[Resensi Buku] Wanita Salah Langkah: Sesatnya “Grand Design” Kehidupan Liberal dan Sekuler ala Barat

Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

MuslimahNews.com, RESENSI BUKU — Ditulis oleh Danielle Crittenden dan diterbitkan tahun 1999, buku ini termasuk buku lama yang masih relevan dengan realitas kekinian kehidupan kaum perempuan di Barat. Buku ini, bagaimanapun adalah wacana baru bagi perempuan Barat, ketika makna kehidupan yang mereka adopsi dipertanyakan oleh sesama perempuan Barat.

Ironi kehidupan perempuan Barat ini bermula ketika Barat dengan narasi modernisasi, sejatinya sekadar topeng busuk yang coba menyembunyikan kompromi antara urgensi karier atau keluarga. Buku ini juga mengulas hasil riset atas dampak racun-racun pemikiran pejuang feminisme yang ditanamkan oleh generasi ibu-ibu mereka. Yakni seputar apakah perempuan harus menikah atau berkarier dahulu dalam menjalani fase kehidupannya? Apakah mereka harus melakukan hal yang sama seperti pria agar mencapai kesetaraan?

Penulis melihat kaum perempuan saat itu begitu rakus mengejar kemandirian dengan menghalalkan segala cara, hingga mereka mengabaikan kodrat alam. Saat itu, begitu sulit menemukan perempuan yang meyakini kodratnya sebagai ibu, karena mayoritas mereka berambisi mengejar karier. Tak ayal, muncul polemik soal dilema karier, peran ganda, dan lain-lain. Sementara, penulis sendiri merasa baik-baik saja karena dirinya berasal dari keluarga yang ideal.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Penyimpangan Nyata Feminisme terhadap Tafsir Qawwam

Di buku ini, penulis juga mengulas bahwa langkah-langkah ambisius kaum perempuan itu digerakkan oleh kemarahan akan perlakuan diskriminatif pada masa lalu akibat tekanan sistem kehidupan. Penulis juga mengkritisi bahwa kemarahan-kemarahan itu sejatinya hanya sikap reaktif terhadap keadaan. Karena pada perkembangannya, gerakan mereka menuntut hal-hal yang ternyata berupa mitos-mitos kebebasan yang justru menjauhkan mereka dari kebahagiaan. Misalnya menuntut kesetaraan peran dengan laki-laki, alih-alih hendak membayar kemarahan akibat trauma masa lalu tadi.

Di sinilah sesungguhnya krisis jati diri kaum perempuan Barat itu terjadi. Ketika hal ini beranjak ke masa 20 tahun berikutnya sejak buku ini terbit, situasi belum juga membaik sebagaimana yang mereka harapkan selama ini. Bahkan, ketika politik perempuan menjadi salah satu isu sentral dalam pemilihan presiden dan wakil presiden AS, yang mana saat ini wakil presiden AS adalah seorang perempuan, nasib perempuan toh masih belum menemukan titik terang. Yang terjadi, isu perempuan justru kian liar dan menular ke seluruh dunia, tak terkecuali ke negeri-negeri muslim.

Muncullah isu-isu baru hasil pemikiran bebas manusia yang makin absurd. Mereka mempertanyakan fungsi pernikahan dan keluarga. Tak sedikit generasi muda yang ingin menunda menikah (waithood), bahkan tak ingin menikah (no marriage) dan tak ingin punya anak (childfree). Kalangan muda ini terjebak trauma berlebihan, tanpa mereka sanggup mengungkap fitrah kehidupannya.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Penyimpangan Nyata Feminisme terhadap Tafsir Qawwam

Jelas sekali, ini semua membuktikan bahwa tekanan sistem kehidupan sekularisme yang menghamba dunia telah sangat pekat mengakar. Kemunculan istilah-istilah ini (waithood, no marriage, childfree) sejatinya adalah bagian dari penjajahan pemikiran. Ini juga membuktikan adanya grand design kehidupan liberal dan sekuler yang masif diaruskan di semua lini kehidupan, bahkan sejak Khilafah Islamiah masih ada di penghujung kejayaannya sebelum runtuh pada 1924. Ini semua adalah pengarusan ideologis, wujud bertenggernya ideologi kapitalisme sekuler.

Sayangnya, yang dituding menjadi biang keladi justru Islam itu sendiri. Ada sebuah narasi dari Diane Singerman (pencetus istilah waithood) yang menyebutkan bahwa migrasi orang-orang Timur Tengah dan Afrika ke wilayah baru sedikit banyak didorong oleh motif mencari uang untuk menikah. Ia bahkan menilai bahwa susah menikah bisa menjadi salah satu faktor lahir serta berkembangnya ISIS.

Ini narasi yang sungguh menyesatkan, karena mencoba menggiring kaum muda untuk melawan fitrah sehingga mereka menetapi penghancuran oleh ide sekuler Barat. Padahal cobalah tengok, benarkah Islam mengajarkan diskriminasi kaum perempuan? Benarkah Islam mengajarkan menunda pernikahan? Benarkah Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bersedia menikah? Dan benarkah Islam mengajarkan untuk enggan memiliki keturunan?

Baca juga:  [Diskusi WAG] Penyimpangan Nyata Feminisme terhadap Tafsir Qawwam

Semestinya kita semua lebih banyak muhasabah diri. Ketika negeri kita adalah salah satu negeri muslim yang pernah diganjar bonus demografi, ini semestinya membuat kita bersyukur dan berusaha memelihara bonus demografi dengan benteng kehidupan terbaik dan terkukuh. Yakni dengan kembali pada fitrah dan melandaskan iman dalam kehidupan.

Lihatlah, bonus demografi itu toh kini tengah terancam oleh adanya pandemi Covid-19 yang sebagian besar korban jiwanya juga generasi muda. Demi solusi terbaik, mengapa tidak kita kembalikan pencarian semua solusi itu pada aturan Sang Pemilik kehidupan?

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS Al-Anfal [8]: 24).

Janganlah lagi-lagi memberi solusi pragmatis buah liberalisasi berpikir manusia sekuler, yang alih-alih menuntaskan, justru kian menyengsarakan. Na’udzu billaahi min dzaalik. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *