Duhai Ayah Bunda, Jangan Sampai Menjadi “Toxic Parents”

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Toxic parents mungkin merupakan istilah yang baru kita dengar, akan tetapi sebenarnya jika kita ketahui apa yang dimaksud, maka sesungguhnya bukan sesuatu yang baru.

Istilah toxic parents disematkan kepada orang tua yang tidak memperlakukan anaknya dengan baik, bahkan kondisi kejiwaan anak pun bisa terganggu akibat memiliki orang tua yang toxic. Bukan hanya teman, pasangan, atau lingkungan, istilah toxic juga berlaku bagi orang tua yang menjadi “racun” bagi anaknya sendiri. Jika dibiarkan berlarut-larut, tentu anak bisa mengalami berbagai masalah.

Terlebih ketika pandemi saat ini, yang mana beban yang dipikul orang tua makin berat, sering kali makin mudah untuk memicu stres dan emosi. Akibatnya orang tua jarang mengapresiasi anak, bahkan sering memarahi anak meski hanya karena urusan sepele atau mempermalukannya di depan orang lain. Oleh karena itu para orang tua harus berhati-hati, agar tidak terjebak pada toxic parents.

Apa Itu Toxic Parents dan Bagaimana Ciri-Cirinya?

Toxic parents adalah orang tua yang tidak menghormati dan memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu. Mereka bisa melakukan berbagai kekerasan pada anak bahkan membuat kondisi psikologis atau kesehatan mentalnya terganggu. Toxic parents juga enggan berkompromi, bertanggung jawab, maupun meminta maaf pada anaknya. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua yang memiliki tekanan atau gangguan mental sehingga menjadikan anak sebagai pelampiasan.

Selain itu, trauma di masa kecil akibat pengasuhan yang buruk juga dapat memicu terjadinya hal tersebut, di mana orang tua membawa luka lama, dan melukai anaknya dengan cara yang dialaminya dulu. Meski orang tua toxic kerap berdalih apa yang dilakukannya semata-mata karena sayang, tapi pola asuh yang toxic tentu saja tak baik untuk dilakukan. Anak membutuhkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang tuanya. Jika tak mendapatkan hal tersebut, tentu saja jiwa anak bisa terluka.

Sangat mungkin orang tua tampak normal, memberikan kebutuhan anak, tidak menyakiti secara fisik, serta menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun orang tua hanyalah manusia biasa yang kerap memiliki salah dan lupa, tanpa disadari terdapat sikap dan perilaku orang tua yang secara diam-diam menjadi “racun” bagi mental dan kepribadian anak.

Beberapa ahli kejiwaan merumuskan ciri-ciri orang tua yang menjadi toxic parents, di antaranya mengutamakan diri sendiri dan tidak mempertimbangkan perasaan anak, tidak memperlakukan anak dengan baik, kerap kesulitan dalam mengendalikan emosi, atau cenderung bereaksi berlebihan ketika anak melakukan kesalahan. Atau mengontrol anak secara berlebihan bahkan mencampuri urusan pribadi, sering menyalahkan dan mempermalukannya bahkan menceritakan keburukannya di hadapannya, lebih parah lagi bersaing dengan anak dan merasa selalu benar. Sehingga alih-alih menyemangati dan bahagia atas keberhasilan anak, ia malah membuat downdan mengabaikannya.

Baca juga:  Agar Anak Mengenal Makanan dan Minuman Halal

Bagaimana Islam Mencegah Orang Tua Muslim Terjebak Menjadi Toxic Parents

Sudah sepantasnya anak lahir dalam keluarga yang bahagia serta mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat baik secara jiwa maupun raga. Namun faktanya, tidak sedikit anak yang tumbuh di lingkungan keluarga dengan kondisi orang tua yang kasar, semena-mena, serta “meracuni” anak baik secara fisik maupun psikis.

Bagaimanapun juga menjadi orang tua memang tidak mudah, harus terus belajar dan belajar. Istimewanya, Islam sebagai diin yang paripurna telah memberikan kepada umatnya rambu-rambu yang sangat terperinci. Terlebih lagi Allah telah turunkan manusia pilihan yang menjadi contoh terbaik untuk kita semua, bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Lalu seperti bagaimana tuntunan Islam sehingga para orang tua tidak terjebak menjadi toxic parents?

1. Memahami Anak sebagai Anugerah dan Amanah dari Allah Swt.

Islam sebagai din yang sempurna telah memosisikan anak sebagai anugerah dan amanah dari Allah Swt. yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua. Orang tua diberi amanah oleh Allah Swt. dengan kehadiran anak, bukan untuk kehidupan di dunia semata, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat.

Jika orang tua paham bahwa proses pendidikannya terhadap anaknya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, ia akan melakukannya dengan hati-hati sesuai dengan syariat Islam dan tidak terjebak dalam kondisi toxic parents yang justru akan mencelakakan anak.

Anak sebagai anugerah, maka sudah seharusnya orang tua mensyukuri nikmat yang tak terhingga ini karena dipercaya untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk mensyukurinya, wajib menjaga tumbuh kembangnya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.

Sejak istri mengandung, saat itulah istri dan suami sebagai calon orang tua wajib mempersiapkan diri untuk menjaga sejak dalam kandungan, hingga anak lahir, lalu berlanjut mendidik dan melindunginya sampai anak bisa menapaki kehidupannya dengan aman dan sejahtera.

Diharapkan, anak bisa menikmati perjalanan hidupnya sebagai anak yang saleh atau salihah dan mencapai kemandirian, sehingga mampu mengarungi kehidupan dengan baik dan akhirnya menjadi seseorang yang siap untuk mengemban dakwah Islam dan memperjuangkan Islam.

2. Memahami bahwa Anak adalah Aset Generasi Mendatang yang Sangat Berharga

Siapa pun akan paham bahwa keberadaan anak-anak menjadi jalan lestarinya keturunan kita selanjutnya. Terlebih lagi di tangan merekalah tergenggam masa depan umat, merekalah yang akan menggantikan generasi kita sekarang. Oleh karenanya, merupakan keharusan untuk memperhatikan dan mempersiapkan pola pengasuhan dan pendidikan yang baik untuk anak-anak, tidak terjebak pada pola asuh dan pola didik yang justru bisa menjadi racun bagi anak-anak kita.

Sebagai orang tua, dengan memahami bahwa anak-anak adalah aset masa depan dan juga ladang pahala bagi kita, maka kita akan menjaga agar proses tumbuh kembangnya berlangsung dengan baik, sehingga terwujud generasi masa depan yang berkualitas.

Baca juga:  Dampak Kerusakan Keluarga pada Anak dan Masyarakat

Allah Swt. telah memperingatkan kita semua agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah, sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nisa ayat 9:

سَدِيدًا قَوْلًا وَلْيَقُولُوا۟ ٱللَّهَ فَلْيَتَّقُوا۟ عَلَيْهِمْ خَافُوا۟ ضِعَٰفًا ذُرِّيَّةً خَلْفِهِمْ مِنْ تَرَكُوا۟ لَوْ ٱلَّذِينَ وَلْيَخْشَ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Karenanya hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan yang benar.”

3. Menjadikan Syariat Islam dan Perbuatan Rasulullah Saw. sebagai Pijakan

Suatu keharusan bagi setiap keluarga muslim untuk menjadikan Islam dan syariatnya sebagai panduan dan solusi terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Ketika syariat Islam dijadikan sebagai pijakan, inilah yang akan memudahkan orang tua dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak dan akan terhindarkan dari kondisi toxic parents. Keberkahan dan ketenteraman pun akan senantiasa tercurah bagi keluarga kita. Di sinilah pentingnya bagi orang tua untuk menguatkan pemahaman Islam di tengah-tengah anggota keluarga.

Di samping itu, Rasulullah saw. memberikan teladan yang indah dalam membimbing dan mendidik anak-anak. Beliau senantiasa berbicara lemah lembut dan tidak pernah mencela anak-anak. Bila mereka melakukan kesalahan, Rasulullah saw. meluruskannya dengan baik.

Umar bin Salamah, anak tiri beliau, menceritakan, “Ketika masih anak-anak, aku pernah dipangku Rasulullah saw., tanganku melayang ke arah nampan berisi makanan. Rasulullah berkata kepadaku, ’Nak, bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu.’ Maka seperti itulah cara makanku seterusnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Satu Frekuensi dan Kerja Sama yang Harmonis Antara Ayah dan Bunda

Kesamaan langkah antara ayah dan bunda merupakan hal yang penting dalam proses pembentukan kepribadian anak, terlebih berkaitan dengan hal-hal mendasar atau prinsip hidup. Fakta bahwa kadang kala terjadi perbedaan pemahaman antara ayah dan bunda tentang sesuatu, dan hal ini kerap membawa dampak buruk terhadap pola asuh terhadap anak-anak, bahkan bisa menjadi racun.

Apabila hal ini berkaitan dengan hal yang prinsip, tentu saja harus diselesaikan dengan baik oleh pasangan ayah dan bunda, dengan mengembalikannya kepada tuntunan syariat. Akan tetapi, jika berkaitan dengan permasalahan cabang atau hal yang mubah, hal ini harus didiskusikan dengan baik, tidak mengedepankan ego masing-masing yang pada akhirnya anaklah yang menjadi korban.

Maka, ketika ayah dan bunda tidak satu frekuensi—tidak memiliki penilaian dan “selera” yang sama tentang sesuatu—kemudian mereka menunjukkan perbedaan dalam memperlakukan dirinya, anak akan mengalami kebingungan untuk menentukan siapa yang hendak diikuti.

Jika hal ini terus berlanjut, akan ada bahaya yang dapat dialami anak. Anak akan kehilangan pijakan kepercayaan secara umum. Ia melihat sesuatu yang tidak konsisten, sering berubah, dan tidak memiliki patokan yang tetap. Bahkan, anak dapat menjadi pribadi yang oportunis.

Baca juga:  PBB: Memancing Anak Yaman Senyum Seperti Menggelitik Hantu

Oleh karenanya, kerja sama antara ayah dan bunda harus terus diupayakan, sehingga tidak terjadi kebingungan pada anak. Duduk bersama dan berdiskusi mengenai bagaimana sebaiknya melakukan pengasuhan terhadap anak. Ketika perbedaan itu dapat disamakan, ini merupakan langkah ideal, dan semuanya dilakukan semata-mata untuk kebaikan anak-anak di kemudian hari.

Kerja sama ini pun penting dilakukan ketika kondisi “genting”, yang mana bisa jadi anak membuat “ulah” dan mengakibatkan salah satu dari ayah atau bunda terpancing emosinya. Maka, yang lain harus meredam dan mengambil alih, sehingga situasi yang kondusif tetap terjaga untuk menyelesaikan masalah.

4. Tidak Memaksakan Kehendak kepada Anak Selama Ada dalam Koridor Syariat

Membiarkan anak menentukan sikap—termasuk dalam bermain dan berteman—selama itu positif, adalah satu hal yang sangat penting dalam masa pengenalan lingkungan dan proses menemukan jati dirinya. Anak-anak tetap butuh bermain dan juga berteman dengan teman sebayanya.

Yang terpenting, orang tua tetap harus memberikan arahan tentang batasan-batasan syariat dan tidak terjerumus pada hal-hal yang sia-sia. Kita juga harus mengajarkan adab kepada anak kita, mana yang baik dan mana yang kurang baik, serta bagaimana memilih teman.

Rasulullah saw. sendiri telah memerintahkan kepada anak kita agar mengenal adab Islam sejak dini. Beliau saw. bersabda, “Hormatilah anak-anak kalian dan perbaikilah adab-adab mereka.” Dari Amr bin ‘Ash, bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua untuk anaknya yang lebih utama dibanding adab yang baik.” (HR Tirmidzi)

Dengan tidak mengekang anak tetapi tetap memantaunya, akan menjadikan anak mampu berpikir dan mendapatkan pelajaran penting perihal perbedaan, mampu membedakan mana yang harus ia teruskan dalam berteman, mana yang harus dijauhi.

Kelak, anak juga akan lebih nyaman bercerita kepada orang tua apabila ada suatu masalah yang belum bisa diselesaikan. Di sinilah kesempatan orang tua untuk mengarahkan dan memberikan pemahaman kepada anak mengenai baik dan buruknya akan suatu hal.

Khatimah

Anak bukan hanya titipan Allah Swt. bagi ayah bundanya, tetapi ia adalah anugerah dan amanah dari-Nya. Namun, kadang tidak sedikit para orang tua yang lupa atau mengabaikan keberadaannya. Padahal, layaknya titipan, terlebih lagi amanah, ia harus kita jaga dengan baik. Karena bagaimanapun, kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dititipkan dan diamanahkan kepada kita.

Islam pun telah memosisikan anak dengan sangat mulia. Sehingga, sudah seharusnya orang tua menjaga anak-anaknya dengan sebaik-baiknya, jangan sampai terjebak menjadi toxic parents yang justru akan membawa anak kepada bahaya bahkan kebinasaan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *