Hadits Sulthaniyah

[Hadits Sulthaniyah] ke-46: Larangan Merasa Tenang dalam Pemerintahan yang Kufur

Hadis mengenai “Garis Pembatas” (Hadis ke-46—50)

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-46: “Kelak sepeninggalku akan ada khulafa (para penguasa); mereka menjalankan apa yang mereka ketahui, mengerjakan apa yang diperintahkan. Dan kelak sepeninggal mereka akan ada khulafa; mereka
menjalankan apa yang mereka tidak ketahui, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Barang siapa mengingkari (mereka), ia bebas. Barang siapa menahan diri, ia selamat. Tetapi siapa yang rida (dengan mereka) dan mengikutinya, (maka) ia tidak akan terbebas dan tidak akan selamat).” (HR Ibnu Hibban No. 6784)

Penjelasan:

a. Siapa saja yang menyaksikan kerusakan dalam penerapan Islam oleh penguasa, kemudian mengoreksi atau meluruskan kesalahan tersebut dengan tangan maupun dengan kata-katanya, ia terbebas dari dosa yang diperbuat oleh penguasa.

b. Hal yang sama terjadi bagi siapa pun yang tidak dapat mengoreksi kesalahan tersebut disebabkan karena rasa takut atau keterbatasan kemampuan dirinya, selama dirinya tidak berperan serta atau mendukung kesalahan penguasa tersebut.

c. Frasa “wa lakin…” (tetapi siapa saja yang meridai dan mengikutinya) menunjukkan—sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi bahwa siapa saja yang merasa tenang manakala menyaksikan kerusakan, mereka itu berdosa.

d. Dalam riwayat Imam Muslim, sebuah pertanyaan muncul dari para sahabat, yaitu apakah mereka harus memerangi (penguasa yang melakukan kerusakan)? Rasulullah menjawab, “Tidak, selama mereka menegakkan salat.” Hal ini pernah kita bahas pada bagian yang lain.

Baca juga:  Sayidina Yusuf Terlibat Dalam Pemerintahan Kufur?

e. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang hidup dengan tenang, yaitu mereka yang merasa tenang dan mengikuti kebijakan seorang penguasa yang menerapkan hukum Islam tetapi berbuat kerusakan, termasuk orang-orang yang berdosa. Lalu, alangkah besarnya dosa orang-orang yang merasa tenang-tenang saja dan mengikuti kebijakan seorang penguasa yang menerapkan hukum-hukum yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam dan syariat Islam, baik di negeri kaum muslim maupun di tempat-tempat lainnya. [MNews/Gz]

Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *