[Tapak Tilas] Ketika Islam Menjejak di Afganistan

Sejarah Islam di Afganistan memberi kita banyak pelajaran, bahwa keyakinan yang tertancap kuat adalah bekal terbaik untuk sabar dan istikamah dalam menghadapi setiap makar musuh-musuh Islam. Namun, keyakinan saja tentu tidak cukup. Pemahaman yang komprehensif tentang Islam harus dimiliki oleh umat Islam, agar kekuasaan Islam yang ditegakkan benar-benar sesuai tuntutan Islam untuk siap dijaga dan dipertahankan.

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Perang Nahavand yang terjadi pada 642 M telah membuka gerbang kemenangan bagi tentara muslim atas seluruh wilayah yang dikuasai Imperium Sasanid. Saat itu, penguasa terakhir Persia, Raja Yazdrgerd III menyerah kalah dan melarikan diri dari medan pertempuran.

Kemenangan atas misi futuhat Khalifah Umar ini sekaligus membuka pintu-pintu dakwah Islam di wilayah Asia Tengah dan Selatan yang sebelumnya terhalang oleh rezim penganut Zoroaster. Termasuk di antaranya, wilayah Afganistan yang kita kenal sekarang.

Wilayah Afganistan, Jadi Rebutan

Secara geografis, Afganistan dikenal sebagai negeri yang terkurung daratan (landlock). Posisinya memang berada di bagian tengah wilayah Asia Tengah dan Asia Selatan. Pada masa dahulu, kawasan Afganistan ini termasuk bagian wilayah Khurasan Raya bersama sebagian wilayah yang ada di Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Iran.

Peta Afganistan. gif-map.com

Dalam bahasa Persia, khurasan berarti ‘Tanah Matahari Terbit’. Lebih detail, Wikipedia menuliskan, Khurasan Raya meliputi Nishapur, Tus (kini di Iran), Herat, Balkh, Kabul dan Ghazni (kini di Afganistan), Merv (kini di Turkmenistan), Samarqand, Bukhara dan Khiva (kini di Uzbekistan), Khujand dan Panjakent (kini di Tajikistan).

Oleh karena posisinya inilah, sejak dulu kawasan Afganistan memiliki kedudukan yang sangat strategis. Posisi geografisnya yang ada di tengah dan berbatasan dengan Tiongkok di timur laut membuat kawasan ini masuk dalam jalur sutra yang menghubungkan Tiongkok dengan kawasan lain di Timur Tengah dan Asia lainnya.

Baca juga:  [News] Nasib Perempuan di Afganistan Disorot, Problemnya Islam?

Posisi ini pula yang menyebabkan kawasan Afganistan selalu menjadi target perebutan pengaruh kekuatan politik lainnya. Mulai dari Alexander Agung, Muria,  Mongolia, dan lain-lain. Termasuk pada masa kolonialisme Barat dan Timur, mulai oleh Rusia, Inggris, dan Amerika pada masa perang blok ideologi, hingga Amerika dan Cina di masa sekarang.

Terlebih, kawasan ini kemudian diketahui memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa besar. Di antaranya berupa kandungan lithium dan uranium yang dibutuhkan sebagai modal membangun kekuatan militer dan teknologi di masa depan.

Afganistan, Benteng Pertahanan Ideologi Islam

Pada masa peradaban emas Islam, wilayah Khurasan—termasuk di dalamnya Afganistan—memiliki posisi politik yang sangat penting, terutama sebagai benteng ideologi Islam. Barangkali itulah kenapa baginda Nabi saw. beberapa kali menyebut nama Khurasan dalam beberapa hadisnya yang terkenal. Di antaranya menyebutkan, Khurasan sebagai tempat munculnya dajal sekaligus tempat munculnya pasukan pembebas berbendera hitam.

Namun lepas dari itu, secara faktual, sejarah Islam di wilayah ini memang sangat kuat tertancap. Sejak masuk Islamnya Asim bin Umar Attamimi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, Islam lambat laun diterima oleh penduduk Afganistan hingga mengurat mengakar di dalam darah dan kehidupan mereka.

Saat itu, akidah Islam dan sistem politiknya betul-betul mampu mempersatukan penduduk Afganistan sekalipun mereka terdiri dari banyak suku, bahasa dan budaya. Bahkan, mereka dikenal sebagai pejuang-pejuang yang tangguh, hingga saat Kekhalifahan Abbasiyah tumbang, generasi merekalah yang turut menyelamatkan kekuasaan politik Islam.

Bahkan saat sejarah mengenal era kolonialisme, Afganistan pun dikenal sebagai wilayah yang bebas dari penjajahan. Kalaupun Inggris dan Rusia terus bersaing memperebutkan, Afganistan terus dalam posisi melakukan perlawanan.

Baca juga:  Perempuan Afganistan Hanya akan Mulia di Bawah Naungan Khilafah Islamiah

Situasi ini terus berlangsung, hingga pasca-Perang Dunia I, Khilafah Turki kalah. Akhirnya wilayah ini pun turut jadi ganimah dan diikat oleh traktat perwalian negara pemenang perang, dan selanjutnya “merdeka” pada 1919 sebagai negara kerajaan.

Afganistan berubah menjadi kawan Soviet ketika pihak komunis berkuasa di pemerintahan. Namun, perlawanan dari masyarakat muslim terus berjalan. Hingga Afganistan berubah menjadi medan perang yang nyaris tak berkesudahan.

Apalagi ketika pihak Blok Barat yang dipimpin Amerika turut mengail di air keruh. Atas nama membendung komunisme mereka masuk dalam faksi perlawanan dengan harapan bisa menarik keuntungan di masa depan.

Lalu saat Soviet runtuh dan Afganistan dikuasai kelompok Islamis, pihak Amerika tak rela dan membuat makar atas nama perang global melawan terorisme.

Sejak 2001 itulah Afganistan diinvasi Amerika, lalu dikuasai rezim boneka dengan kawalan tentaranya. Dengan cara itu, pihak AS ingin memastikan, potensi Afganistan sebagai benteng pertahanan ideologi Islam akan terus dibungkam.

Hingga kesempatan “baik” itu terus dimanfaatkan oleh AS untuk menancapkan image bahwa Afganistan akan buruk jika dikuasai oleh sistem politik Islam dan sebaliknya, akan berkemajuan jika diatur oleh sistem politik demokrasi yang dijaganya.

Salah satunya melalui isu perempuan. Nyaris semua media mainstream menyuarakan lagu yang sama: Afganistan di bawah syariat Islam hanya menindas kaum perempuan.

Afganistan (Harus) Terus Melawan

Namun rupanya, Islam telah menjadi darah daging warga Afganistan. Harapan AS dan pemerintahan bonekanya tak bisa mewujud dalam kenyataan. Perlawanan demi perlawanan terus berjalan. Sementara opini masyarakat termasuk kaum perempuan terus menguat menginginkan syariat Islam.

Baca juga:  [News] Pengungsi Afganistan di Negara Barat, Aktivis: Kondisinya Memburuk

Kita mungkin ingat, survei komprehensif PEW Research antara tahun 2008—2012 yang dirilis pada 2013 mendapati 99% masyarakat di sana menginginkan pemberlakuan syariat Islam. Hal itu terus berlangsung hingga sekarang, sekalipun propaganda buruk terus dilancarkan.

Maka, saat perlawanan tidak juga reda, AS pun berhitung, sudah sangat banyak dana yang dihabiskan untuk menjaga posisinya di Afganistan. Bahkan, telah banyak nyawa tentaranya yang terkubur di medan perang Afganistan. Sehingga, pada tahun ini AS memutuskan untuk hengkang.

Namun, apakah ini pertanda kemenangan bagi umat Islam? Sementara kita tahu, negara se-superpower Amerika tak mungkin mengalah pada keadaan. Apalagi modal yang telah dikeluarkan dan warisan sumber daya yang ditinggalkan jumlahnya begitu besar.

Sehingga, umat Islam di Afganistan harus tetap waspada. Kesempatan yang didapat berupa kemenangan ini harus betul-betul diarahkan pada Islam. Apalagi Amerika sudah mengikat mereka dengan butir-butir Perjanjian Doha yang bisa jadi jebakan bagi masa depan pemerintahan Islam yang ditegakkan.

Dari Afganistan Kita Belajar

Sejarah Islam di Afganistan memberi kita banyak pelajaran, bahwa keyakinan yang tertancap kuat adalah bekal terbaik untuk sabar dan istikamah dalam menghadapi setiap makar musuh-musuh Islam.

Namun, keyakinan saja tentu tidak cukup. Pemahaman yang komprehensif tentang Islam harus dimiliki oleh umat Islam, agar kekuasaan Islam yang ditegakkan benar-benar sesuai tuntutan Islam dan siap dijaga dan dipertahankan.

Ini harus menjadi amal dakwah utama kita sekarang, di mana pun tempat kita berjuang. Kita tidak tahu bagaimana ujung dari sejarah Afganistan. Namun kita tentu sangat berharap, masa depan Afganistan akan kembali ada di bawah naungan sistem Islam bersama negeri-negeri Islam yang lainnya, termasuk negeri kita sekarang. [MNews/Juan]

One thought on “[Tapak Tilas] Ketika Islam Menjejak di Afganistan

Tinggalkan Balasan