[Tarikh Khulafa] Umar bin Khaththab ra. Meng-hima Sebagian Harta Milik Umum untuk Kepentingan Rakyat

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Hima atau penguasaan sebagian harta milik umum yang dilakukan oleh Negara Khilafah adalah praktik kebijakan yang dibolehkan oleh hukum syarak. Hima dilakukan agar negara mendapatkan pemasukan yang nanti dialokasikan untuk pembiayaan berbagai kepentingan rakyat.

Kebijakan hima ini berdasarkan hadis Rasulullah saw.. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Sha’bi bin Jatsamah, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada hima kecuali bagi Allah dan Rasul-Nya.”

Maknanya adalah penguasaan tidak boleh dilakukan oleh siapa pun kecuali oleh negara. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. untuk keperluan jihad, menyantuni fakir miskin, serta untuk kemaslahatan kaum muslimin secara keseluruhan.

Berbeda dengan hima yang dilakukan pada masa jahiliah, yang mana penguasa menguasai tempat atau lahan yang luas untuk kepentingan diri pribadi dan keluarganya.

Hima Adalah Bentuk Pengelolaan Negara terhadap Sebagian Harta Milik Umum

Demikian juga pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra., beliau menguasai padang rumput untuk unta-unta zakat. Dalam pelaksanaannya, Amirulmukminin menugaskan Hunay, maula beliau.

Padang rumput termasuk harta milik umum berdasarkan hadist Nabi saw. Dari Abu Khurasyi dari sebagian sahabat Nabi saw, berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kaum muslimin itu berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api.

Baca juga:  [Syarah Hadis] Kepemilikan Umum Atas Padang Rumput, Air, dan Api

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya ia berkata, “Saya pernah mendengar Umar berkata kepada Hunay (ketika mengangkat Hunay sebagai amil untuk menjaga dan menjadikan Rabdzah sebagai area hima), ‘Wahay Hunay, bersikaplah lemah lembut di hadapan manusia dan takutlah engkau akan doa orang yang terzalimi, sebab doanya pasti mustajab. Ikut sertakanlah dan santunilah orang yang mempunyai anak unta dan kambing. Biarkanlah binatang ternak Ibnu Affan dan Ibnu Auf, sebab jikalau binatang ternak kedua orang itu binasa, maka mereka masih bisa menggembalanya di tanaman dan kebun kurmanya serta masih ada penghasilan dari perkebunan mereka. Tapi apabila binatang ternak milik orang miskin ini mati, maka dia akan datang dan berteriak, ’Wahai Amirulmukminin, apakah padang rumput lebih murah harganya dibandingkan diriku ataukah hanya bisa meminjamkan emas dan perak saja?’

‘Mereka telah mempertahankan dengan peperangan pada masa jahiliyah dan mereka juga telah memeluk Islam di tanah mereka itu. Mereka pasti melihat dan berprasangka bahwa kita telah menzalimi mereka. Jika tidak ada binatang ternak yang mesti dibawa sebagai bekal perjuangan di jalan Allah, niscaya aku tidak akan membuat area hima yang dijadikan sebagai hak milik umum satu jengkalpun dari negeri mereka selama-lamanya.

Baca juga:  [Tarikh Khilafah] Khalifah Umar bin Khaththab Menetapkan Penanggalan Hijriah

Hima untuk Kemaslahatan Islam dan Kaum Muslimin

Selain untuk unta-unta zakat, penguasaan padang rumput juga bagi unta-unta yang membawa perbekalan jihad di jalan Allah. Area yang di-hima ini juga bisa memberikan hasil yang menjadi pemasukan baitulmal Negara Khilafah.

Malik bin Anas berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa setiap tahun, bahwa Umar telah mendapatkan penghasilan dari harta yang melimpah yang diperkirakan mencapai empat puluh ribu.

Seorang laki-laki dari kalangan Bani Tsa’labah berkata kepada Umar, “Wahai Amirulmukminin, engkau telah membuat area hima di negeri kami. Kami telah mempertahankannya dengan cara perang pada zaman jahiliah dan kami juga telah memeluk agama Islam di negeri kami’. Dia mengulangi kata-kata itu di hadapan Umar. Sedangkan Umar menundukkan kepalanya, kemudian Umar mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Negeri itu adalah negeri Allah dan dijadikan sebagai area hima, kemudian dijadikan sebagai hak milik umum demi menjaga dan memelihara harta Allah. Di samping itu hasilnya akan dijadikan sebagai bekal perjuangan di jalan Allah.

Sehingga Umar bin Khaththab ra. mengkhususkan tempat-tempat tertentu bagi unta-unta yang membawa perbekalan jihad fi sabilillah. Dan beliau melarang penggembala lain memasuki tempat tersebut.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-26 dan 27: Air, Padang Penggembalaan, dan Api Adalah Milik Seluruh Kaum Muslim

Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari bapaknya berkata, “Telah datang seorang Arab Badui kepada Umar bin Khaththab seraya berkata, ‘Wahai Amirulmukminin , kami telah berperang di negeri kami pada masa jahiliah, kemudian kami telah memeluk Islam pada masa Islam. Lalu karena hal apa engkau menguasainya?’ Umar bin Khaththab terdiam dan menyebabkan menyebabkan minumannya bergoyang dan hamper tumpah, maka saat diketahui bahwa orang Badui itu masih bersamanya dan melakukan hal yang sama, berkata Umar,’ Harta itu adalah harta Allah dan seorang hamba adalah hamba Allah, demi Allah, seandainya tidak ada yang kupikul atasnya di jalan Allah, maka tidak akan kukuasai bumi ini sejengkal pun.”

Hima sebagian harta milik umum yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. adalah mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw.. Kebijakan ini diambil bukan untuk kepentingan pribadi penguasa atau individu yang lain. Akan tetapi, Negara menguasai dan mengelola sebagian harta milik umum adalah demi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. [MNews/Gz]

Sumber: Al-Amwal: Ensiklopedia Keuangan Publik, Panduan Lengkap Mengelola Keuangan-Zakat-Pajak-dll., Abu Ubaid al-Qasim, Gema Insani; Sistem Keuangan di Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum, PustakaThariqul Izzah

Tinggalkan Balasan