[News] Pendapat Pengamat tentang Kasus UYW dan M Kece: Sangat Berbahaya Menyamakan Semua Narasi Ujaran Kebencian

MuslimahNews.Com, NASIONAL—Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap Ustaz Yahya Waloni (UYW) atas kasus dugaan ujaran kebencian dan penistaan agama melalui video ceramah yang diunggah pada akun YouTube. (gatra.com, 27/8/2021).

Bareskrim Polri menangkap Ustaz Yahya Waloni. (sumber: viva.co.id, 27/8/2021)

Hal ini ditanggapi LBH Pelita Umat dengan menegaskan, video tersebut tidak memenuhi unsur pidana. Sedangkan dari isi video, UYW dilaporkan dengan tuduhan melakukan penodaan agama sebagaimana Pasal 156a huruf a.

Ketua LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan, S.H., M.H., memberikan pendapat hukum bahwa unsur di dalam pasal yang disangkakan adalah dengan sengaja, di muka umum, dan mengeluarkan perasaan atau perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Sedangkan UYW, jelasnya, berada di majelis taklim yang diundang untuk mendengarkan ceramah tentang keislaman beliau. Beliau menceritakan saat masuk Islam, respons keluarga adalah tidak menerima dan mendoakan beliau mati dalam 3 hari. Beliau juga menjelaskan mengenai Bibel yang menurut beliau palsu.

“Pernyataan UYW tersebut, dapat dinilai bukan dengan sengaja melakukan permusuhan, bukan penyalahgunaan, dan dapat dinilai tidak ada niatan menodai. Hanya menceritakan keislaman beliau di forum majelis taklim di masjid,” urainya.

Baca juga:  Di Mana Negara saat Agama Dinista?

Terkait unsur di muka umum, ia berpendapat, ceramah di masjid pesertanya khusus muslim dan terbatas.

“Ini bisa saja dinilai tidak termasuk di muka umum, karena merupakan tempat ibadah dan tempat yang hanya didatangi khusus beribadah bagi umat Islam dan peserta majelis taklimnya khusus umat Islam,” ujarnya. 

Ketua LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan, S.H., M.H.. (sumber: suaramerdeka.id)

Dikhawatirkan Timbul Perdebatan Antaranak Bangsa

Ditegaskannya, dalam hukum pidana, salah satu unsur saja tidak terpenuhi, maka perbuatan orang yang dituduhkan terhadap rumusan delik itu tidak merupakan tindak pidana atau tidak memenuhi unsur delik.

“Begitu pula UYW dapat dinilai tidak memenuhi unsur kesengajaan Pasal 156a huruf a KUHP,” cetusnya.

Selain itu, menurut Chandra, jika UYW tetap dipersoalkan dan diproses hingga persidangan, dikhawatirkan timbul perdebatan antaranak bangsa atau diskusi secara terbuka tentang ketuhanan/teologi atau ajaran agama atau isi kitab.

“Mengingat persidangan terbuka untuk umum, terlebih lagi apabila terdakwa dan lawyers-nya mampu mempertahankan dengan berbagai argumentasi dan dalil-dalil,” tukasnya.

Kalau Disamakan, Sangat Berbahaya

Sementara itu pengamat politik Islam, Ustaz Farid Wadjdi, berpandangan penangkapan terhadap M Kece yang dibarengi penangkapan kristolog, UYW, ingin disamakan posisinya sebagai bentuk penghinaan agama.

“Padahal seharusnya dibedakan, antara penghinaan agama yang didasarkan kebohongan dan kepalsuan, dengan penyampaian kebenaran tentang agama atau keyakinan yang memang keliru. Jika yang pertama adalah kesalahan, maka yang kedua tidak boleh disalahkan,” kritiknya.   

Baca juga:  Kasus Penodaan Agama oleh Sukmawati Jilid II, Tantangan untuk Kapolri Idham Azis

Diingatkannya, kalau disamakan akan sangat berbahaya. Ketika ada ayat-ayat Al-Qur’an menyatakan Allah itu Esa kemudian disampaikan oleh seorang dai yang mengaitkannya dengan kritik terhadap keyakinan orang-orang kafir—yang menyatakan tuhan itu tiga atau banyak—maka bisa dianggap sebagai kejahatan.

“Padahal ini bukan kejahatan, tetapi penyampaian kebenaran terhadap keyakinan yang salah,” ungkapnya lugas.

Ini sangat penting, tegasnya, harus hati-hati terhadap narasi ujaran kebencian ini. Kalau disamakan semua, maka apa yang ada dalam Al-Qur’an saat membongkar kepalsuan keyakinan orang-orang kafir yang menyembah berhala atau lainnya, ketika disampaikan akan dianggap ujaran kebencian.

“Ketika menyampaikan tentang L68T dan zina yang diharamkan dan dilaknat Allah, nanti bisa disebut ujaran kebencian. Padahal tidak semua penyampaian kebencian itu salah. Kalau kebencian itu terhadap ajaran, keyakinan, dan pemikiran yang benar-benar salah dan bertentangan dengan agama, itu tidak bisa disalahkan,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *