[Tarikh Khulafa] Kebijakan Kharaj Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Penulis: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab ra., berlangsung futuhat secara terus-menerus dan mencakup wilayah musuh yang cukup luas. Kemenangan kaum muslimin makin menambah luas wilayah kekuasaan Daulah Islam, bertambahnya orang yang masuk Islam juga bertambahnya ahlul dzimmah (أهل الذمة).  Juga menjadi hasil dari futuhat adalah fai/ganimah atau harta rampasan perang.

Tanah kharaj merupakan bagian dari ganimah dan menjadi hak seluruh kaum muslimin. Kharaj diperoleh, baik dari peperangan maupun perjanjian damai. Jika perdamaian menyepakati bahwa tanah tersebut milik kaum muslimin dan mereka pun mengakui dengan membayar kharaj atas tanah tersebut, mereka wajib menunaikannya.

Pendapat Amirulmukminin atas Tanah Kharaj

Khalifah Umar bin Khaththab ra. memutuskan tidak melakukan pembagian tanah Irak, Syam, dan Mesir yang ditaklukkan kaum muslimin dengan jalan peperangan kepada para pasukan yang berperang.

Sebelumnya, Bilal bin Rabbah menemui Amirulmukminin dan menuntut agar Khalifah membagikan tanah yang telah diberikan Allah kepada mereka dengan pedang mereka, seperti yang dilakukan Rasulullah saw. dengan membagikan tanah Khaibar kepada pasukan yang turut dalam penaklukannya.

Bilal berkata kepada Umar, “Bagikanlah harta rampasan yang diperoleh kepada kita dan ambillah seperlima darinya.” Umar bin Khaththab ra. menjawab, “Tidak, ini adalah harta mereka.” Bilal berujar lagi, “Bagikanlah harta tersebut di antara kita.” Umar pun menegaskan, “Cukuplah hal ini bagimu, wahai Bilal.” Lalu pembagian tidak berlaku di antara mereka.

Baca juga:  Peradilan Antisuap (Nasihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. kepada Para Hakimnya - Bagian 1/2)

Dari Zaid bin Abi Habib bahwa Umar bin Khaththab ra. menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash pada saat penaklukan Kota Irak. “Amma ba’du, telah sampai kepadaku surat yang mengabarkan bahwa orang-orang menanyakan tentang pembagian harta rampasan perang, dan apa-apa yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, maka lihatlah apa yang telah mereka peroleh dalam pasukan? Adakah dari harta benda dan baju besi? Maka, bagikanlah harta tersebut di antara kaum muslimin, dan tinggalkanlah tanah dan sungainya untuk orang yang akan mengurusnya agar kemudian menjadi suatu pemberian dari kaum muslimin. Sesungguhnya, jika kami membagikannya di antara orang-orang yang hadir, maka tidak akan ada pembagian untuk orang yang datang kemudian.”

Pendapat Amirulmukminin ini didasarkan kepada firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr: 7—10. Ayat tersebut membahas tentang harta fai yang diberikan untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang miskin, ibnu sabil. Juga untuk orang fakir yang hijrah, penduduk Madinah yang telah beriman sebelum datangnya muhajirin dan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Umar bin Khaththab ra. mengungkapkan dalil untuk mendukung pendapat beliau dengan membacakan ayat-ayat tentang fai ini sampai pada firman Allah Swt., “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'” (QS Al-Hasyr: 10)

Baca juga:  Meneladani Umar bin Khaththab sang Negarawan Sejati

Ayat-ayat ini juga yang disampaikan Umar bin Khaththab ra. kepada orang-orang Anshar yang dikumpulkannya untuk dimintai pendapat mereka.

Amirulmukminin berkata, “Aku telah memutuskan untuk menahan tanah rampasan ini beserta hewan liarnya, kemudian menetapkan atas mereka (penduduknya) pungutan kharaj bagi tanah tersebut, jizyah dari budak-budaknya. Selain itu, tanah ini menjadi fai kaum muslimin, pasukan, dan keturunannya, serta orang-orang yang datang setelah mereka. Apakah kalian mengira pembagian ini tidak lebih pantas daripada orang-orang yang menempatinya? Apakah kalian mengira kota besar seperti Syam, Jazirah, Kufah, Bashrah dan Mesir ini lebih pantas dipenuhi oleh tentara dan kekayaannya berputar-putar di antara mereka saja? Dari mana akan diberikan kepada kaum muslimin generasi berikutnya jika tanah dan hewan liarnya telah dibagi-bagikan?”

Memahami ayat 10 surah Al-Hasyr, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Ini merupakan pengertian yang mencakup semua manusia sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya tidak seorang pun dari kaum muslimin, kecuali baginya ada hak dan bagian dari fai ini.”

Para sahabat sepakat dengan pendapat Umar bin Khaththab ra. dan mereka menyatakan, “Pendapatmu adalah pendapat yang paling baik, dan apa yang engkau ungkapkan adalah benar.”

Baca juga:  Jiwa Besar di Balik Kesederhanaan (Kisah Sa'id bin Amir)

Khalifah Menugasi Orang yang Tepat

Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata, “Sesungguhnya urusan ini ada padaku, maka adakah seseorang yang cerdas dan mampu menempatkan tanah ini pada tempatnya juga menempatkan hewan liar pada tempat yang mendukungnya?”

Para sahabat menjawab, “Serahkanlah urusan ini kepada Utsman bin Hunaif, karena sesungguhnya dia adalah orang yang memiliki pengertian, cerdas, dan berpengalaman.” Maka Amirulmukminin segera menemuinya dan menyerahkan urusan pengukuran tanah di Irak kepadanya.

Utsman bin Hunaif berangkat ke Irak untuk mengukur tanah sawad ‘tanah hitam dan subur’ dan memberikan tanda batas kharaj. Kemudian dia melaporkan kepada Khalifah dan membacakannya.

Sebelum Umar bin Khaththab ra. wafat, hanya dari tanah sawad yang ada di Kufah telah diperoleh 100 juta dirham (saat itu satu dirham = satu mitsqal). Dengan demikian, Amirulmukminin telah menetapkan tanah tersebut di tangan pemiliknya dan mewajibkan kharaj atas tanah tersebut yang dibayarkan ke Baitulmal kaum muslimin. [MNews/Gz]

Sumber: Al-Amwal: Ensiklopedia Keuangan Publik, Panduan Lengkap Mengelola Keuangan-Zakat-Pajak-dll., Abu Ubaid al-Qasim, Gema Insani; Sistem Keuangan di Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum, Pustaka Thariqul Izzah

One thought on “[Tarikh Khulafa] Kebijakan Kharaj Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Tinggalkan Balasan