[Tafsir Al-Qur’an] Karakter Kaum Pelaku Dosa (Tafsir QS Al-Qalam [68]: 35—39)

Penulis: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN

أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

أَمْ لَكُمْ كِتَٰبٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ

أَمْ لَكُمْ أَيْمَٰنٌ عَلَيْنَا بَٰلِغَةٌ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ ۙ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?” (TQS Al-Qalam [68]: 35—39)

Di dalam Al-Qur’an, cukup banyak ayat yang menerangkan berbagai karakter manusia. Karakter orang-orang yang baik, seperti mukmin, muslim, muhsin, muttaqîn, dan semacamnya dijelaskan untuk diikuti. Sebaliknya, karakter orang-orang yang buruk, seperti kafir, musyrik, munafik, mujrim, dan sebagainya dipaparkan agar manusia terhindar darinya. Juga, agar manusia yang baik berhati-hati dan waspada terhadap mereka.

Berkait dengan kaum mujrim, Al-Qur’an menerangkannya dalam beberapa ayat dan surat. Di antaranya adalah dalam QS Al-Qalam. Tulisan berikut akan mengupas karakter mereka dari ayat 35 hingga ayat 39.

Beda Balasan terhadap Muslim dan Mujrim

Allah Swt. berfirman, “Afa-naj’alu al-Muslimîn ka al-mujrimîn (maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa?)” Secara bahasa, al-muslim merupakan bentuk fâ’il (pelaku) dari kata aslama (tunduk dan patuh). Sedangkan secara syar’i, al-muslim berarti orang yang beragama Islam. Ketika dalam ayat ini disebutkan al-Muslimîn, tentu yang dimaksudkan adalah orang-orang muslim yang benar-benar terikat dengan agamanya. Mengimani akidah Islam dan tunduk terhadap syariatnya secara totalitas.

Kesimpulan ini kian kukuh jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa al-muttaqîn (orang-orang yang bertakwa) berada di surga. Dalam ayat ini, kata tersebut digantikan dengan al-Muslimîn. Itu artinya, muslim yang dimaksudkan adalah yang bertakwa.

Sedangkan al-mujrim merupakan bentuk fâ’il dari kata ajrama. Kata tersebut berasal dari kata al-jurm; yang menurut Ibnu Manzhur dalam Lisân al-‘Arab berarti al-ta’addiyy (melampaui batas) atau al-dzanbu (dosa). Dengan demikian, al-mujrim bisa dimaknai sebagai orang yang melampaui batas atau pelaku dosa.

Di dalam Al-Qur’an, al-mujrim sering kali menunjuk kepada kaum kafir beserta perilaku jahatnya (lihat QS Al-Muddatstsir [74]: 43—47). Dalam al-A’raf [8]: 40, sebutan mujrim menunjuk kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri. Tampaknya, mujrim yang dimaksudkan oleh ayat ini pun tidak jauh berbeda. Mereka adalah orang-orang menolak bersujud dan mendustakan Al-Qur’an (lihat ayat 43—44). 

Ditegaskan ayat ini bahwa Allah Swt. tidak menyamakan balasan bagi kaum muslim dan kaum mujrim. Balasan itu disesuaikan dengan amal mereka. Di hari kiamat kelak, kaum mukmin yang bertakwa kepada-Nya disediakan jannat al-na’îm (ayat 34); sebaliknya kaum mujrim akan ditimpa azab besar (ayat 33); pandangan mereka pun tertunduk dan diliputi dengan kehinaan (ayat 43). Bahkan mereka akan ditarik menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui (ayat 44).

Tidak Berhukum dengan Hukum Allah

Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada para pelaku dosa itu. Mereka ditegur mengapa mereka bisa menjadi seperti itu, “Mâ lakum (mengapa kamu [berbuat demikian]?).” Ayat ini pun menyebutkan pangkal penyebabnya, “Kayfa tahkumûn (bagaimanakah kamu mengambil keputusan?)” Kendati berbentuk kalimat tanya, namun ini merupakan penegasan bahwa mereka menjadi pelaku dosa itu disebabkan karena kesalahan cara mereka dalam menetapkan hukum.

Tak dapat dimungkiri, penetapan hukum akan menentukan perilaku manusia. Sesuatu yang dihukumi baik dan terpuji akan dikerjakan; sebaliknya yang ditetapkan buruk dan tercela akan ditinggalkan. Tentu menjadi masalah besar ketika manusia salah dalam memutuskan hukum tersebut. Dia akan mengerjakan perbuatan buruk dan tercela yang dianggapnya terpuji; sebaliknya dia juga meninggalkan perbuatan baik dan terpuji yang dinilainya tercela. Inilah faktor utama yang membuat mereka menjadi pelaku dosa.

Ayat selanjutnya menelisik lebih lanjut penyebab kesalahan mereka dalam memutuskan hukum. Allah Swt. berfirman, “Am lakum kitâb fîhi tadrusûn (atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab [yang diturunkan Allah] yang kamu membacanya?)” Menurut Ibnu Katsir dan al-Baghawi, kitab yang dimaksud adalah kitab yang diturunkan dari langit. Kata “tadrusûna” dimaknai Sihabuddin al-Alusi dengan taqra’ûna (kalian membacanya). Mereka dipertanyakan dasar yang dijadikan landasan dalam memutuskan hukum. Apakah mereka memiliki sandaran dari kitab yang berasal dari Allah Swt. yang dijamin kebenarannya?

Andai mereka memiliki kitab tersebut, apakah mereka juga diperbolehkan bisa sekehendak hatinya menetapkan hukum? Allah Swt. berfirman, “Inna lakum fîhi lamâ takhay-yarûna (bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu).” Kalimat ini juga bermakna istifhâm inkâri. Artinya mereka tidak memiliki kitab yang berasal dari Allah Swt. yang memperbolehkan mereka membuat keputusan hukum sesuka hati mereka. Sebab, mereka tidak memiliki kitab yang berasal dari Allah Swt. itu. Sementara kitab samawi yang dibawa utusan Allah Swt. berisi petunjuk bagi manusia; pembeda yang hak dan yang batil; dan mewajibkan manusia untuk tunduk terhadap semua keputusannya. Bukan sebaliknya, manusia dibiarkan memutuskan hukum.

Kemudian Allah Swt. menyebut penyebab lainnya, “Am lakum aymân ‘alaynâ bâli-ghat[un] ilâ yawm al-qiyâmah(atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat).” Kata “aymân” di sini bermakna aqsâm (sumpah-sumpah), demikian Abu Hayyan al-Andalusi. Disampaikan juga pertanyaan lain yang menjadi dasar bagi mereka dalam menetapkan hukum sendiri. Apakah mereka sudah mendapatkan izin dari Allah dan dikukuhkan dengan sumpah yang berlaku hingga hari kiamat bahwa mereka diberikan otoritas untuk menetapkan hukum. Allah Swt. berfirman, “inna lakum lama tahkumûn (sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan [sekehendakmu?]).”

Kalimat ini juga mengandung istifhâm inkâri. Artinya, mereka sama sekali tidak mendapatkan mandat dari Allah Swt. untuk memutuskan hukum sendiri. Sebab, Allah Swt. memang tidak pernah memberikan mandat kepada manusia untuk menetapkan hukum sendiri. Yang terjadi justru sebaliknya, manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya; tunduk dan patuh terhadap semua ketentuan hukum yang diturunkan kepada manusia. Itu merupakan kewajiban asasi setiap manusia hidup. Itu pula yang akan dijadikan dasar hisab (perhitungan) di hari kiamat kelak. Siapa pun yang terikat dan menerapkan hukum Allah Swt., berhak mendapatkan pahala, surga, dan rida-Nya. Sebaliknya, siapa pun yang menolak berhukum dengan hukum Allah Swt., mereka akan menerima siksa amat dahsyat di neraka.

Jelaslah, penetapan hukum merupakan perkara yang amat penting. Kategorisasi manusia ke dalam muslimîn dan mujrimîn pun ditentukan oleh cara mereka dalam menetapkan hukum. Jika demikian halnya, mengapa masih ada yang menerima sistem demokrasi; sistem yang memberikan wewenang kepada manusia menetapkan hukum sekehendak hatinya? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb. [MNews/Rgl]

One thought on “[Tafsir Al-Qur’an] Karakter Kaum Pelaku Dosa (Tafsir QS Al-Qalam [68]: 35—39)

Tinggalkan Balasan