[Haditsu al-Shiyam] Perbuatan Rasulullah (Bagian 1/2)

MuslimahNews.com, HADITSU AL SHIYAM — Perbuatan Rasulullah saw., sebagaimana perintah beliau terhadap perbuatan tertentu, adalah semata-mata thalab (tuntutan). Perbuatan atau perintah tersebut tidak menunjukkan wajib, sunah, atau mubah. Qarinah (indikasi)-lah yang menentukan apakah perbuatan Rasulullah saw. tersebut bernilai wajib, sunah, atau mubah.

Karena itu, semata-mata perbuatan beliau itu sendiri hanya menunjukkan tuntutan, bukan yang lain. Jadi qarinah-lah yang akan menentukan jenis tuntutan tersebut.

Perbuatan Rasulullah (saw.) yang kita diperintahkan agar mengikutinya, dapat diklasifikasikan menjadi dua: Pertama, perbuatan tersebut sebagai penjelasan bagi seruan sebelumnya, sehingga hukumnya ditentukan oleh hukum seruan yang dijelaskannya itu. Bila yang dijelaskan tersebut berupa fardu, maka melaksanakannya pun fardu. Bila yang dijelaskan tersebut berupa mandub (sunah), maka melaksanakannya pun sunah hukumnya. Bila yang menjelaskan mubah, maka berarti penjelasannya mubah.

Kedua, bukan merupakan penjelasan bagi seruan sebelumnya. Hal ini membutuhkan indikasi tertentu hingga diketahui, apakah perbuatan tersebut wajib, sunah, ataukah mubah.

Karena itu, masalah perbuatan Rasulullah tersebut semuanya dapat ditilik melalui dua aspek. Aspek pertama, mengikuti perbuatan beliau. Yang kedua, melaksanakan perbuatan tersebut.

Tentang mengikuti perbuatan beliau hukumnya adalah wajib. Dalam hal ini tidak ada ikhtilaf karena banyak dalil, baik dari Kitab, sunah, maupun ijmak sahabat yang menunjukkan kewajiban tersebut. Tentang melaksanakan perbuatan tersebut, inilah yang harus diperinci.

Baca juga:  Haram Menjegal Dakwah

Rasulullah saw. mengemban dakwah dan membangun negara, mengikuti suatu metode tertentu, serta melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dalam setiap mengemban dakwah serta membangun negara tersebut. Tidak perlu dibahas tentang wajib-tidaknya mengikuti beliau dalam semua metode dan perbuatan Nabi saw. tersebut. Memang dalam hal ini tidak ada ikhtilaf di kalangan kaum muslimin.

Sedangkan melakukan aktivitas yang dilakukan oleh beliau ketika mengemban dakwah, ketika membangun negara, maka untuk mengetahui masing-masing perbuatan tersebut harus membutuhkan indikasi yang menentukan wajib, sunah, atau mubahnya. Semisal melakukan pembinaan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw., adanya orang yang dikirim untuk membina, serta individu maupun kelompok yang telah melakukan aktivitas pembinaan, maka harus sesuai dengan hukum syarak. Semuanya ini merupakan indikasi bahwa melakukan pembinaan adalah fardu.

Perbuatan Rasulullah, untuk melakukan pembinaan di sini menjadi bukti adanya fardu tersebut. Sebab, indikasinya telah menunjukkan bahwa melakukannya adalah fardu. Pembinaan bagi individu, dalam rangka mengetahui keharusan-keharusan dalam kehidupannya adalah fardu ain. Dan pembinaan bagi manusia secara umum dalam rangka mengemban dakwah adalah fardu kifayah.

Sebagai contoh adalah melaksanakan perjuangan serta menyerang ucapan dan tindakan para penguasa dan masyarakat dengan cara menantang, keras dan tegas seperti yang telah dilakukan Rasulullah saw.. Di sini, banyak ayat dan hadis yang menjelaskan kenyataan tersebut.

Baca juga:  Khilafah Belum Juga Tegak, Thalab An-Nushrah Metode Tidak Baik?

Firman Allah Swt.:

[اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْنَ]

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan neraka Jahanam. Kamu pasti akan masuk ke dalamnya.” (Al Anbiya’: 98)

[هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ]

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (Al Qalam: 11)

[عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ]

“Yang kamu kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” (Al Qalam: 13)

[ثُمَّ اِنَّكُمْ اَيُّهَا الضَّاۤ لُّوْنَ الْمُكَذِّبُوْنَۙ]

“Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan.” (Al Waqi’ah: 51)

[فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ]

“Supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61)

[اِنَّ الْمُجْرِمِيْنَ فِيْ ضَلٰلٍ وَّسُعُرٍۘ]

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” (Al Qamar: 47)

[اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاَعَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًاۙ]

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir.” (Al Ahzab: 64)

[لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفْرِهِمْ]

“Allah akan mengutuk mereka, karena kekafiran mereka.” (An Nisa’: 46)

[مَلْعُوْنِيْنَۖ اَيْنَمَا ثُقِفُوْٓا]

“Dalam keadaan terlaknat, di mana saja mereka dijumpai.” (Al Ahzab: 61)

[يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ]

Baca juga:  [Nafsiyah] Sabar dalam Berjuang

“Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Al Ahzab: 1)

[تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ]

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (Al Lahab: 1)

[اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ]

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (Al Kautsar: 3)

Berkaitan dengan itu, Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ تَعَزَى بِعَزَاءِ الجَا هِلِيَّةِ فَا عَضُّوْهُ عَلَى هُنَّ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا

“Barang siapa yang fanatik dengan kefanatikan Jahiliah, maka hendaknya ia menggigit kemaluan ayahnya, dan jangan suruh melepaskannya.”

Yaitu, katakanlah, “Gigitlah kemaluan ayahmu.” Pernyataan beliau tersebut dengan kata-kata yang jelas, tanpa ada kata kiasan sedikit pun. Sabda Rasulullah saw. yang lain,

إِذْهَبْ وَامْصِصْ بَظَرَ اللاَّثَ

“Pergilah, dan hisaplah ‘darah kering’ Latta.”

Semuanya menunjukkan bahwa Rasulullah saw. sebenarnya telah melakukan perjuangan politik. Atau menyerang kekufuran dengan cara menantang, keras dan tegas. [MNews/Rgl]

Sumber: Haditsu Al Shiyam

Bersambung ke Bagian 2/2

One thought on “[Haditsu al-Shiyam] Perbuatan Rasulullah (Bagian 1/2)

Tinggalkan Balasan