Perempuan Afganistan Hanya akan Mulia di Bawah Naungan Khilafah Islamiah

Penulis: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, FOKUS — Sampul majalah satire Charlie Hebdo edisi 17/8/2021 menampilkan karikatur tiga perempuan mengenakan burkak berwarna biru bertuliskan Taliban berjudul “Taliban, ini lebih buruk dari perkiraan awal”. Majalah terbitan Prancis itu kembali menebar islamofobia dengan mengungkapkan sinisme atas Islam politik.

Karikatur tersebut membuka memori kelam yang mana kekerasan kerap dialami perempuan Afganistan ketika Taliban berkuasa pada 1996 silam.[1] Karikatur itu seolah ingin menunjukkan bahwa penindasan terhadap hak-hak perempuan dengan dalih agama akan kembali terjadi pascakemenangan Taliban di Afganistan.

Bagaimana nasib perempuan setelah Taliban menguasai Afganistan? Akankah muslimah Afganistan hidup nyaman dalam lindungan hukum-hukum Islam secara sempurna?

Barat Tidak Menginginkan Penerapan Hukum Islam di Afganistan

Sejatinya, Barat tidak pernah sungguh-sungguh meninggalkan Afganistan. Jubir Kemenlu AS, Ned Price, dengan kuat menekankan syarat pemberian pengakuan pemerintahan Taliban. Sesuai pernyataan Dewan Keamanan PBB, pemerintahan baru Afganistan harus demokratis, mematuhi norma-norma internasional dan standar hak asasi manusia.[2] Sementara Biden kembali menegaskan perlunya tekanan ekonomi dan diplomatik untuk memastikan Taliban melindungi dan menjamin hak-hak perempuan di Afganistan.[3]

AS telah memberikan sanksi pembekuan US$9,5 miliar (Rp138,7 triliun) aset bank sentral Afganistan (DAB) dan menghentikan pengiriman uang tunai.[4] Menlu Jerman, Heiko Mass menegaskan Jerman sebagai sekutu NATO akan berhenti memenuhi janji bantuan ke Afganistan senilai 430 juta euro (Rp 7,26 triliun) setiap tahun sampai 2024, jika Taliban mengambil alih kekuasaan dan menerapkan hukum syariat.[5] Ini semua cukup menjadi bukti bahwa sejatinya Taliban dalam cengkeraman Barat.

Meski Taliban berjanji tidak akan mendirikan negara Islam (Islamic State), dan mencukupkan bentuk negara Imarah Islam Afganistan atau Islamic Emirate of Afghanistan[6], Barat tetap ingin memastikan Taliban patuh menerima semua nilai-nilai Barat tanpa kecuali. Sebab hegemoni suatu negara imperialis tidak akan sempurna tanpa penerimaan pemerintahan baru terhadap nilai-nilai ideologi negara penjajah. Bagi Barat, tata dunia berdasarkan kapitalisme dan sekularisme merupakan harga mati.

Henry Kissinger, Asisten Presiden AS untuk urusan Keamanan Nasional 1969—1975, dalam sebuah wawancara pada 2004 mengungkapkan pandangannya dengan menyatakan, “...What we call terrorism in the United States, but which is really the uprising of radical Islam against the secular world, and against the democratic world, on behalf of re-establishing a sort of Caliphate (…Apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat, tetapi sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler, dan terhadap dunia yang demokratis, atas nama pendirian kembali semacam Kekhalifahan).”

Baca juga:  [Tanya Jawab] Dampak Politik di Afganistan

Framing Barat atas Kondisi Perempuan Afganistan

Kemenangan Taliban langsung disambut Barat dengan monsterisasi syariat Islam, khususnya tentang perlakuan terhadap perempuan. Mereka menggaungkan opini bahwa negara Imarah Islam Afganistan akan kembali mengungkung perempuan Afganistan, sebagaimana yang dulu terjadi saat Taliban berkuasa.

Media internasional menyorot potret ketakutan jutaan pengungsi termasuk perempuan dan anak-anak melarikan diri dari Taliban. Wawancara perempuan korban kekerasan Taliban memenuhi ruang media elektronik dan media sosial. Barat mengobarkan ketakutan dunia akan nasib perempuan dan anak-anak Afganistan.

BBC online (21/8), kembali mengangkat headline “Perempuan Afganistan: Ketakutan, keputusasaan, dan sedikit harapan di bawah kekuasaan Taliban”. BBC juga melakukan wawancara eksklusif dengan feminis Pakistan Malala Yousafzai. Malala meminta Presiden AS mengambil langkah berani melindungi rakyat Afganistan. Dia juga mengirim surat kepada PM Pakistan Imran Khan agar menerima pengungsi Afganistan dan anak-anak untuk memberi akses pendidikan, keselamatan, dan perlindungan.[7]

Sementara itu, sejumlah politisi dan aktivis perempuan Afganistan menuntut janji Taliban memberikan kebebasan dalam pendidikan, politik, dan ekonomi. Zarifa Ghafari, wali kota wanita pertama Afganistan, menyatakan tidak mau mengungsi karena merasa sebagai garda terdepan dalam membela hak-hak perempuan Afganistan.[8]

Mahbouba Seraj, pimpinan pusat Pengembangan Keterampilan Wanita Afganistan memutuskan untuk kembali ke Afganistan demi menjaga keselamatan para perempuan dan anak-anak binaannya. Ia bahkan ingin menjajaki kerja sama dengan Taliban terkait pemberdayaan perempuan.[9]

Merespons situasi terkini, UN Women mengeluarkan pernyataan untuk tetap berkomitmen penuh mendukung perempuan dan anak perempuan di Afganistan dan tetap terlibat dengan mitra pada saat negara kritis. Hak-hak perempuan dan anak perempuan harus menjadi inti dari respons global terhadap krisis saat ini.[10]

Baca juga:  Kesetaraan Gender, Eksploitasi Perempuan Tersamar ala Kapitalis

Sejak 2010, UN Women telah memberikan dukungan kepada mitra kerja di Afganistan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pencegahan konflik, dan proses pembangunan perdamaian yang berkelanjutan dan mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional Pelaksanaan Resolusi DK PBB tentang Perempuan, Perdamaian dan Keamanan (UNSCR 1325, termasuk tercapainya tujuan 5 dan 16 dari SDGs. UN Women juga sudah melakukan berbagai kemitraan dengan berbagai badan PBB lainnya untuk mendukung keterlibatan perempuan dalam proses perdamaian dan stabilitas, juga akses perempuan terhadap keadilan dan reformasi sektor keamanan.[11]

Dengan demikian jelaslah, UN Women tetap akan mengawal pemberdayaan perempuan di Afganistan, bahkan bisa jadi akan makin intensif, mengingat dalam catatan Barat, Taliban berlaku “buruk” pada perempuan pada masa lalu. Tentu saja UN Women akan bergerak sesuai dengan kerangka berpikir yang mendasari pembentukannya, yaitu mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan ala Barat. Taliban sendiri menjanjikan akan menjamin hak-hak perempuan.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid menyatakan, “Kami akan mengizinkan perempuan untuk bekerja dan belajar dalam kerangka hukum Syariah. Perempuan akan sangat aktif dalam masyarakat kami…Kami ingin meyakinkan komunitas internasional bahwa tidak akan ada diskriminasi”.[12]

Meskipun demikian, banyak pihak yang meragukan janji Taliban tersebut, bahkan menyangka janji itu sebagai alat untuk mencari legitimasi dari semua negara-negara agar diterima sebagai pemerintah Afganistan yang sah.[13]

Dengan demikian saat ini, semua sedang menanti realisasi pemenuhan hak-hak perempuan di Afganistan. Apakah Taliban akan memenuhi janjinya, memberikan hak perempuan sesuai dengan hukum Islam, ataukah kembali kepada aturan lama sebagaimana saat berkuasa pada masa lalu? Ataukah justru mengikuti arahan Barat demi pengakuannya atas pemerintahan Taliban?

Perempuan Afganistan Hanya Akan Mulia dalam Naungan Khilafah

Barat senantiasa memberikan narasi miring atas pengaturan perempuan dalam Islam karena bertentangan dengan pandangan Barat. Barat terus mengaruskan ide kesetaraan gender di negeri-negeri muslim dan mengumbar janji kesejahteraan perempuan.

Sejatinya, itu hanyalah janji kosong belaka. Hingga 25 tahun Deklarasi Beijing, dunia masih jauh dari kesetaraan gender; bahkan ketimpangan kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya lebih besar dari sebelumnya.[14] Sekjen PBB, António Guterres bahkan menyatakan progress pencapaian kesetaraan gender menghadapi ancaman, Bank Dunia memperkirakan perlu waktu 150 tahun untuk mencapai kesetaraan gender![15]

Baca juga:  Perempuan Mesin Ekonomi, Ekses “Point of View” Kapitalisme

Muslimah Afganistan harus menyadari bahwa jaminan hak perempuan yang ditawarkan Barat—dalam bingkai kesetaraan gender—hanyalah ilusi. Barat hidup dengan sistem kehidupan dipimpin kapitalisme sekuler yang menjadikan akal manusia sebagai penentu. Faktanya, hanya memberikan harapan kosong dan menyisakan berbagai penderitaan termasuk eksploitasi perempuan demi pertumbuhan ekonomi dunia.

Muslimah Afganistan harus meyakini bahwa mereka akan berada dalam kebaikan hanya dalam naungan Islam. Sebab, sejatinya keterpurukan dan penindasan yang dialami perempuan di berbagai penjuru dunia, termasuk di Afganistan berpangkal pada tidak adanya penerapan Islam secara kafah.

Islam adalah sistem kehidupan yang diturunkan Allah, Pencipta manusia, yang sempurna dan menyeluruh. Islam memiliki seperangkat aturan yang memuliakan perempuan, menjaga kehormatannya, dan menjamin hak-hak perempuan sesuai dengan aturan syariat, termasuk menuntut ilmu dan bekerja sesuai dengan bidangnya.

Islam mewajibkan negara untuk memberikan perlindungan terhadap semua rakyatnya, termasuk perempuan, dan menjamin kesejahteraannya. Islam juga memberikan ruang kepada perempuan untuk berkiprah dalam kehidupan sosial dan politik. Meskipun Islam melarang perempuan sebagai penguasa, tetapi Islam mewajibkan khalifah sebagai kepala negara untuk memikirkan urusan perempuan yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt..

Semua itu hanya akan terwujud dalam naungan Khilafah Islamiah sebagai institusi negara yang akan menjalankan Islam secara kafah. Oleh karena itu, muslimah Afganistan, sebagaimana kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, wajib mengarahkan perjuangannya demi tegaknya Khilafah Islamiah.

Tegaknya Khilafah Islamiah akan membungkam seluruh propaganda Barat yang menjerumuskan perempuan pada jalan yang sesat buatan akal manusia. Khilafah Islamiah akan memberikan perempuan arah kehidupan yang mulia dalam naungan rida Allah Swt.. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

Referensi:

[2] https://dunia.tempo.co/read/1495520/amerika-beri-syarat-ke-taliban-jika-ingin-diakui-sebagai-pemerintah-Afganistan/full&view=ok

[3] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210819212758-134-682705/biden-sebut-taliban-tak-bakal-berubah.

[4] https://kabar24.bisnis.com/read/20210818/19/1430889/as-bekukan-aset-bank-sentral-Afganistan-rp1368-triliun

[5] https://www.jpnn.com/news/khawatir-taliban-ubah-Afganistan-jadi-negara-khilafah-sekutu-amerika-sampai-mengancam-begini

[6] https://sumsel.inews.id/berita/perkuat-kekuasaan-taliban-deklarasikan-imarah-islam-Afganistan?_ga=2.212299604.1508942587.1629562239-1066178648.1607776601

[7] https://dunia.tempo.co/read/1495493/malala-minta-joe-biden-berani-selamatkan-rakyat-Afganistan

[8] https://dunia.tempo.co/read/1496793/perempuan-inspirasi-dunia-zarifa-ghafari-wali-kota-wanita-pertama-di-afganistan

[9] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-58241284

[10] https://www.unwomen.org/en/news/stories/2021/8/statement-un-women-on-the-situation-in-Afganistan

[11] https://jobs.undp.org/cj_view_job.cfm?cur_job_id=83424

[12] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-58258919

[13] ibid

[14] https://www.konde.co/2019/12/kami-marah-25-tahun-deklarasi-beijing.html/

[15] https://www.un.org/press/en/2020/ga12275.doc.htm

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *