Opini

Islam Mencetak SDM Pilar Peradaban, Kapitalisme Mencetak SDM Siap “Nukang”

Penulis: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI — Ada satu pepatah berbunyi, “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia karena dengan itu kita dapat mengubah dunia.” Dengan pendidikan, peradaban tercipta, karena pendidikan adalah lumbung lahirnya generasi unggul. Pendidikan merupakan salah satu kunci jatuh bangunnya sebuah negara.

Di tengah arus industrialisasi, pendidikan hari ini tak lagi berorientasi membangun generasi berkepribadian mulia. Dalam paradigma kapitalisme, SDM Unggul selalu dinisbahkan kepada seberapa banyak pekerja berdaya guna di industri.

Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin, mengatakan bahwa dari 137 juta pekerja Indonesia, hanya 13,3 juta atau 10% pekerja lulusan pendidikan tinggi. Catatan itu ia sampaikan berdasarkan data Angkatan Kerja BPS bulan Februari 2021.

Problem Pendidikan

Apa yang disampaikan Ma’ruf Amin mengindikasikan problematik yang menimpa dunia pendidikan belumlah terurai. Terdapat banyak faktor mengapa lulusan pendidikan tinggi tak banyak terserap di dunia kerja.

Pertama, fakta 10% pekerja yang berasal dari pendidikan tinggi menandakan bahwa tidak semua anak didik mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Faktor penghalang yang paling banyak ialah biaya kuliah mahal.

Ketimpangan akibat kapitalisasi pendidikan mengakibatkan lulusan pendidikan tinggi hanya dapat dirasakan mereka yang memiliki uang atau mendapat beasiswa. Itu pun harus memenuhi banyak syarat bila ingin kuliah gratis atau mendapat keringanan biaya Padahal, pendidikan tinggi adalah hak semua anak, tak peduli dia pintar atau tidak, kaya atau miskin.

Kedua, serapan lulusan pendidikan tinggi yang minim bisa jadi disebabkan tidak sinkronnya lulusan dengan lapangan kerja. Boleh jadi memperoleh gelar sarjana, tetapi belum tentu bisa mendapat kerja. Menurut data BPS pada Februari 2021, angka pengangguran dari lulusan sarjana mencapai satu juta orang.

Di perguruan tinggi, jurusan-jurusan yang paling memberi kesempatan kerja lebih banyak diminati. Seperti jurusan teknik informatika, farmasi, keperawatan, psikologi, ilmu komunikasi, PGSD, manajemen, akuntansi, dan sastra Inggris. Jurusan komersial seperti inilah yang dianggap memberikan kesempatan lebih besar diterima kerja. Bagaimana dengan jurusan nonkomersial? Peminatnya rendah. Seakan ilmu tersebut tak berguna bagi kehidupan.

Baca juga:  #TokohBicaraHijrah—Hijrah di Mata Praktisi Pendidikan (3)

Pengembangan ilmu-ilmu pada program studi baik sains, teknologi, sosial, humaniora, bahkan ilmu yang berbasis agama sekalipun (ulumuddin) memang diarahkan pada kebutuhan industri. Memfokuskan pada nilai guna lulusan yang bisa terserap di dunia kerja. Lulus untuk kerja. Kerja untuk biaya hidup.

Ketiga, derasnya TKA otomatis mengurangi lapangan kerja untuk penduduk lokal. Tak cukup bersaing dengan sesama penduduk pribumi, para pekerja “dipaksa” head to head dengan tenaga kerja asing. Kehadiran TKA seakan mengambil jatah lapangan kerja yang harusnya dimiliki pekerja lokal.

Alasan yang diungkap atas banjirnya TKA lantaran skill dan keterampilan yang dibutuhkan belum dimiliki SDM Indonesia. Jika demikian, bukankah seharusnya negara mengevaluasi dan memperbaiki sistem dan fasilitas pendidikan agar kualitas SDM meningkat? Namun, faktanya itu tidak dilakukan. Pekerja pribumi susah cari kerja, TKA diberi karpet merah.

Keempat, menciptakan SDM unggul tidaklah cukup hanya memandang aspek keterampilan dan berapa banyak yang bisa terserap sebagai tenaga kerja di dunia usaha atau industri. Yang paling utama adalah target dan tujuan pendidikan itu sendiri.

Apakah kualitas pendidikan ditentukan dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap di dunia usaha? Apakah SDM unggul hanya diukur dari kemampuan dan keterampilan dalam industri?

Pendidikan di bawah sistem kapitalisme hanya mencetak lulusan “tukang” yang menjadi pekerja di bawah industri korporasi kapitalisme global. Bukan seorang ilmuan yang mendedikasikan ilmunya agar memberi kemaslahatan bagi masyarakat; seorang ilmuan yang diharapkan mampu menjadi perintis dalam segala bidang.

Pendidikan untuk Semua

Kewajiban negara adalah menyelenggarakan pendidikan secara gratis di semua jenjang. Namun, penerapan kapitalisme membuat pendidikan gratis adalah hal utopis untuk diwujudkan.

Baca juga:  Sekolah Rusak dan Kebutuhan terhadap Khilafah

Dalam Islam, pendidikan hadir untuk semua kalangan. Setiap individu diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengenyam pendidikan di semua jenjang dengan fasilitas yang disediakan negara. Dari mana dana pendidikannya? Berpusat dari kas Baitulmal yang diperuntukkan untuk kesejahteraan dan gaji pendidik, serta infrastruktur pendidikan yang menunjang proses belajar mengajar.

Selain itu, negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Tidak ada istilah sarjana menganggur atau tak terpakai. Semua disiplin ilmu pasti terpakai dalam sistem Islam. Sebab, orang berilmu senantiasa dibutuhkan untuk membangun negara mandiri dan berdaulat.

Contoh pendidikan gratis dan mudah pada era pemerintahan Khilafah adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di Kota Baghdad. Di sekolah ini, setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian. Di madrasah ini juga diajarkan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, matematika, kedokteran, dan lainnya.

Begitu pula dengan Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi. (Muslimahnews, 4/11/2019)

Pendidikan Islam Berbasis Imtak dan Iptek

Islam memberikan perhatian yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Dari pendidikan, akan lahir generasi-generasi dengan keimanan kuat, kecerdasan akal, dan manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia.

Pendidikan dalam Islam bukan sekadar lompatan untuk meraih nilai materi sebanyak-banyaknya. Pendidikan dalam Islam adalah memadukan antara keimanan dengan ilmu kehidupan agar memberi maslahat bagi umat manusia dan semesta. Pendidikan semacam ini pernah lahir pada masa peradaban Islam selama 13 abad.

Baca juga:  Sistem Pendidikan yang Didambakan

Selama masa Kekhalifahan Islam, terdapat banyak lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang. Meski saat ini beberapa hanya tinggal nama. Namun, nama-nama lembaga pendidikan Islam itu pernah mengalami puncak kejayaan dan menjadi simbol kegemilangan peradaban Islam.

Beberapa lembaga pendidikan itu, antara lain, Nizhamiyah di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, dan Sankore di Timbuktu, Mali, Afrika. Masing-masing lembaga ini memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju kala itu. Dari sinilah sistem pendidikan Islam berhasil melahirkan tokoh pemikir, ilmuan, penghafal Al-Qur’an, dan pribadi mulia. Semisal al-Ghazali, Ibnu Ruysd, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, Al-Farabi, al-Khawarizmi, dan al-Ferdowsi.

Sistem pendidikan yang diterapkan negara harus berbasis akidah Islam. Kurikulum yang disusun berdasarkan akidah Islam. Setiap materi pelajaran beserta metodologinya disusun berdasar asas tersebut. Kurikulum pendidikan Islam terdiri dari tiga komponen utama: (1) membentuk kepribadian Islam; (2) menguasai tsaqafah Islam; (3) menguasai ilmu kehidupan, seperti Iptek, sains, keahlian, dan keterampilan.

Jika pendidikan Islam diterapkan—berikut komponen penunjang pelaksanaannya seperti sistem politik ekonomi yang berbasis Islam—pendidikan gratis bukan lagi imajinasi, tetapi keniscayaan. Jejak infrastruktur hingga tokoh dan ahli ilmu yang dilahirkan sepanjang berdirinya Khilafah adalah validasi atas kesuksesan pendidikan Islam saat itu.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik pada akhirnya terjebak pada cetakan SDM rasa tukang, yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk menjalankan roda bisnis industri kapitalis. Sementara, sistem pendidikan Islam bertujuan untuk mencetak SDM berkepribadian Islam dan pilar peradaban. Mulia dalam iman dan takwa, unggul dalam ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Karakteristik SDM inilah yang dibutuhkan untuk membangun negara yang kuat, maju, dan mampu menjadi mercusuar peradaban. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *