Keuangan Pailit, Kehidupan Sulit, Utang Melilit, Apakah Tanda Negara Sedang Sakit?

Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — “Dipaksa sehat di negeri yang sakit” adalah salah satu contoh mural yang pernah viral. Begitu pun mural “Tuhan, aku lapar” merupakan bagian dari aspirasi rakyat. Ungkapan para seniman jalanan itu ibarat jeritan masyarakat yang melarat. Bagaimana lagi, mereka sudah merasa muak dengan kondisi yang ada. Semua serba sulit. Kehidupan terasa sempit. Mau makan saja saat ini harus irit.

Persetujuan keadaan ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, yang menyatakan bahwa keuangan negara makin rumit PADA masa pandemi. Bidang kesehatan yang sebelumnya hanya dianggap pelengkap, kini menjadi prioritas utama yang perlu dipertimbangkan. Tentu kesulitan ini tak dibayangkan sebelumnya, apalagi saat lima tahun yang lalu. (cnnindonesia.com, 30/8/21)

Para Elite Melejit pada Masa Sulit

Kondisi yang berbeda dirasakan oleh para elite. Meskipun ekonomi sulit, keuangan negara menjerit, utang kian melilit, mereka tak terpengaruh sedikit pun. Bagaimana bisa demikian? Selain pengusaha, ternyata mereka adalah pejabat yang memiliki posisi cukup menggiurkan. Contohnya seorang mantan Menteri Riset dan Teknologi yang saat ini menduduki enam jabatan komisaris. Ada lagi salah satu pimpinan KPK, meski mendapati hukuman pemotongan 40% gaji selama setahun, nyatanya masih menerima gaji yang cukup besar dari tunjangannya.

Baca juga:  Pemimpin Diktator (Al-Mulk Al-Jabriy): Ciri-cirinya dan Bagaimana Menyikapinya menurut Sunnah Nabi SAW

Dua kasus di atas hanya contoh dari banyaknya kaum elite yang hidup mewah di tengah pandemi. Miris memang, rakyat diminta mengikat perut dan mengerti kalau keuangan negara sedang sulit, tetapi para pejabat atau kaum elite masih kipas-kipas menikmati hidupnya yang bergelimang harta. Inikah yang disebut keadilan bagi setiap rakyat?

Kapitalisme Gagal Menyejahterakan

Kesenjangan si kaya dan miskin, bergelimangnya para elite dengan jabatan dan harta, sulitnya masyarakat bertahan hidup hingga keuangan yang makin pailit, menandakan negara kita tidak dalam keadaan sehat-sehat saja. Ini akibat negara telah lantang mengambil sistem kapitalisme dalam seluruh aspek kehidupan.

Sistem keuangan kapitalisme yang melegalkan riba, telah menjerat negara dalam lubang penjajahan melalui utang. Per Juli 2021, utang negara ini sudah mencapai Rp6.570,17 triliun. (cnbcindonesia.com, 1/9/21). Anggapan “kalau tidak utang, tidak bisa hidup” atau “utang demi rakyat itu boleh”, menjadi pemakluman agar disetujui rakyat.

Nyatanya lagi, meski ada kucuran dana bantuan untuk masyarakat, tidak semuanya sampai ke yang berhak menerima. Terbukti dengan kasus korupsi pada dana bansos. Dengan keuangan yang rumit, dapat dipastikan bantuan itu tak selamanya ada.

Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan, rencananya, mulai tahun depan vaksin bagi kalangan menengah ke atas tidak lagi gratis (detik.com, 30/8/21). Belum lagi pajak yang makin hari dinaikkan dan banyak elemen yang dikenakan pajak baru.

Baca juga:  [Nafsiyah] Jangan Anggap Enteng Utang

Dari sini saja, terlihat rakyat melarat harus mengencangkan perut erat-erat, sedangkan yang cukup uang juga diperas keras. Mana buktinya negara ada untuk menyejahterakan rakyat?

Islam itu Menyejahterakan

Kalau negara sakit, perlu upaya menyembuhkannya. Sebelum itu, dicari tahu dulu penyebab lara. Ketika sudah memahami masalah yang dihadapi sekarang akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler, maka untuk mengobatinya, negara perlu mencampakkannya dan mencari sistem alternatif.

Islam sungguh merupakan sebuah aturan yang lengkap. Allah pun telah menjamin umat manusia akan sejahtera jika menjadikan Islam sebagai petunjuk. Sebagaimana ayat-ayat berikut, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya: 107)

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Araf: 96)

Dengan sistem Islam, negara akan berusaha memberikan keadilan. Maksud adil sesuai Islam adalah menempatkan segala aturan atau kebijakan sesuai dengan tuntunan syarak. Konsep keuangan dalam Islam misalnya, tidak memperbolehkan riba apa pun bentuk dan alasannya. Usaha yang dilakukan harus sesuai dengan tuntunan syarak.

Baca juga:  Tsunami PHK Menghantui Dunia

Sumber pendapatan pun tidak berbasis utang. Pengelolaan sumber daya alam dikelola sendiri, tidak diberikan kepada para kapitalis atau asing. Selain itu, pendapatan negara juga dari jizyah, kharaj, ganimah, fai, harta tak bertuan, harta dari tindakan curang, dll.. Ditambah dengan zakat yang diperuntukkan khusus delapan asnaf.

Dengan demikian, seluruh pendapatan negara dapat dimanfaatkan untuk keperluan administrasi dan pelayanan kepada rakyat. Kas negara akan dipakai untuk memberikan layanan gratis atau murah dalam bentuk layanan umum, pendidikan, kesehatan, dan keamanan; serta menjamin terpenuhinya sandang, pangan, dan papan.

Negara juga tidak membedakan kaya dan miskin. Siapa pun dia, asalkan warga negara Islam (muslim atau nonmuslim) akan diberlakukan sama. Sejarah telah berbicara, 13 abad lamanya Islam berhasil menaungi 2/3 penduduk bumi. Meski ada beberapa kekurangan dalam penerapannya, negara Islam tidak pernah melupakan rakyatnya. Bahkan, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tak didapati satu pun rakyat yang mau menerima zakat.

Ini karena karena Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap, termasuk sistem ekonomi yang jelas halal dan haramnya. Juga sistem sanksi, strategi pendidikan, dan sistem pemerintahan yang telah dicontohkan Rasul. Maka, masihkah kita berpikir berulang kali untuk mengambil Islam kafah? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *