Hadits Sulthaniyah

[Hadits Sulthaniyah] ke-47: Pengkhianatan

Hadis mengenai “Garis Pembatas” (Hadis ke-46—50)

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-47: “Pada hari kiamat, setiap pengkhianat itu (memiliki dan membawa) bendera yang diacungkan ke atas sesuai dengan tingkat pengkhianatannya. Dan ketahuilah bahwa tidak ada pengkhianat yang paling besar (pengkhianatannya) kecuali penguasa.” (HR Muslim No. 3272)

Penjelasan:

a. Dalam Bahasa Arab, yang dimaksud dengan “al-liwa” adalah bendera besar yang biasa dipegang oleh seorang komandan pasukan, yang diikuti di belakangnya oleh sekelompok tentara. Dengan kata lain, yang dimaksud dengan istilah “al-liwa” adalah sebuah simbol yang biasa digunakan oleh manusia untuk mengenali sekelompok orang dengan jelas. Makna riwayat tersebut adalah bahwa setiap pengkhianat akan dikenali dengan jelas (dihinakan) pada Hari Pembalasan.

b. Kata-kata yang digunakan dalam riwayat di atas bersifat umum, sehingga bisa digunakan untuk menunjuk berbagai bentuk pengkhianatan, baik pengkhianatan di antara individu maupun pengkhianatan di antara bangsa-bangsa.

c. Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang penguasa, karena ia bertanggung jawab untuk memelihara urusan masyarakat, sehingga setiap pengkhianatan yang dilakukannya sama saja artinya dengan pengkhianatan kepada seluruh masyarakat. Seorang penguasa muslim yang melakukan pengkhianatan, tidak saja berkhianat kepada seluruh masyarakat, tetapi juga berkhianat kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw.. Dia juga berkhianat kepada warga negara yang nonmuslim, karena ia bertanggung jawab menerapkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, pengkhianatan yang dilakukan seorang penguasa
muslim juga memengaruhi itu semua.

Baca juga:  Meneguhkan Peran Ulama sebagai Mitra Penguasa

d. Qadhi Iyadh menyampaikan sebuah tafsir bahwa seorang imam dilaknat atas pengkhianatan yang dilakukannya, karena ia telah menyalahi janjinya kepada seluruh warga negara atau kepada orang-orang kafir, atau mengkhianati amanah yang dibebankan kepadanya, atau tidak memperlakukan warga negaranya dengan penuh kasih dan kemurahan. [MNews/Gz]

Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *