[Haditsu al-Shiyam] Perbuatan Rasulullah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Rasulullah saw. mengemban perjuangan tersebut dengan tidak pernah meninggalkannya, sementara orang-orang kafir berharap agar beliau tidak mencaci maki tuhan-tuhan mereka, maka itu tidak membuat beliau jera. Allah berfirman,

[وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ]

“Maka mereka menginginkan kamu agar bersikap lunak. Lalu mereka lunak (pula kepadamu).” (Al Qalam: 9)

Ayat ini merupakan indikasi bahwa perjuangan untuk menegakkan Islam tersebut adalah fardu. Hal ini diperkuat oleh realitas bahwa Quraisy, ketika berangkat menemui Abu Thalib, mereka meminta agar Abu Thalib menghentikan Rasulullah dari perjuangannya adalah semata-mata upaya untuk menghentikan Rasul dari mencaci maki tuhan-tuhan mereka.

Orang Quraisy pun berkata kepada Abu Thalib, “Hai Abu Thalib, keponakanmu benar-benar telah mencaci maki tuhan kita, mengejek agama kita, menghina impian-impian kita, menganggap sesat nenek moyang kita. Maka, apakah akan kamu hentikan (tindakannya) atau kamu pisahkan antara dia dengan kita.”

Suatu ketika mereka datang lagi, lalu berkata, “Kami telah meminta agar kamu benar-benar melarang keponakanmu, namun kamu tidak mencegahnya terhadap kami. Dan kami, demi Allah, sudah tidak sabar lagi terhadap semua cercaan terhadap nenek moyang kita, caci makian terhadap impian-impian kita, serta penghinaan terhadap tuhan-tuhan kita ini.”

Baca juga:  Amalan Terbaik dan Istimewa

Jawaban Rasulullah saw. dengan pernyataan beliau yang sangat masyhur,

وَاللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى اَنْ اَثْرُكَ هَذَا الْاَمْرُ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ اَوْ اَهْلَكَ فِيْهِ مَا تَرَكْتُهُ

“Demi Allah, andaikan mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, sampai Allah benar-benar memenangkannya, atau aku hancur bersamanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.”

Urusan Rasulullah di sini adalah dakwah. Dan cara perjuangan mencaci maki nenek moyang orang-orang kafir, menghina tuhan-tuhan mereka, menjelek-jelekkan impian mereka semuanya adalah indikasi bahwa perbuatan Rasul tersebut adalah fardu. Itu juga menjadi bukti, bahwa perjuangan adalah fardu.

Sebagai contoh, Rasulullah tidak melakukan perjuangan melainkan setelah kutlah (kelompok) beliau keluar dari tahap sirriyah (rahasia) menuju tahap ilniyah (terang-terangan), yaitu tahap tafa’ul (berinteraksi dengan masyarakat). Ini merupakan bukti bahwa perjuangan tersebut semata-mata dilakukan pada tahapan kedua.

Hal ini, tidak dapat dijadikan argumentasi untuk tidak melakukannya pada tahapan pertama. Namun, ini hanya dalil bahwa iqtida‘ (meneladani Rasulullah) adalah agar melakukan perbuatan orang yang diteladani, sama persis seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah secara total. Sebab meneladani perbuatan itu berarti harus melakukan yaitu mitsli fi’lihi (bentuknya sama persis), ‘ala wajhihi (sifatnya sama), min ajlihi (tujuan dan niatnya sama).

Baca juga:  Yusril: Anggota HTI Tetap Memiliki Hak Konstitusional untuk Berdakwah

Kata ‘ala wajhihi (sifatnya sama) adalah syarat dalam peneladanan. Sedangkan sifat perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah beliau tidak memulai mencaci maki tuhan-tuhan mereka melainkan pada tahapan kedua. Dan beliau membatasai serangan beliau terhadap orang-orang kafir dan kekafiran mereka hanya dengan lisan, yaitu kifah (perjuangan). Bukan dengan peperangan.

Demikian halnya, beliau melihat orang-orang (ketika itu) melakukan interaksi mereka sesuai dengan hukum-hukum kufur, sampai-sampai kaum muslimin pun melakukannya. Mereka tetap melakukan interaksi dengan orang-orang kafir dengan tradisi-tradisi jahiliyah. Beliau belum menerapkan hukum-hukum interaksi atas kaum muslimin, juga nonmuslim. Sifat perbuatan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah yang harus diteladani.

Karena itu, meneladani perbuatan Rasulullah dalam persoalan perjuangan ini semata-mata dilakukan pada tahapan tafa’ul. Bukan karena Islam sebelumnya belum melakukannya, melainkan semata-mata karena Rasulullah melakukan perjuangan dalam tahapan tafa’ul, dan itulah yang harus diteladani.

Demikian pula peperangan tidak dilakukan pada tahapan tafa’ul, demikian juga pelaksanaan hukum Islam. Bukan karena Rasulullah belum pernah berperang dan belum pernah menerapkan (hukum syarak), melainkan karena perbuatan Rasul pada tahapan inilah yang menuntut harus diteladani semata-mata karena dilakukan persis seperti sifat perbuatan beliau yang telah dilakukan oleh Rasul sehingga sah untuk disebut meneladani.

Baca juga:  [Nafsiyah] Sabar dalam Berjuang

Meneladani (perbuatan Rasul) memiliki tiga syarat, yang hanya dengan (tiga syarat tersebut) sempurnalah keteladanan. Yaitu dilakukan sama persis seperti beliau, sesuai dengan perbuatan beliau, dan sesuai dengan tujuan serta niatan perbuatan beliau. Maka, beliau tidak melakukan kifah pada tahapan pembinaan, tidak menunjukkan keharaman melakukannya, melainkan melakukan kifah dengan meneladani Rasul semata-mata mengikuti sifat perbuatan beliau yang telah beliau lakukan, pada tahapan tertentu. Yaitu tahapan tafa’ul, maka kifah hanya dilakukan pada tahapan tersebut. Bukan tahapan yang lain, yaitu sama persis seperti sifat perbuatan beliau.

Demikianlah, semua perbuatan Rasulullah yang beliau lakukan dalam mengemban dakwah dan semua perbuatan beliau yang beliau lakukan untuk menegakkan negara, maka wajib diteladani semuanya. Tentang melakukan masing-masing perbuatan tersebut bergantung pada indikasinya. Bila indikasi tersebut menunjukkan fardu, seperti pembinaan dan perjuangan (kifah) maka melakukannya adalah fardu.

Ini dari segi kewajiban mengikuti atau terikat dengan metode tersebut dan dari segi melakukan perbuatan masing-masing. Adapun dari segi tata cara mengikutinya harus dilakukan dengan sama persis seperti Rasulullah saw., serta seperti sifat perbuatan beliau, sehingga cocok sebagi peneladanan terhadap Rasul. [MNews/Rgl]

Sumber: Haditsu Al Shiyam

One thought on “[Haditsu al-Shiyam] Perbuatan Rasulullah (Bagian 2/2)

Tinggalkan Balasan