Kisah Inspiratif

Aisyah al-Qurthubiyah, Ulama Perempuan “Kutu Buku”

Muslimahnews.com, KISAH INSPIRATIF — Ketika wanita-wanita Eropa hidup di abad kegelapan, muslimah Andalusia ini punya perpustakaan besar dan cerdas menulis. Beliau lahir di abad 10 Masehi, zaman di mana orang-orang Eropa menamainya sebagai “Dark Ages” (Abad Kegelapan). Namun kegelapan itu tak terjadi di Andalusia, karena justru di sanalah masa keemasan Islam sedang terjadi.

Nama lengkapnya Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah. Ia dikenal sebagai tokoh publik Kordoba, Spanyol, sebagai perempuan penyair Andalusia, cerdas dan seorang sastrawan. Bahkan, karena pengetahuannya yang luas ia dijuluki syughufah bi al-qira’ah wa al-mu’asanah bil al-kutub atau si kutu buku, seorang perempuan yang gila membaca buku.

Seisi rumahnya dipenuhi tumpukan buku. Ia mempunyai perpustakaan pribadi yang isinya buku-buku dan manuskrip-manuskrip yang jarang orang lain miliki. Bahkan beberapa koleksinya dihibahkan ke perpustakaan Kordoba.

Selain itu, Aisyah al-Qurthubiyah memiliki tulisan tangan yang bagus dan sangat indah. Bahkan, khalifah Andalusia, Abdurrahman III, yang bergelar an-Nashir (sang pemenang) adalah salah satu pengagum Aisyah, juga menaruh perhatian dan memberikan penghormatan yang tinggi kepadanya karena kapasitas keilmuannya menonjol diantara para intelektual laki-laki.

Seorang sastrawan dan sejarahwan besar, Abu Hayyan at-Tauhidi dalam bukunya berjudul Al-Muqtabas, memberikan kesaksian atas kepiawaian perempuan cerdas seperti Aisyah. Ia menyampaikan kekagumannya yang luar biasa kepadanya. Kira-kira seperti ini kalimat yang disampaikannya: “Tak ada seorang pun di Andalusia pada zaman itu mampu mengungguli Aisyah al-Qurthubiyah dalam banyak aspek: pengetahuan, sastra, puisi, kefasihan bertutur, dan keluhuran pribadinya.”

Baca juga:  [Tapak Tilas] Islam di Andalusia, Antara Kejayaan dan Air Mata

Sedangkan, penulis buku Al-Maghrib atau sejarah Maroko, menyebut Aisyah sebagai innaha min ‘ajaib zamaniha wa gharaib awaniha (perempuan paling mempesona dan aneh pada zamannya).

Ibnu Hayyan menuturkan, “Aisyah memiliki gudang yang penuh dengan buku-buku. Ia juga bagus dalam menulis mushaf dan jurnal.” Beliau wafat pada tahu  1.010 Masehi. Di zaman kita, figur Aisyah al-Qurthubiyah termasuk dalam daftar “Muslim Terkemuka” di Saudi Aramco World edisi khusus 2002.

Kisah Aisyah al-Qurthubiyah memberi pelajaran penting. Perempuan di masa peradaban Islam adalah penuntut ilmu yang tekun, pembelajar yang baik, bisa menyeimbangkan peran publik dan domestiknya secara proporsional.

Perempuan dalam naungan sistem Islam terpenuhi haknya. Mereka mendedikasikan ilmu untuk mengajarkannya pada generasi. Perempuan dalam asuhan Islam terdidik dan berkemajuan, baik secara nafsiyah maupun aqliyah-nya. Kecerdasannya digunakan untuk mempersiapkan generasi terbaik pembangun peradaban Islam.  [MNews/Chs]

Sumber:

1) Channel Telegram Generasi Shalahuddin

2) Oase.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *