[Haditsu al-Shiyam] Rezeki Berada di Tangan Allah (Bagian 1/2)

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Allah berfirman,

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha [20]: 132)

Allah berfirman,

ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS asy-Sura [42]: 19)

Allah berfirman,

وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS al-Maidah [5]: 88)

Allah berfirman,

وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS al-Baqarah [2]: 212)

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS Fathir [35]: 3)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab sahihnya, bahwa Nabi saw. bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَ كَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُم كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

Baca juga:  [Nafsiyah] Empat Hal untuk Menggapai Rida Allah

“Seandainya engkau tawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka pasti (Allah memberikanmu) rezeki, sebagaimana seekor burung (yang di pagi hari terbang keluar sarangnya-peny.) dalam keadaan lapar, tetapi (pulang di sore hari-peny.) dalam keadaan kenyang.”

Nas-nas di atas menyandarkan permasalahan rezeki seluruhnya hanya kepada Allah Swt. dan menisbahkan kepada-Nya. Ini menunjukkan dengan gamblang bahwa Allahlah yang memberikan rezeki kepada manusia.

Selain nas-nas tersebut di atas, masih banyak nas-nas lain yang menisbahkan dan menyandarkan persoalan rezeki hanya kepada Allah saja. Semua itu menunjukkan sandaran yang hakiki dan tujuan dari persoalan rezeki. Jadi bukannya persoalan penciptaan perbuatan (untuk meraih rezeki) dengan penciptaan rezeki itu sendiri, sebagaimana yang dipahami dari ayat lain.

Adapun apa yang terdapat (dalam nas) yang menisbahkan rezeki terhadap selain Allah, maka hal itu bukan dimaksudkan menisbahkan rezeki kepada manusia. Pemahaman semacam ini sesungguhnya tidak dijumpai baik di dalam ayat maupun hadis. Sebab Allah sendirilah yang memberikan rezeki. Yang ada hanyalah rezeki itu dinisbahkan pada manusia (sebagai perantara-peny.), yang disampaikan kepada manusia lainnya sebagai pemberian. Misalnya saja dalam firman Allah,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاۤءَ اَمْوَالَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللّٰهُ لَكُمْ قِيٰمًا وَّارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَاكْسُوْهُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu).” (QS An-Nisa [4]: 5)

Baca juga:  [Haditsu al-Shiyam] Rezeki Berada di Tangan Allah (Bagian 2/2)

Maksudnya adalah berikanlah kepada mereka makan. Ini pun jika yang dimaksudkan rezeki itu sama dengan harta, yaitu setiap benda yang memiliki nilai. Seperti kata (waksuhum) dalam ayat tersebut. Contoh lainnya adalah firman Allah,

وَإِذَا حَضَرَ ٱلْقِسْمَةَ أُو۟لُوا۟ ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينُ فَٱرْزُقُوهُم مِّنْهُ وَ

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya).” (QS An-Nisa [4]: 8)

Maksudnya adalah berilah mereka rezeki dari hasil yang kalian usahakan. Ini berupa perintah untuk memberikan rezeki tersebut. Bukan menisbahkan rezeki kepada mereka. Jadi, tidak ada nisbah rezeki dengan makna sebagai pelaku (pemberi rezeki-peny.) kecuali Allah Swt.

Firman Allah (nahnu narzukukum), atau pun (wa rizku rabbika), atau juga ayat (kulu wasyrabu min rizkillahi). Semuanya menunjukkan bahwa nisbah rezeki disandarkan kepada Allah. Makna seperti ini harus dipahami apa adanya.

Tidak diterima takwil makna-makna lainnya. Allah Swt. sajalah satu-satunya Yang Maha Pemberi Rezeki. Dan bahwa rezeki itu ada di tangan Allah saja. Firman Allah,

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

Baca juga:  [Nafsiyah] Agar Hidup Lapang

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.'” (QS Yunus [10]: 31)

Iman kaum muslimin dalam perkara rezeki ini menerima sepenuh hati apa yang dipaparkan dalam ayat-ayat yang bentuknya sangat jelas. Namun tatkala mereka menyaksikan bahwa usaha yang mereka lakukan mendatangkan rezeki, maka muncul keraguan atas apa yang selama ini diterimanya dengan sepenuh hati –yakni Allah satu-satunya Maha Pemberi Rezeki-.

Lalu keluarlah dari mulut-mulut mereka ucapan, bahwa Allah memang Pemberi Rezeki, akan tetapi hal itu karena jerih payah mereka. Ini menunjukkan bahwa rezeki datang karena hasil usaha mereka, bukan dari Allah. Artinya, jika mereka tidak melakukan usaha, maka rezeki tidak akan datang. Padahal mereka menyaksikan sendiri bahwa rezeki diberikan pula kepada orang-orang yang tidak melakukan usaha apapun.

Penyebabnya adalah karena masyarakat mencampuradukkan antara persoalan pemilikan dan rezeki dengan keadaan yang bisa mendatangkan rezeki. Juga bercampur dengan penyebab pasti yang mendatangkan rezeki. Hakikatnya, terdapat perbedaan antara pemilikan dengan rezeki. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

Sumber: Haditsu al-Shiyam

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.