Konspirasi Kaum Kuffar (Tafsir Surah Al-Anfal [8]: 30)

Oleh: K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN – Allah Swt. berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ

 وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Ingatlah ketika orang-orang kafir membuat konspirasi terhadapmu untuk menangkap, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat konspirasi dan Allah menggagalkan konspirasi mereka. Allah adalah sebaik-baik Pembuat konspirasi.” (QS Al-Anfal [8]: 30)

Tafsir Ayat

Surah Al-Anfal ayat 30 ini diturunkan di Madinah atau merupakan surah Madaniyah, tetapi isinya menceritakan peristiwa ketika Rasulullah saw. masih di Makkah. Allah Swt. menyatakan, “Wa idz yamkuru bika al-ladzîna kafarû (Ingatlah, ketika orang-orang kafir membuat konspirasi terhadapmu [Muhammad])” dengan huruf zharfiyyah (keterangan waktu) Idz, yang artinya ketika. Digunakannya huruf zharfiyyah ini juga berfungsi li at-tadzkîr (untuk menyegarkan memori orang yang diseru). Makna tadzkîr ini juga dapat  dipahami dari fakta, bahwa ayat ini diturunkan pasca hijrah, sementara isinya mengenai peristiwa sebelum hijrah. Di samping itu, makna tadzkîr ini merupakan konsekuensi dari huruf waw al-‘athfiyyah, yang berfungsi mengaitkan frasa “Wa idz yamkuru” dengan frasa “Wadzkurû idz antum qalîl[un]  (Ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit)” dalam ayat sebelumnya, surah Al-Anfal ayat 26,

}وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون  {

“Ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut orang-orang (Makkah) akan menculik diri kalian. Lalu Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, dan memberi kalian rezeki dari yang baik-baik agar kalian bersyukur.” (QS Al-Anfal [8]: 26)

Dengan demikian, frasa “Wadzkurû” (Ingatlah) telah dibuang dari frasa “Wa idz yamkuru” di atas. Jika dinyatakan secara lengkap, susunannya adalah: “Wadzkurû idz yamkuru”. Dalam hal ini, Allah mengingatkan Rasul dan umatnya dengan menggunakan fi‘l al-mudhâri‘ yamkuru, yang berkonotasi kekinian dan futuristik agar realitas konspirasi tersebut tidak hanya diingat oleh umat Islam sebagai peristiwa masa lalu, tetapi harus diingat pula sebagai realitas kekinian dan futuristik.[1]

Ini berbeda dengan konspirasi Bani Israel terhadap Nabi Isa as. dalam surah Ali Imran ayat 54, yakni ketika Allah menyatakan dengan menggunakan fi‘l al-mâdhî, yang berkonotasi masa lalu, yaitu, “Wamakarû wa makara Allâh (Mereka telah membuat konspirasi dan Allah pasti menggagalkan konspirasi [mereka]).” Meskipun demikian, ayat di atas tetap merupakan informasi politik (ma‘lûmât siyâsiyyah) yang berharga bagi Rasul mengenai Bani Israel, Yahudi. Ini artinya, bahwa konspirasi orang kafir terhadap Islam dan umatnya tidak berhenti pada waktu itu, tetapi berlangsung terus-menerus; dulu, kini, dan yang akan datang.

Menurut as-Suyûthi, berdasarkan keterangan dari Sufyân bin ‘Uyaynah, semua kata makara-yamkuru-makr[an] dalam al-Quran berkonotasi tindakan atau aksi.[2] Kata al-makr, menurut Ibn Manzhûr, adalah ihtiyâl fî khufyah (tipudaya secara rahasia atau terselubung). Makna asal kata ini adalah al-khidâ‘ (manipulasi atau penipuan).[3] Karena itu, makara-yamkuru-makr[an] bisa diartikan konspirasi.

Al-Farrâ’, mufasir pertama yang membukukan tafsirnya, dalam kitabnya, Ma‘âni al-Qur‘ân, menuturkan konspirasi tersebut sebagai berikut:

Sejumlah orang Quraisy telah berkumpul, kemudian mereka menyatakan, “Bagaimana pendapatmu mengenai Muhammad?” Iblis kemudian nimbrung bersama mereka dengan menjelma menjadi orang tua dari Najd. ‘Amr bin Hisyâm (Abû Jahal) berkata, “Saya berpendapat, sebaiknya kamu memenjarakannya di sebuah rumah; kamu sekap di sana, kamu buka sedikit lubang untuknya; lalu kamu persempit sedikit demi sedikit hingga dia mati.” Iblis tidak setuju. Dia berkomentar, “Pendapat yang paling buruk adalah pendapat kamu.” Abu al-Bakhtari bin Hisyâm berkata, “Saya berpendapat, dia seharusnya dibawa di atas unta, kemudian dijatuhkan hingga binasa, atau biar sebagian orang Arab memotong-motongnya untukmu.” Iblis itu berkomentar lagi, “Pendapat yang buruk. Bagaimana kalau kamu mengirim seorang laki-laki dari kalangan kamu?” Abû Jahal berkata, “Saya pikir, kita bisa membawa seorang laki-laki ke sana dari tiap-tiap etnik Quraisy sehingga kita bisa membunuhnya dengan pedang kita.” Iblis itu berkata, “Pendapat yang tepat adalah pendapat pemuda ini.”

Jibril lalu menyampaikan informasi tersebut kepada Nabi saw. Beliau kemudian meningalkan Makkah bersama Abû Bakar. Karena itu, firman Allah yang menyatakan, “Liyutsbitûka” dalam ayat tersebut artinya adalah menangkap dan memenjarakan kamu di rumah (penjara).[4] Sedangkan maksud “aw yukhrijûka” adalah mengusir kamu, atau dalam konteks sekarang, mencabut kewarganegaraan kamu, dan “aw yaqtulûka” maksudnya adalah membunuh kamu.

Ketiga bentuk makar —penangkapan, pengusiran, dan pencabutan kewarganegaraan, atau pembantaian— tersebut semuanya juga dinyatakan dengan menggunakan fi‘l al-mudhâri‘, yang berarti bahwa gaya-gaya konspirasi konvensional dan tradisional alias jahiliah itu tetap digunakan oleh orang-orang kafir, sekalipun mereka mengaku berperadaban modern, maju, dan kosmopolit.

Baca juga:  [Haditsu al-Shiyam] Hukum Meminta Bantuan Orang Kafir (Bagian 1/2)

Sekali lagi, Allah mengingatkan konspirasi mereka dengan mengulang kata yang sama, “wa yamkurûna”. Ini untuk menguatkan impresi orang yang diseru (al-mukhâthab) terhadap adanya ancaman laten tersebut.

Allah kemudian menyatakan, “Wa yamkuru Allâh, wa Allâhu khayr al-mâkirîn (Allah akan menggagalkan konspirasi [mereka].” Allah adalah Zat yang Mahabijak dalam menggagalkan konspirasi [mereka]). Ketika Allah membalas konspirasi orang kafir, Allah menggunakan kata yang sama, “yamkuru“, tetapi dengan maksud yang berbeda.

Bentuk penjelasan seperti ini disebut dengan bayân al-musyâkalah. Karena itu, “makar” Allah konotasinya berbeda dengan “makar” orang kafir. Jika makar orang kafir adalah merekayasa kejahatan atau kezaliman untuk menghancurkan pihak lain yang menjadi targetnya, maka makar Allah berarti menggagalkan rekayasa dan konspirasi yang mereka rancang.[5]

Pertanyaannya, apa maksud Allah menyatakan semuanya ini? Bukankah peristiwa itu sudah berlalu? Dengan kaidah munâsabât bayna al-ayah wa ukhrâ (hubungan ayat satu dengan yang lain), dapat dijelaskan bahwa tujuan Allah mengingatkan orang-orang mukmin terhadap semuanya ini adalah agar mereka: tidak berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan amanah mereka dengan sengaja (QS 8: 27); tidak tergoda oleh harta dan anak sehingga melupakan Allah (QS 8: 28); serta agar mereka bertakwa jika mereka ingin mendapatkan furqân (jalan keluar di dunia dan akhirat; jalan keluar dalam urusan agama dari syubhât; jalan  keselamatan, penjelasan),[6] ditebusnya seluruh keburukan, dan diampuninya dosa-dosa mereka (QS 8: 29). Sebab, dengan semua itu, mereka telah mendapatkan kemenangan dalam Perang Badar, ketika jumlah mereka masih sedikit (QS 8: 26), dan lolos dari konspirasi orang-orang kafir (QS 8: 30) pada waktu itu.

Dengan demikian, ketika konspirasi orang-orang kafir terhadap Islam dan umatnya ini berlangsung terus (dulu, kini, dan yang akan datang)—sementara mereka merupakan musuh laten Islam dan umatnya, tentu jika umat Islam berpegang teguh pada apa yang telah dinyatakan di atas, akan menjadi solusi mendasar bagi mereka. Dalam konteks ini, Allah berfirman,

}فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ{

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami mengambil (kesenangan) mereka dengan sekonyong-konyong hingga mereka terdiam berputus asa.” (QS Al-An‘am [6]: 44)

Dengan melupakan peringatan Allah, umat Islam akan mudah dikalahkan dan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka melalui makar dan konspirasi jahat mereka.  Inilah secara umum tafsir surah Al-Anfal ayat 30 di atas.

Wacana Tafsir: Konspirasi yang Tak Berujung

Ayat di atas secara umum mengingatkan Rasul dan umat Islam —yang menjadi obyek seruan (al-mukhâthab) ini— agar mereka selalu mewaspadai konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap mereka. Sebab, konspirasi mereka terhadap Islam ini tidak mengenal batas waktu—baik dulu, kini maupun yang akan datang—sampai tujuan dan target mereka tercapai. Ini juga bisa dipahami dari firman Allah  yang lain,

}وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا{

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup.” (QS al-Baqarah [2]: 217)

Ayat ini juga diturunkan pasca Rasulullah saw. hijrah ke Madinah atau merupakan ayat Madaniyah, yakni setelah Rasulullah saw. lolos dari konspirasi orang-orang musyrik Makkah. Namun, ayat ini mengingatkan, bahwa konspirasi itu belum akan berakhir sampai tujuan dan target mereka tercapai; mengembalikan mereka pada agama jahiliah. “Inistathâ‘û” (seandainya mereka mampu), demikian Allah menggambarkan kesungguhan mereka. Frasa tersebut menggambarkan aqshâ al-istithâ‘ah (kemampuan paling puncak). Artinya, mereka akan mencurahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki dan, seandainya mereka mampu, apa pun pasti akan mereka lakukan sampai tujuan mereka benar-benar tercapai. Allah juga menggambarkan, bahwa mereka tidak segan-segan merogoh kocek mereka untuk mewujudkan tujuannya,

}إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ {

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (QS al-Anfal [8]: 36)

Semua penjelasan Allah di atas merupakan bentuk kasyf al-khuthath (upaya membongkar konspirasi). Tujuan Allah menjelaskan semuanya itu agar Rasul dan seluruh umat Islam selalu menyadari dan mewaspadai agenda-agenda kaum kuffâr, baik Ahli Kitab, seperti Yahudi dan Nasrani maupun musyrik, seperti Hindu dan Budha, termasuk Sosialis.

Baca juga:  Negara-negara Barat Membantai Demokrasi dan Kebebasan di Tiang Salib

Ketika Rasulullah saw. masih di Makkah, konspirasi tersebut dilakukan melalui propaganda dalam rangka menstigmatisasi Islam; juga melalui penangkapan,  penyiksaan, serta pemboikotan terhadap para pengemban Islam. Propaganda tersebut dilakukan dengan metode penyesatan (tadhlîl), baik secara pemikiran maupun politik. Secara pemikiran, Islam dikatakan sihir,[7] dan secara politik, Islam dicitrakan sebagai biang perpecahan.[8]

Penyesatan seperti ini terus-menerus mereka lakukan. Ketika upaya ini gagal, mereka melakukan langkah kedua: penangkapan dan penyiksaan. Tercatatlah nama-nama sahabat agung seperti Bilâl bin Rabbâh, Abû Dzar al-Ghifâri, dan Sumayyah sebagai korban kebiadaban konspirasi mereka.

Ketika upaya ini juga gagal, mereka melakukan pemboikotan terhadap para pengemban Islam. Pemboikotan ini dilakukan bukan hanya terhadap Rasulullah saw. dan pengemban Islam, tetapi orang non-muslim, seperti Banî Hâsyim dan Banî al-Muthallib yang simpati terhadap Islam. Mereka tidak boleh mengadakan transaksi  jual-beli dan pernikahan dengan orang-orang kafir Quraisy. Namun, setelah itu justru orang Makkah bersimpati kepada orang-orang yang dianiaya itu. Hasilnya, tiga pemuda Quraisy, Hisyâm bin Amr, Zahîr, dan Muth‘im bin Adî, bersama-sama merobek naskah perjanjian zalim itu dan berakhirlah pemboikotan tersebut.

Mereka tidak berhenti sampai di situ. Setelah Rasul berhasil mendirikan negara Islam di Madinah, mereka terus-menerus berusaha menghancurkan negara Islam. Dalam rentang 10 tahun pemerintahan Rasulullah saw. saja, telah tercatat peperangan antara umat Islam dan kaum kuffâr; baik musyrik, maupun Ahli Kitab, Yahudi, dan Nasrani sebanyak 43 kali.

Setelah Rasulullah saw. wafat, umat  telah diwarisi sebuah negara adidaya baru yang belum pernah dikenal dalam sejarah. Selama 4 abad, mulai abad ke-7 hingga ke-11, umat Islam telah menikmati kemegahan sebagai super power.  Namun, ketika umat Kristiani Eropa mulai membaca adanya perpecahan di tubuh umat Islam pada zaman ‘Abbasiyah, dendam lama mereka muncul kembali, dan mereka sangat bernafsu untuk mengalahkan umat Islam. Meletuslah Perang Salib selama dua abad, antara abad 11-13 M. Era ini memang merupakan era kegelapan Dunia Islam, namun orang-orang kafir  tidak pernah berhasil menghancurkan mereka, sekalipun mereka terpecah-belah.

Belum sembuh luka akibat Perang Salib, tentara Tartar melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Sebanyak 1,6 juta muslim dibunuh di Baghdad, Irak. Kenistaan itu berhasil diakhiri setelah tentara Tartar dikalahkan dalam Perang  Ayn Jalut pada tahun 1260. Banyak tentara Tartar kemudian masuk Islam setelah menyaksikan kemuliaan ajaran ini.

Namun demikian, konspirasi orang-orang kafir tidak pernah berhenti. Mereka sadar, bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan dengan perang fisik. Setelah itu, dimulailah era perang baru, perang pemikiran (intellectual struggle). Pada abad ke-14, mereka mendirikan pusat studi ketimuran (the oriental studies), yang kemudian melahirkan para orientalis. Mereka mulai mengkaji kekuatan Islam dan berusaha menyesatkan umat Islam dari ajarannya.

Dalam kondisi umat yang mengalami kemunduran berpikir yang sedemikian parah, khususnya setelah pintu ijtihad di tutup pada abad ke-4 H/10 M, intellectual struggle memang mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap umat Islam. Sekalipun demikian, mereka tidak berhasil memurtadkan umat Islam dari ajaran Islam sehingga mereka harus melakukan inkuisisi terhadap umat Islam.

Pada abad ke-15, pasca jatuhnya Granada ke tangan orang Kristen, umat Islam di Spanyol ditangkapi, diinterograsi, dan disiksa agar meninggalkan agamanya. Itulah peradilan inkuisisi yang mereka gelar terhadap umat Islam di Spanyol.

Mulai abad ke-16 M, bangsa Eropa Kristen telah bangkit dengan Renaisansnya. Setelah itu, mereka mulai melakukan imperialisasi di negeri Islam dengan semboyan: Glory, Gospel, dan Gold. Imperialisasi semakin menjauhkan umat dari konsepsi keagamaannya.

Pada abad ke-17 M, misionaris Kristen pertama masuk di Lebanon, dan mulai merusak pemahaman umat terhadap Islam. Pada abad ke-18, Inggris telah membonceng di belakang Ibn Sa‘ud, dengan menggunakan Gerakan Wahabi, untuk menghancurkan negara Islam dari dalam.

Pada abad ke-19 M, konspirasi Inggris, Prancis, dan Rusia berhasil memicu Krisis Balkan. Pada abad inilah, UUD ala Barat mulai diperkenalkan di  negeri Islam. Sebut saja, Honourable Script (1839) dan Hemayun Script (1855), dua model UUD yang pernah dipaksakan Inggris kepada Khilafah Utsmaniyah.

Pada awal abad ke-20, di Hijaz muncul Syarif Hussein, dan di Istanbul muncul Kemal Ataturk, yang keduanya merupakan kaki tangan Inggris. Dengan konspirasi Inggris dan Prancis, pada tahun 1924 M, telah terjadi revolusi kufur yang berhasil meruntuhkan Khilafah Islam di Turki. Dalam pernyataannya, Cerzon, menteri Luar Negeri Inggris ketika itu, mengatakan,

“Kita benar-benar telah menghancurkan Turki sehingga Turki tidak akan pernah bisa bangkit kembali setelah itu. Alasannya, kita telah menghancurkan kekuatannya yang tercermin dalam dua hal: Islam dan Khilafah.”[9]

Baca juga:  Kafir Tetaplah Kafir

Setelah itu, konspirasi mereka diarahkan untuk mengaborsi setiap gerakan atau partai politik yang berusaha mengembalikan kejayaan Islam dan umatnya melalui Khilafah Islam. Jemaat al-Khilafah di India (1924) berhasil dibelokkan menjadi gerakan nasionalisme dan berfusi dengan Partai Konggres, yang menjadi kaki tangan Inggris di India. Konferensi Khilafah (1924) berhasil disusupi intelijen Inggris, lalu dibubarkan. Kemudian, diterbitkanlah buku yang menyatakan tidak ada negara dan tidak wajib mendirikan negara Khilafah, yaitu yang berjudul, al-Islâm wa Ushûl al-Hukm (1925), karya ‘Ali bin ‘Abdurraziq.

Pada saat yang sama, media massa disibukkan dengan wacana Pan-Arabisme atau Pan-Islamisme, yang diembuskan Inggris dengan maksud menjauhkan umat Islam dari isu Khilafah. Umat akhirnya melupakan Khilafah Islam. Namun, memasuki dekade 50-an sampai 70-an, isu Khilafah kembali mencuat ke permukaan. Inggris yang memahami betul strategisnya isu Khilafah bagi Islam dan umatnya segera menggerakkan kaki tangannya di Timur Tengah untuk melakukan rekayasa guna menangkap, membunuh, dan menghabisi individu, kelompok, atau partai yang berusaha mengembalikan Khilafah Islam.

Inggris dan Amerika mencoba mengulang kesuksesan Spanyol dengan menerapkan peradilan inkuisisi yang dilegalkan dalam Internal Security Act (ISA), UU Subversif (kini menjelma menjadi UU Antiterorisme), atau apa pun namanya, untuk menghancurkan Islam dan umatnya.

Kini, isu terorisme menghiasi kembali panggung politik dunia. Moncongnya diarahkan kepada Islam dan umatnya; justru ketika mata dunia menyaksikan kebobrokan Kapitalisme. Citra Islâm rahmat[an] lil al-‘âlamin tenggelam dan digantikan citra barbarisme. Islamofobia itulah targetnya. Semua ini merupakan konspirasi kaum kuffâr. Namun, usaha ini sia-sia, karena justru banyak orang kafir kemudian mempelajari Islam secara intensif untuk menemukan realitas yang sesungguhnya.

Wacana Tafsir: Membongkar Konspirasi

Konspirasi orang-orang kafir terhadap Islam dan umatnya memang tidak pernah berhenti. Karena itu, konspirasi tersebut harus dibongkar. Al-Qur’an sendiri memberikan banyak contoh tindakan membongkar konspirasi (kasyf al-mu‘âmarât) tersebut. Karena itu, kasyf al-mu‘âmarât ini merupakan salah satu metode dakwah Islam yang wajib dilakukan oleh para pengemban dakwah. Covering action yang dilakukan untuk menutupi jati diri individu, kelompok, atau negara itu memang harus dibongkar sehingga umat Islam, seperti  sabda Rasul,

« لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ »

“Seorang mukmin tidak layak dipatuk (ular) dua kali dari lubang yang sama.” (HR al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurayrah)

Membongkar konspirasi (kasyf al-mu’âmarât) ini dimaksudkan untuk membentuk kesadaran politik (al-wa‘y as-siyâsî) umat; kesadaran yang dibentuk berdasarkan sudut pandang tertentu terhadap dunia. Karena itu, ketika al-Qur’an menyatakan bahwa orang-orang kafir adalah musuh Allah (QS 2: 98 dan 8: 60) dan orang mukmin (QS 8: 60), maka ini merupakan sudut pandang tertentu yang akan membentuk kesadaran orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

Lebih jauh, ketika Al-Qur’an menjelaskan secara detail tabiat orang-orang kafir, baik Ahli Kitab maupun musyrik, tentang kebencian (QS 3: 118), konspirasi (QS 8: 30; 86: 15-17), kerja sama antarsesama mereka (QS 8: 73), kerja sama mereka dengan orang munafik (QS 5: 51)—yang menjadi kaki tangan penjajah—- termasuk bantuan dana (QS 8: 36), penyesatan pemikiran dan politik (QS 5: 110; 6: 7;  10: 76;  27: 13; 34: 43; 46: 7; 2: 102), serta penangkapan, pembantaian, dan pencabutan kewarganegaraan (QS 8: 30) untuk menghancurkan Islam dan umatnya, tidak lain merupakan upaya Al-Qur’an untuk membentuk kesadaran politik umat dengan cara membongkar konspirasi jahat tersebut. Wallâhu a‘lam. [MNews/Rgl]

[1]     Ash-Shâbûni, Shafwat at-Tafâsîr, Dâr as-Shâbûni, cet. IX, t.t., juz I, hlm. 505.     

[2]     Lihat: as-Suyûthi,  Itqân Mâ Yuhsin min al-Akhbâr ad-Dâirah ‘alâ Alsin, al-Fârûq al-Hadîtsiyyah, Kairo, cet. I, 1415, juz I, hlm. 424.     

[3]     Ibn Mazdhûr, Lisân al-‘Arab, Dâr al-Fikr dan Dâr Shâdir, Beirut, cet. III, 1994, juz V, hlm. 184.     

[4]     Abî Zakariyyâ’ Yahyâ al-Farrâ’, Ma‘ânî al-Qur’ân, ed. Ali an-Najjâr, Dâr as-Surûr, Beirut, t.t., juz I, hlm. 408-409.

[5]     Ash-Shâbûni, Shafwat,  juz I, hlm. 505.     

[6]     Makna Furqân di atas berdasarkan pandangan Mujâhid, ad-Dhahâk, Muqâtil, dan Ikrimah. Lihat, al-Baghawi,  Ma‘âlim at-Tanzîl (Tafsîr al-Baghawi),  Dar al-Ma’rifah, Beirut, cet. II, 1987, juz II, hlm. 243-244.     

[7]     Lihat: QS al-Mâ’idah [5]: 110; al-An’âm [6]: 7;  Yûnus [10]: 76;  an-Naml [27]: 13; Saba’ [34]: 43; al-Ahqâf [46]: 7.     

[8]     Lihat: Qs al-Baqarah [2]: 102. 

[9]     Lihat:  Ali Belhaj,  Tanbîh al-Ghâfilîn wa I’lâm al-Hâ’irîn bianna I’âdah al-Khilâfah min A’dham Wâjibât Hâdhza ad-Dîn, Dâr al-‘Uqâb, Beirut, t.t., hlm. 12.

Tinggalkan Balasan