[Keluarga] Mengenalkan Visi Hidup kepada Anak

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, KELUARGA — Setiap muslim pasti ingin hidup bahagia. Bahkan dalam doa sapu jagat yang selalu dimohonkan kepada Allah Swt. adalah meminta kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kebahagiaan) di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS Al-Baqarah: 21)

Atmosfer kehidupan sekuler kapitalistik telah berkontribusi menjadikan muslim—bahkan keluarga—menapaki jalan di dunia ini tanpa visi, tidak mengetahui apa tujuan hakiki hidupnya di dunia ini. Sibuk mengejar materi dan kenikmatan dunia yang dia tidak pernah merasa puas akannya. Hidup mengikuti arus air mengalir dan tidak paham akan dibawa ke mana dan menuju apa.

Keluarga Muslim Harus Punya Visi Hidup

Memahami hakikat hidup manusia di dunia adalah hal yang sangat penting. Di dalamnya akan tertuang apa yang menjadi visi hidupnya. Ada tiga pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh setiap keluarga muslim. Pertanyaan fundamental ini adalah dari mana ia berasal? Untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidupnya? Serta akan ke mana setelah mati? 

Soal keterkaitan antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan kehidupan dunia kini, serta hubungan antara kehidupan hari ini dan apa yang ada setelahnya. Jawabannya akan menentukan corak atau lifestyle keluarga muslim. Ketepatan jawaban dari tiga pertanyaan ini akan memberikan kejelasan mau dibawa ke mana awak keluarga dalam perahu rumah tangga di tengah samudra kehidupan.

Baca juga:  Peran Negara dalam Menjaga Ketahanan Keluarga

Orang tua dengan potensi akal (daya pikir) yang dimiliki akan terlebih dahulu merenungkan konsep hidup ini, sebelum berusaha mentransfernya kepada anak. Tentu tidak sebatas transfer teori lisan atau nasihat, tetapi nyata dalam proses perjalanan kehidupan keluarga .

Sejak menciptakan manusia, Allah Swt. telah memberikan akal dan fitrah pada manusia. “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An-Nahl: 78)

Kesahihan Visi Keluarga Akan Memperjelas Perjalanan Hidup Anak

Tiga pertanyaan mendasar itu, diibaratkan simpul besar, maka ia harus diurai. Penguraian yang sahih akan membuat simpul-simpul cabang berikutnya juga akan mudah diuraikan. Pertanyaan-pertanyaan cabang yang dijalani orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa ayah harus bekerja mencari nafkah, sementara bunda di rumah mengerjakan berbagai urusan rumah? Mengapa anak menghormati dan berbakti kepada orang tua, kakak menyayangi adik?

Ayah dan abang salat berjemaah di masjid, ibu dan saudara perempuan salat di rumah. Mengapa keluar rumah kita harus menutup aurat dan menjaga pergaulan dengan lawan jenis? Mengapa kita harus hidup sederhana dan suka membantu orang lain. Hingga mengapa kita harus saling mengingatkan dan menasihati sesama muslim?

Serta berbagai pertanyaan cabang yang mungkin akan ditanyakan anak secara lisan atau disimpulkannya ketika melihat realitas kehidupan dalam keluarganya.

Baca juga:  Ini Cara Sekularisme Merusak Kehidupan Perempuan!

Perkenalkan kepada Anak Jawaban Islam terhadap Simpul Besar

Uraian Islam terhadap tiga simpul besar harus bersumber dari Al Qur’an dan Sunah. Keduanya merupakan wahyu yang diturunkan Allah Swt. kepada Rasulullah Muhammad saw. sebagai petunjuk hidup.

Pertanyaan, “Dari mana manusia, kehidupan, dan alam semesta berasal?” Islam telah menjawab pertanyaan ini bahwa Allah Swt. yang telah menciptakannya, dia tidak ada dengan sendirinya. Ini terdapat dalam banyak nas, di antaranya:

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS Al Infithaar: 6—7)

Lalu pertanyaan, “Untuk apa manusia hidup?” Islam menjawab bahwa manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Makna ibadah adalah menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah Swt..

Jadi, dalam kehidupan dunia ini, manusia mengikatkan diri dengan seluruh hukum Allah Swt.. Setelah menciptakan manusia dan alam semesta, Allah tidak membiarkannya hidup sebebasnya, tetapi ada aturan yang harus dijalani oleh manusia dalam kehidupannya.

“Padahal, mereka tidak diperintah kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS Al-Bayyinah: 5)

Terhadap pertanyaan, “Ke mana manusia dan kehidupan setelah dunia?” Islam menjawab bahwa setelah kematian akan ada hari kiamat. Islam menegaskan bahwa kehidupan tidaklah hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat, semua manusia akan melaluinya.

Baca juga:  Apakah Talak Tiga sekaligus Jatuh Talak Tiga?

Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan dari kuburnya untuk dihitung seluruh amal perbuatannya selama di dunia oleh Allah Swt., lalu ditentukan tempat selanjutnya, di surga atau neraka.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu pada hari kiamat.” (QS Al-Mukminun: 15—16)

“Maka demi Rabb-mu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al-Hijr: 92—93)

Berbahagialah kaum beriman, mereka akan masuk surga yang penuh kenikmatan, seraya mendapatkan rida dari Allah Azza wa Jalla. Inilah kebahagiaan hakiki yang menjadi visi hidup setiap muslim yaitu meraih rida Allah Swt..

“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk.” (QS Al-Waqi’ah: 27—34).

Upaya orang tua mengenalkan visi hidup kepada anak akan menjadi bekal berharga anak dalam menjalani hidupnya kelak dan memandang masa depannya. Dalam kehidupan pribadi, keluarga, bahkan bermasyarakat dan bernegara, visinya adalah meraih rida Allah Swt.. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan