[Haditsu al-Shiyam] Rezeki Berada di Tangan Allah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, HADITSU AL SHIYAM — Pemilikan adalah penguasaan atas sesuatu dengan berbagai cara yang dibolehkan syarak untuk menguasai harta tersebut. Jika hal itu dilakukan, maka jadilah harta itu menjadi miliknya. Dan jika hal itu tidak dilakukan, harta itu bukan menjadi miliknya.

Sedangkan rezeki adalah segala sesuatu yang sampai kepada manusia. Baik sampai kepadanya itu melalui cara-cara yang dibolehkan oleh syarak maupun bukan. Tetap itu adalah rezeki.

Karena rezeki itu bisa halal, bisa juga haram. Semuanya tetap disebut sebagai rezeki. Harta yang diperoleh dari hasil perjudian, pencurian, atau penjambretan, atau lainnya, itu pun disebut rezeki.Dari sini jelas, bahwa rezeki adalah apa yang dikuasai manusia, baik dengan hasil usahanya ataupun bukan, baik itu menjadi miliknya ataupun bukan.

Sementara itu terdapat perbedaan antara keadaan yang mampu mendatangkan rezeki dengan penyebab yang pasti mendatangkan rezeki. Keadaan yang mampu mendatangkan rezeki adalah kondisi yang bisa mendatangkan rezeki, namun datangnya rezeki tidak bisa dipastikan. Kadang-kadang kondisi tersebut sudah dilakukan, tetapi rezeki tidak datang. Mungkin pula rezeki datang tanpa melalui kondisi yang biasanya mampu mendatangkan rezeki.

Misalnya, seorang pegawai yang bekerja keras sebulan penuh, tetapi satu jam setelah ia menerima gajinya, ternyata kecurian, hilang, atau diblokir sebelum ia menerima gajinya karena terkena denda atau terlilit utang yang sangat banyak. Contoh tersebut menunjukkan bahwa keadaan yang biasanya mampu mendatangkan rezeki, tetapi rezeki tidak diperolehnya.

Baca juga:  Keterikatan pada Hukum-Hukum Syarak, Merealisasikan Otoritas Hukum Syarak, Menentukan Standar Perbuatan dalam Kehidupan (Bagian 2/3)

Contoh lainnya adalah orang yang menerima warisan yang sangat banyak, padahal ia tidak pernah berusaha, tidak pernah pula memikirkannya, bahkan tidak pernah ia membayangkannya sedikit pun. Ia tidak pernah melalui keadaan yang biasanya mampu mendatangkan rezeki.

Semua ini menunjukkan bahwa kondisi-kondisi yang diduga menjadi penyebab datangnya rezeki (secara pasti-peny.), ternyata hanyalah keadaan (al-hal), bukan penyebab. Alasannya banyak fenomena yang menunjukkan kondisi tersebut sudah dilakukan tetapi tetap saja rezeki tidak dapat diraih. Kadang tiba-tiba rezeki datang tanpa melalui kondisi yang biasanya mampu mendatangkan rezeki.

Seandainya hal itu menjadi penyebab, maka rezeki pasti dapat diraih. Karena sudah menjadi sesuatu yang pasti jika penyebab itu tidak muncul maka rezeki juga tidak akan datang. Sebab selalu terkait secara pasti dengan musabab. Musabab tidak akan dihasilkan tanpa didahului oleh sebab. Dengan demikian jelaslah bahwa kondisi-kondisi yang diduga menjadi penyebab datangnya rezeki, kemudian berusaha dilakukan agar rezeki dapat diraih, pada saat yang sama ia meyakini bahwa usahanya itu pasti mendatangkan rezeki, ternyata hal itu adalah keadaan (al-hal) saja, yang mungkin bisa mendatangkan rezeki, tetapi bukan penyebab pasti yang mendatangkan rezeki.

Baca juga:  Benarkah Peningkatan Partisipasi Kerja Perempuan Akan Sejahterakan Dunia?

Islam datang dengan mendorong secara langsung manusia untuk berupaya meraih rezeki dengan menjalani keadaan (al-hal) tadi. Disertai dengan keyakinan bahwa keadaan tersebut bukanlah penyebab datangnya rezeki. Sebab, rezeki ada di tangan Allah Swt. saja, bukan karena dilaluinya keadaan tersebut.

Allah Swt. berfirman,

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (TQS. al-Mulk [67]: 15)

Sabda Rasulullah saw.,

“Tidak akan memberatkan bagi siapa saja yang bekerja keras.”

Juga sabda Rasulullah,

“Sesungguhnya (harta) orang-orang kaya yang warisannya dibagi-bagikan kepadamu itu lebih baik daripada (harta)-mu yang digunakan untuk mencukupi manusia sekadarnya saja.”

Sabdanya yang lain,

“Sebaik-baik pemberian adalah (harta) yang benar-benar (berasal) dari orang kaya.”

Sabda Rasulullah,

“Benar, harta yang baik/layak diperuntukkan bagi orang-orang yang baik/layak (pula).”

Ditegaskan pula bahwa Rasulullah pernah memberi makan keluarganya dengan cara meminjam uang dari orang Yahudi, seraya menggadaikan baju besinya. Semuanya menunjukkan wajibnya berusaha untuk memperoleh rezeki.

Allah mewajibkan bekerja bagi laki-laki dan diharamkan untuk berdiam diri (menganggur) dan tidak bekerja dalam rangka meraih rezeki. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa tatkala seseorang bekerja, ia harus menganggapnya sebagai keadaan saja dari berbagai keadaan yang biasanya mampu mendatangkan rezeki. Jadi bukan sebagai sebab (yang pasti) menghasilkan rezeki.

Baca juga:  [Nafsiyah] Halal Meskipun Sedikit Akan Berkah

Bekerja itu adalah jawaban kita terhadap perintah Allah Swt., disertai keyakinan bahwa rezeki itu ada di tangan Allah saja. Allah-lah Yang Maha Pemberi Rizki. Hal ini telah dijelaskan dengan gamblang dalam berbagai nas yang menisbahkan dan menyandarkan rezeki hanya kepada Allah. Tidak ada nas yang menyandarkan dan menisbahkan rezeki selain kepada Allah.

Dengan demikian kaum muslimin wajib berusaha untuk meraih rezeki dengan sungguh-sungguh. Dan memberi perhatian terhadap setiap keadaan yang memungkinkannya mampu mendatangkan rezeki, meski tetap harus disertai keyakinan bahwa rezeki itu ada di tangan Allah saja, karena Dialah Yang Maha Pemberi Rezeki.

Firman Allah Swt.,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh.” (TQS. adz-Dzariyat [51]: 56—58). [MNews/Rgl]

Sumber: Haditsu Al Shiyam

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.