[Haditsu al-Shiyam] Akidah Ruhiyah dan Siyasiyah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, HADITSU AL SHIYAM — Ketika Barat melancarkan perang kebudayaan (ghazwu tsaqafi) maka bertujuan mengubah pandangan hidup Islam, paling tidak mengguncangnya. Di antara senjata mereka adalah menciptakan keraguan dalam beberapa akidah Islam, seperti serangan Barat terhadap persoalan kadar, kenabian Muhamad, serta penghormatan kaum muslimin kepada para sahabat beliau saw..

Senjata Barat yang lain adalah menghilangkan kepercayaan kaum muslim terhadap kelayakan hukum-hukum syarak untuk menyelesaikan permasalahan kekinian sebagaimana serangan Barat terhadap hukum-hukum jihad bahwa Islam disebarkan dengan perang dan kekerasan. Demikian pula terhadap poligami, talak, dan sebagainya.

Juga termasuk senjata Barat adalah serangan Barat terhadap penerapan hukum syarak. Mereka mengambil pendapat sebagian ahli fikih sebagai alat untuk menyerang. Apa yang dinyatakan oleh sebagaian ahli fikih, berupa mashalih mursalah, pemeliharaan kemaslahatan, pemberlakuan tradisi sebagai sumber hukum serta isu perubahan hukum lantaran perubahan zaman telah dijadikan oleh Barat sebagai alat untuk menjadikan asas manfaat sebagai standar perbuatan yang bukan lagi hukum syarak.

Hasil dari semuanya itu adalah melemahnya pengambilan halal dan haram sebagai standar perbuatan yang kemudian kelemahan tersebut mulai meluas. Pertama-pertama kemanfaatan dijadikan sebagai dasar pengambilan hukum dan bukannya dalil.

Tatkala Barat menemukan adanya pendapat sebagian ulama, yaitu dimana saja ada kemaslahatan pasti di sana ada hukum Allah, mereka menjadikannya sebagai alat untuk menguatkan pandangan kemanfaatan tersebut menjadi standar hukum syarak. Kemudian berangsur-angsur pandangan kemanfaatan tersebut menjadi standar kehidupan.

Tatkala Barat menguasai negari-negeri Islam lalu mencengkeramkan kekuasaannya ke wilayah-wilayah Islam tersebut, maka Barat mulai meniupkan akidah mereka yaitu pemisahan agama dari negara (sekularisme) dan menanamkan asas manfaat yang mereka ciptakan. Sehingga mampu menggilas pandangan hidup Islam pada sebagian besar umat manusia. Lalu menyebarlah ke hampir seluruh negeri-negeri Islam, yaitu menjadikan kemanfaatan sebagai standar kehidupan. Sekalipun masih ada sisa-sisa dijadikannya halal dan haram sebagai standar kehidupan.

Baca juga:  Catat, Yusril Bakal Bikin HTI Eksis Lagi Lewat Upaya Banding, Ini Tiga Alasannya

Kalau kita perhatikan, akidah Islam saat ini belum kembali dimiliki kaum muslimin sebagai akidah siyasiyah. Meskipun tetap dimiliki sebagai akidah ruhiyah. Pandangan hidup yang dibentuk oleh akidah tersebut tidak pernah diwujudkan dalam realitas kehidupan, sekalipun masih ada pada individu-individu muslim.

Sebab membuminya penyakit tersebut ada pada dua hal berikut ini:

Pertama, adanya kerusakan pada asas pemahamannya tentang kehidupan, yaitu akidah siyasiyah. Kedua, adanya kerusakan pada pandangan hidupnya yang dibentuk oleh akidah siyasiyah tersebut, yaitu setelah pandangan hidup halal-haram berubah menjadi pandangan kemanfaatan.

Cara penyelesaiannya harus dimulai dengan akidah, yaitu dengan menjelaskan bahwa Islam adalah akidah siyasiyah, kemudian hal itu ditanamkan secara membekas. Tentang aspek ruhiyah yang terdapat pada akidah Islam sudah diketahui oleh seluruh umat Islam.

Begitu juga harus dengan mengaitkan akidah tersebut dengan pemikiran-pemikiran tentang keduniaan, juga pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan pemeliharaan persoalan dunia. Harus mengaitkan keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada Al-Qur’an dan makna iman kepada Kitab, Al Qur’an. Juga mengaitkan keimanan pada risalah yang dibawa Nabi dan kenabian beliau dengan sunah dan makna iman kepada sunah.

Setelah itu, beralih (untuk mengubah) pandangan hidup yang dibangun di atas akidah tersebut, yaitu beralih kepada halal dan haram sebagai standar kehidupan. Sebenarnya pandangan kehidupan dalam kaca mata Islam adalah halal dan haram, bukan kemanfaatan, bukan pula dialektika ataupun apa yang disebut sebagai pandangan perkembangan.

Baca juga:  Tak Dihargai Sistem Sekuler, Guru Honorer Dimuliakan dalam Sistem Islam

Akidah sebenarnya berarti pembenaran yang pasti. Pembenaran yang tidak pasti bukanlah akidah. Pembenaran pasti tersebut menuntut keharusan untuk tidak menerima apa yang tidak diyakini. Artinya, bila ada yang menyatakan ini boleh dan yang itu juga boleh, maka ini bukan akidah karena hal ini bukan pembenaran yang pasti, melainkan hanya pembenaran saja. Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah berarti pembenaran yang pasti bahwa Al-Qur’an satu-satunya yang cocok, karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah.

Bila, ada yang menyatakan ini benar dan yang lain juga benar, maka itu bukan pembenaran yang pasti melainkan pembenaran saja. Keyakinan bahwa bila hadis tersebut sahih adalah satu-satunya yang cocok sebab ia merupakan wahyu dari Allah. Maka pernyataan bahwa hadis tersebut cocok, sedangkan yang lain juga cocok, bukan merupakan pembenaran yang pasti, melainkan hanya pembenaran semata.

Maka akidah ini menentukan adanya kepastian dalam pembenaran. Bila kepastiannya telah pupus, maka sifat keyakinannya pun telah hilang dari akidah tersebut. Pandangan hidup sebenarnya amat bergantung pada akidahnya.

Apabila hukum syarak dinyatakan ada karena untuk kemanfaatan tertentu, maka berarti di sana ada kerusakan dalam mengaitkan pandangan hidupnya dengan akidahnya. Maka, kerusakan ini harus dibenahi bahwa hukum syarak dalilnya adalah syarak yaitu wahyu yang disampaikan dari Allah dan bukan kemanfaatan.

Baca juga:  Jadilah Penyelamat Umat

Bila dinyatakan bahwa hukum syarak tersebut tidak cocok untuk masa sekarang tetapi hanya cocok untuk masa dulu sedang yang cocok untuk saat ini adalah kemanfaatan atau perundang-undangan modern, maka di sana terdapat kerusakan dalam akidah serta dalam mengaitkan pandangan hidup dengan akidahnya. Kerusakan tersebut harus dibenahi.

Keyakinan kepada adanya Allah serta kenabian Muhamad tersebut bisa menolak hal-hal tersebut. Seruan-seruan di dalam Al-Qur’an dan hadis adalah untuk manusia di sepanjang masa. Setelah menerima, baru beralih pada pembenahan hubungan (antara akidah dan pandangan hidupnya).

Bila dinyatakan bahwa pandangan hidupnya adalah halal dan haram tersebut tidak bertentangan dengan pandangan hidup manfaat, maka di sana terdapat kerusakan dalam hal pengaitan antara akidah dengan pandangan hidupnya. Kerusakan tersebut harus dibenahi. Halal dan haram dalilnya adalah syarak, bukan asas manfaat. Maka yang dituntut adalah syarak, bukan kemanfaatan.

Bila dikatakan bahwa pandangan hidup halal dan haram tidak sesuai untuk massa kini tetapi yang sesuai adalah yang maslahat atau manfaat, maka di sana terdapat kekeliruan dalam akidah dan dalam pengaitannya. Kekeliruan tersebut harus diluruskan. Kitab Allah diturunkan untuk manusia di setiap masa dan bukan masa-masa tertentu. Setelah menerima, baru beralih untuk meluruskan pengaitannya. [MNews/Rgl)

Sumber: Haditsu Al Shiyam

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *