EventKomentar PolitikNasional

#TokohBicaraHijrah—Hijrah di Mata Intelektual Muslimah (4)

Perubahan ke arah Islam membutuhkan peran seluruh komponen masyarakat.  Di antaranya dari kalangan intelektual yang merupakan kelompok strategis karena kelebihan ilmu dan kedudukannya di tengah umat.

Sayangnya, hari ini peran mereka sebagai motor perubahan nyaris mandul karena sistem pendidikan sekuler hanya menargetkan output generasi pekerja, bukan arsitek peradaban.  Maka, wajar jika posisi Indonesia jauh dari kebangkitan.

Oleh karenanya diperlukan revitalisasi peran intelektual dengan menghadirkan paradigma ideologis berdasarkan Islam.  Salah satunya dimulai dengan menyadarkan tentang urgensi dan kewajiban hijrah atau perubahan hakiki yang dibutuhkan umat Islam.

Berikut pandangan kalangan intelektual muslimah yang sudah tercerahkan:

Hijrah Komunal Mewujudkan Rahmatan Lil ‘Alamin

Erni Purbiyanti, S.P., M.Si. (Dosen Unsri)

Semangat hijrah adalah takwa untuk menggapai rida Allah Swt..  Bukan hanya sebatas hijrah individu, melainkan hijrah komunal. Karena Islam rahmatan lil ‘alamin sejatinya bukan hanya slogan, melainkan hasil dari implementasi aturan Islam dalam semua sendi kehidupan pada tataran komunal.  Sehingga, melalui hijrah komunal inilah Islam rahmat bagi semesta alam yang tercermin dalam baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr insyaa Allah akan terwujud.

__________

Hijrah demi Misi Besar

Sri Handayani, S.Pd., M.I. Kom. (Mengajar di Salah Satu PTN di Malang)

Jika kita bertolak pada hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat, hijrah bukan sekadar perpindahan individu untuk tujuan perubahan individu menjadi lebih baik.

Baca juga:  [News] K.H. Rokhmat S. Labib: Hijrah itu Meninggalkan Kemaksiatan Menuju Islam

Namun lebih dari itu hijrah dilakukan untuk tercapainya misi besar yaitu membangun tatanan masyarakat yang diterapkan atasnya syariat Islam kafah sehingga mampu mewujudkan predikat khaira ummatin.

Tentunya akan lebih banyak tantangan dalam perjalanan hijrah yang demikian.  Untuk itu perlu kita hijrah bareng-bareng agar bisa saling menguatkan dalam menghadapi tantangan.

_________

Hijrah Sepanjang Hayat

Dewi Rahayu, S.P., M.Si. (Mengajar di Kampus PTN di Riau)

Rasul hijrah ke Madinah karena dimungkinkan bahwa beliau dan Islam diterima disana. Tidak singkat mempersiapkan kondisi ini karena berbagai bentuk rintangan dakwah telah dilalui oleh Nabi Muhammad dan pengikutnya selama 13 tahun di Makkah. Bukan sekadar berpindah tempat, Madinah siap menerima dan berubah dengan Islam hingga Islampun menyebar dan tetap diyakini hingga saat ini.

Jika ingin selalu menjadi lebih baik, tentu hijrah menjadi tak akan berhenti sepanjang hayat.  Perubahan menjadi taat dan kepatuhan pada syariat tak mudah di dapat, apalagi ditengah fitnah yang banyak. 

Hijrah pada akhirnya memerlukan tekat dan pengorbanan.  Apalagi hijrah secara total, mentaati perintah Allah dalam setiap sendi kehidupan pasti tak bisa secara individu.  Maka hijrah mesti bersama, bareng-bareng. Aamiin.

Baca juga:  [News] Ustaz Felix Siauw: Hidup Manusia Senantiasa Memerlukan Aturan

______

Hijrah Hakiki Menyelamatkan Negeri

Dr. Retno Palupi (Dosen Perguruan Tinggi di Surabaya)

Hijrah itu berpindah dari kondisi maksiat menjadi taat. Ketaatan yang sempurna kepada syariat kafah, hanya demi meraih rida Ilahi.

Itulah hijrah hakiki yang akan menyelamatkan negeri ini dari keburukan sekularisasi dan kapitalisasi. Kembali pada aturan Islam satu-satunya solusi.

________

Hijrah Akan Membawa Kebaikan bagi Semua

Tutus Rully, S.E., M.M. (Dosen PTS di Bogor)

Jika melihat kondisi sekarang menurut saya bukan hijrah tetapi lebih kepada kemunduran.

Ini menjadikan kita sebagai umat muslim makin yakin dan kuat bahwa Al-Qur’an adalah satu satunya pedoman yang harus dipegang (karena keadaan yang kita alami ini sudah ada di dalam Al-Qur’an), bahwa zaman makin lama bukan makin membaik, tetapi makin memburuk.

Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan keimanan kita dengan cara menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi larangannya secara kafah.

Perpindahan dari hal negatif ke hal positif  terkait kehidupan, baik fisik maupun nonfisik (jasmani maupun rohani) memberikan kebaikan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Dampak hijrah akan memberikan kebaikan untuk semua (rahmatan lil ‘alamiin).

_________

Hijrah Menjadikan Islam sebagai Standar Hidup

Dr. Elida Novita, S.T.P., M.T. (Mengajar di Universitas Jember)

Baca juga:  Khilafah Merespons Sikap Kritis Warga Negara terhadap Kebijakan

Hijrah bagi saya adalah berupaya berubah untuk menjadikan Islam sebagai standar hidup, menyampaikan Islam melalui dakwah rahmatan lil ‘alamin. Menjadikan akidah Islam sebagai ideologi syamil yang mampu memperbaiki sistem kapitalisme yang rusak. Tolak ukur berfikir dan berbuat adalah syariat Islam yang perlu terus dipelajari dan diamalkan hingga roh terpisah dari raga. Laa haula wa laa quwwata Illa billah.

__________

Hijrah Harus Berjemaah

Heptari Elita Dewi, S.P., M.P. (Dosen PTN Malang)

Hijrah itu momen luar biasa, butuh pengorbanan, tidak bisa sendirian. Maka hijrah bersama-sama dalam jemaah adalah pilihan terbaik untuk meraih pertolongan Allah.

________

Butuh Hijrah Lingkungan

Darni Safitri, S.P, M.B.A. (Mengajar di UIN Sultan Syarif Kasim Riau)

Hijrah dalam pandangan saya adalah proses merubah diri dan lingkungan untuk menjadi lebih baik. Dalam lingkup kecil, hijrah adalah gerakan perubahan pribadi menjadi hamba sesuai dengan tuntutan dan perintah Allah.

Namun, proses perubahan pribadi ini tidak bisa tercapai sepenuhnya jika tidak didukung dengan hijrahnya lingkungan (sistem politik dan pemerintahan) yang juga Islami. Sehingga sudahh seharusnya kita semua berusaha sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan ini menuju Islam kafah. [MNews]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *