Hijrah Hakiki dan Seruan para Pengadangnya

Penulis: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS — Bicara tahun baru Islam adalah bicara hijrah, karena sejarah penetapan awal tahun penanggalan Islam didasarkan pada hijrah Nabi saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah tonggak penting perubahan, maka wajar seruan-seruan hijrah pun banyak didengungkan sebagai wujud semangat perubahan.

Hanya saja, penting bagi kita memahami bagaimana seharusnya hijrah saat ini dilakukan, agar benar-benar bermakna perubahan hakiki, bukan sekadar ikut-ikutan tren berhijrah atau mengikuti seruan-seruan hijrah semu yang justru menjauhkan umat dari hijrah yang sesungguhnya.

Memahami Makna Hijrah Hakiki

Hijrah hakiki bukan hanya sekadar hijrah mengikuti tren, tetapi hijrah dari apa-apa yang dilarang Allah Swt. dan Rasul-Nya. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah saw., beliau bersabda, “Muslim itu adalah orang yang menjadikan muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya, dan al-Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang.” (HR Bukhari)

Hijrah hakiki juga bermakna berpindah dari darul kufur menuju darul Islam. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyebutkan bahwa para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju darul Islam. (An-Nabhani, T. Syakhshiyyah al-Islamiyyah. Al Juz Al-tsani. Hizbut Tahrir. 2003).

Hijrah dari darul kufur menuju darul Islam ini masih berlaku hingga sekarang, bahkan sampai nanti. Hijrah tersebut dimaksudkan agar umat Islam benar-benar bisa berhijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan secara total kepada Allah Swt.. Karena darul Islam yaitu Daulah Islam tersebut hari ini belum ada, maka tugas umat Islam untuk mewujudkannya. Pada saat itulah hijrah secara nyata bisa diwujudkan sebagaimana tuntutan yang dikandung dalam QS An-Nisa’ [4]: 97.

Hijrah Hakiki, Bermakna Perubahan Hakiki

Dengan memperhatikan sirah Rasulullah saw., kita bisa lihat bagaimana Rasul berhijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam di sana, semata untuk merealisasikan ketaatan secara sempurna kepada Allah. Inilah hijrah hakiki, hijrah yang telah mengantarkan umat Islam mengalami perubahan yang luar biasa hingga menjadi umat terbaik.

Hijrah ini telah mengantarkan perubahan dari umat yang lemah menjadi umat yang kuat. Daulah Islam telah membuat Islam dan umat Islam yang tadinya lemah dan terancam, lambat laun menguat. Bahkan, Daulah ini makin membesar dengan dilakukannya futuhat (penaklukan) di berbagai negeri. Daulah Islam pun menjelma menjadi sebuah negara yang kuat dan dominan di kancah internasional.

Baca juga:  Ada Megaproyek Moderasi Islam di Balik Terowongan Toleransi

Hijrah ini juga mengantarkan perubahan dari level individu ke level negara. Ketika masih di Makkah, Islam hanya diyakini dan diamalkan oleh individu muslim. Mereka banyak sekali mendapat hambatan dan ancaman. Islam tak memiliki pengaruh berarti di sana.

Namun, ketika Daulah Islam tegak di Madinah, semua hambatan itu hilang. Taat kepada Allah menjadi mudah. Islam diemban oleh negara. Syariat Islam dijadikan sebagai pengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hijrah telah memisahkan antara yang hak dengan yang batil, antara Islam dan kekufuran. Islam pun mewujud sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Inilah yang mengantarkan umat Islam meraih kesejahteraan yang luar biasa.

Hijrah juga telah mengantarkan perubahan dari berpecah menjadi bersatu (persatuan). Ditegaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani,

“Rasulullah saw. wafat setelah seluruh jazirah Arab masuk Islam. Datang para khulafaurasyidin, pembebasan pun terus berlanjut. Irak maupun Persia berhasil dibebaskan. Syam berhasil dibebaskan. Mesir berhasil dibebaskan. Demikian juga Afrika Utara, berhasil dibebaskan. Pada masa Umayyah, Sind, Khawarizin, dan Samarkand hingga Spanyol, berhasil sebagai bagian dari sistem Khilafah. Berbagai negeri ini memiliki beragam suku bangsa, bahasa, agama dan kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, undang-undang dan kebudayaan, sehingga secara alami memiliki beragam pola pikir dan pola sikap.”

(An-Nabhani, T. Ad-Daulah Al-Islamiyyah. Shahru As Syu’uub wa ja’alahaa immatun wahidatun. 161-3. Hizbut Tahrir. 2003).

Islam yang diterapkan oleh Khilafah, telah melebur dan menyatukan mereka menjadi umat yang satu.

Wasathiyah, Pengadang (Penghalang) Hijrah Hakiki

Hijrah adalah menjadikan Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Tidak sempurna hijrah jika tidak meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjauhi kemaksiatan, termasuk hijrah dari darul kufur menuju darul Islam.

Baca juga:  [News] Negara Mayoritas Muslim Mestinya Menerapkan Islam Kafah, Bukan Moderasi Agama

Namun hari ini, hijrah hakiki menghadapi ancaman. Di antaranya adalah pemikiran wasathiyah ‘moderat’. Pemikiran ini tidak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam saat Khilafah Islam masih tegak dan menerapkan syariat Islam kafah. Negara Baratlah yang pada awalnya memproduksinya, yang kemudian memaksa kaum muslimin agar ikut mengadopsinya.

Berbagai seruan hijrah semu ala wasathiyah telah mengaburkan bahkan menghalangi hijrah yang sesungguhnya. Seruan tersebut di antaranya adalah seruan membangun nilai-nilai akhlak mulia, seperti hidup rukun dan damai, toleransi, persahabatan, persatuan, dan kerja sama antarumat beragama.

Dalam sambutan peringatan Tahun Baru 1 Muharam 1443 Hijriah, Jokowi meminta masyarakat meningkatkan sikap moderasi beragama, toleransi, inklusif, dan ta’awun atau tolong menolong antarsesama umat muslim. “Sebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Teladani akhlak Nabi dengan mengajarkan kebersamaan dan toleransi serta menghindari syiar kebencian,” ucapnya.[1]

Makna Islam rahmatan lil ‘alamiin menurut wasathiyah adalah Islam yang damai dan toleran, yang bersikap baik terhadap siapa pun, termasuk kepada pelaku maksiat. Bahkan, memberi gelar kehormatan kepada pelaku kesesatan, sebagaimana rencana UIN Suska yang akan memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Sri Paus yang notabene adalah pemimpin agama Katolik.[2]

Bagaimana mungkin bisa dibenarkan dalam pandangan Islam memberikan gelar kehormatan kepada orang kafir (lihat QS Al-Maidah [5]: 72—75) yang melakukan dosa yang sangat besar di sisi Allah Swt. (lihat QS Maryam [19]: 90—92)?

Seruan wasathiyah ini jelas sangat bertentangan dengan Islam karena mengajarkan toleransi kebablasan, hingga mengakui kebenaran semua agama. Padahal, akidah Islam menetapkan hanya Islamlah agama yang benar (lihat QS Ali Imran [3]: 19).

Konsep wasathiyah juga telah menghalangi umat dari ketaatan secara totalitas kepada Allah karena mencukupkan diri berislam sebatas nilai, tidak perlu syariat. Menurut konsep ini, penerapan syariat Islam oleh negara (formalisasi agama Islam) adalah menyalahi nilai-nilai universal dan mengancam kebinekaan juga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Para pengusungnya mengklaim, wasathiyah-lah yang akan menyatukan dan menjaga kerukunan di antara pemeluk agama yang

Baca juga:  [Diskusi WAG] Moderasi Islam di Sekolah, Merusak Karakter Generasi Khairu Ummah

berbeda-beda. Tentu Ini adalah klaim sesat dan menyalahi fakta. Realitasnya, wasathiyah tak pernah mampu menyatukan keragaman. Sudah lama pemikiran ini diaruskan bahkan menjadi program resmi dari pemerintah, tetapi berbagai konflik keagamaan masih terus terjadi, dan selalu umat Islam yang harus mengalah. Peristiwa pembakaran masjid misalnya, tidak dianggap sebagai perbuatan intoleran. Sebaliknya, jika umat nonmuslim “diganggu” sedikit saja, tindakan demikian akan segera distigma sebagai bentuk intoleransi dan radikal.

Sejarah justru mencatat, syariat Islam yang diterapkan secara keseluruhan oleh Daulah Islam, menjadi kunci sukses penyatuan berbagai bangsa, ras, bahasa, dan agama yang ada di dunia. Daulah Khilafah menjadi satu-satunya negara di dunia ini yang mampu mewujudkan toleransi hakiki. Hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk agama yang berbeda-beda selama berabad-abad lamanya.

Demikianlah, pemikiran wastahiyah ini jelas mengadang keinginan umat Islam untuk hijrah hakiki. Maka, bagaimana seharusnya kita menyikapinya?

Pertama, kita harus menguatkan keimanan, meluruskan niat, dan tetap istikamah dalam berhijrah dengan hijrah hakiki, bukan hanya sekadar ikut-ikutan tren berhijrah. Dengan cara berusaha agar semua aktivitas kita bukan termasuk aktivitas yang dilarang Allah Swt.. Kita juga harus berusaha agar Daulah Islam bisa segera tegak, karena hanya dengan cara itulah kita bisa berhijrah secara total dari darul kufur (negeri kita hari ini) menuju darul Islam (Daulah Islam).

Kedua, kita perlu menyampaikan bahaya pemikiran wasathiyah kepada umat. Dari sisi pertentangan pemikiran ini dengan akidah dan syariat Islam dan daya rusaknya yang luar biasa karena melahirkan muslim yang sekuler dan liberal, dan karena pemikiran ini menjadi pengadang hijrah hakiki.

Perlu juga menjelaskan kepada umat bahwa wasathiyah adalah ide atau pemikiran kufur yang sengaja disuntikkan ke dalam tubuh Kaum muslimin oleh Barat, untuk mengadang kebangkitan Islam. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Tim WAG-Gz]

*Artikel ini adalah pengantar dari diskusi daring WAG Muslimah News ID pada Sabtu, 14/8/2021.

Catatan Kaki:

[1] suara.com/news/2021/08/10/044404/sambut-tahun-baru-islam-1-muharram-1443-h-jokowi-bicara-semangat-hijrah-saat-pandemi?page=all

[2] https://kemenag.go.id/read/uin-yogyakarta-akan-beri-gelar-doktor-hc-untuk-sri-paus-dan-grand-syekh-al-azhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *