Nasional

[News] Kekerasan Berbasis Gender, Kekeliruan Cara Pandang Kaum Feminis

MuslimahNews.Com, NASIONAL— Ketimpangan gender akibat adanya relasi gender yang tidak setara menjadi basis Kekerasan Berbasis Gender (KBG), baik di ruang fisik maupun online. Perempuan ataupun laki-laki berpotensi menjadi korban ataupun pelaku. Meski kenyataannya, perempuan masih menjadi kelompok paling rentan.

Demikian disampaikan Menteri PPPA, Bintang Puspayoga dalam siaran persnya (kemenpppa.com, 27/8/2021) yang menilai ini disebabkan budaya patriarki yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Perempuan ditempatkan pada posisi lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Ketimpangan gender ini kemudian membuat perempuan menjadi sangat rentan terhadap kekerasan diskriminasi dan berbagai perlakuan salah lainnya.

“Tak terkecuali kini di tengah kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) muncul menjadi teror baru yang dapat mengancam siapa saja,” tambahnya.

Kekeliruan Cara Pandang Kaum Feminis

Menanggapi hal ini aktivis muslimah, Najmah Saiidah, memandang kekerasan terkait gender adalah pandangan yang sangat keliru. Ini hanyalah pandangan kaum feminis yang mengukur kejahatan berdasarkan gender, baik pelaku maupun objeknya.

“Maka, jika kita telusuri secara mendalam, permasalahan ini sebenarnya muncul karena tidak adanya perlindungan terhadap perempuan, baik oleh negara, masyarakat, maupun keluarga,” ungkapnya.

Menurutnya ini muncul akibat tidak adanya pemahaman yang jelas tentang hak-hak dan kewajiban negara, masyarakat, ataupun anggota keluarga, serta tidak diterapkannya aturan-aturan yang baku di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga:  Jalan Panjang Ilusi Kesetaraan Gender

“Akibatnya, setiap manusia mengatur dirinya sesuai dengan aturan yang dibuatnya. Hal inilah yang melanda kaum muslimin, yang terjadi karena sistem sekuler kapitalisme tengah mencengkeram dunia Islam,” kritiknya.

Ditegaskannya, ideologi sekuler kapitalisme yang berkembang di tengah masyarakat, menjadikan kaum muslimin kehilangan gambaran yang nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Terlebih dengan makin gencarnya upaya Barat melancarkan perang pemikiran dan kebudayaan ke dunia Islam.

“Kaum muslimin makin jauh dari Islam, baik pemikiran maupun hukum-hukumnya. Posisi Islam yang seharusnya dijadikan acuan atau landasan dalam berpikir dan bertingkah laku, digantikan oleh pemikiran kapitalisme. Sehingga, tidak aneh jika corak kehidupan sekuler kapitalismelah yang mendominasi umat saat ini,” cetusnya.

Jelas sekali, lanjutnya, maraknya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan justru merupakan cerminan gagalnya bangunan sosial politik yang didasari ideologi kapitalisme ini, serta rapuhnya tatanan moral masyarakat yang ada akibat tidak adanya standar baku yang mengatur tingkah laku manusia.

Tengoklah Islam sebagai Solusi

Ia mengingatkan kalaulah kaum muslimin mau menengok kepada Islam dan memahami Islam, sebenarnya Islam telah memberikan jawaban yang tuntas terhadap permasalahan apa pun, termasuk permasalahan kekerasan terhadap perempuan.

“Kita tinggal mengikuti apa yang telah diwahyukan oleh Allah Swt., Al-Khaliq Al-Mudabbir dan meneladani utusan-Nya, Muhammad (saw.),” jelasnya.

Baca juga:  Pemberdayaan Perempuan sebagai Agen Perdamaian?

Ia mengungkapkan satu-satunya harapan perempuan bahkan manusia untuk menyelesaikan kekerasan terhadap perempuan ini adalah kembali kepada Islam, aturan yang datang dari Allah Al-Khalik Al-Mudabbir, Allah Sang Pencipta Yang Maha Pengatur.

“Dalam hal ini negara wajib menjaga keamanan seluruh rakyatnya, laki-laki-perempuan, kaya atau miskin, anak-anak ataupun dewasa, muslim atau nonmuslim, semua tanpa ada perbedaan. Sebab, negara melalui pemimpinnya (Khalifah) bertanggung jawab mengatur segala urusan rakyatnya,” tukasnya.

Oleh sebab itu, ia menekankan, perempuan—bahkan siapa pun—akan terlindungi oleh syariat Islam dan tercegah dari segala bentuk kekerasan. Siapa pun yang melaksanakan aturan-aturan Allah Swt. dan Rasul-Nya, akan mendapatkan ketenteraman dan ketenangan, karena aturan Allah dan Rasul-Nya memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia, tidak akan pernah berubah sampai akhir zaman.

Hanya saja, imbuhnya, aturan atau hukum Islam tidak dapat tegak sempurna kecuali jika tiga pilar tegaknya hukum Islam diterapkan, yaitu pembinaan individu yang mengarah kepada pembinaan masyarakat, kontrol masyarakat, dan adanya suatu sistem terpadu yang dilaksanakan negara—Khilafah Islamiah—sebagai pelaksana dari aturan Allah dan Rasul-Nya.

“Di sinilah pentingnya terus mengedukasi umat bahwa persoalan kekerasan dan pelecehan kehormatan perempuan tidak akan pernah selesai kecuali dengan menerapkan Islam secara sempurna dalam bingkai Khilafah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *