dan jika sebagian tidak mampu menegakkannya meski mereka telah melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat menegakkannya maka kewajiban itu tetap menjadi kewajiban bagi seluruh kaum muslim dan tidak gugur dari muslim siapa pun selama kaum muslim tanpa adanya khalifah).

Baca juga:  Fokus Buta pada Rutinitas Kehidupan adalah Jebakan Dunia ini!

c- Dinyatakan di buku al-Fikru al-Islâmiyu:

( … al-fardhu adalah seruan asy-Syâri’ berkaitan dengan tuntutan mengerjakan dalam bentuk tuntutan yang tegas (jâzim), seperti firman Allah Swt.,

﴿أَقِيمُواْ الصَّلاةَ﴾

“dan dirikanlah salat.”

﴿انْفِرُواْ خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ﴾

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (TQS at-Tawbah [9]: 41)

Dan seperti sabda Rasul saw.,

«إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ»

“Tidak lain imam itu dijadikan untuk diikuti.”

«مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّة»

“Siapa saja yang mati dan di pundaknya tidak ada baiat maka dia mati dengan kematian jahiliah.”

Nas-nas ini semuanya merupakan seruan asy-Syâri’ berkaitan dengan tuntutan mengerjakan dalam bentuk tuntutan yang tegas (thalaban jâziman). Dan yang menjadikan tuntutan tersebut sebagai tututan tegas adalah qarinah yang datang berkaitan dengan tuntutan tersebut dan membuatnya bersifat tegas (jâziman) sehingga wajib dilakukan.

Berdasarkan hal itu maka termasuk kekeliruan untuk dikatakan bahwa fardu kifayah adalah kewajiban yang jika sebagian melakukannya maka gugur dari sebagian yang lainnya. Namun fardu kifayah adalah kewajiban yang jika sebagian telah menegakkannya maka gugurlah dari sebagian lainnya. Dan gugurnya kewajiban itu merupakan perkara yang faktual, sebab aktivitas yang dituntut telah tegak dan eksis, sehingga tidak ada ruang untuk eksistensinya bertahan. Ini adalah fardu terhadap al-kifâyah, dan itu sama saja seperti fardu ain).

Saya berharap di dalam ini ada kecukupan. Wallâh a’lam wa ahkam. [MNews/Rgl]

One thought on “[Tanya Jawab] Dakwah, Fardu Ain atau Fardu Kifayah?

Tinggalkan Balasan