EventKomentar PolitikNasional

#TokohBicaraHijrah—Hijrah di Mata Praktisi Pendidikan

MuslimahNews.Com, NASIONAL—Pendidikan merupakan salah satu tonggak peradaban. Melalui pendidikanlah wajah peradaban dunia akan ditentukan.

Pendidikan sekuler yang dominan hari ini nyatanya telah membawa umat manusia pada peradaban yang sangat rusak. Karena pendidikan seperti ini jauh dari nilai-nilai ruhiyah dan hanya menjadi alat pencetak robot pemutar mesin kapitalisme global.

Oleh sebab itu perlu perubahan mendasar agar bisa mengembalikan pendidikan sebagai tonggak peradaban cemerlang. Dan hal ini relevan dengan momentum Muharam yang lekat dengan spirit hijrah dan perubahan.

Lantas bagaimana para praktisi pendidikan memaknai hijrah dan perubahan? Berikut testimoni yang berhasil kami kumpulkan.

_____

Hijrah Menuju Sistem Pendidikan Berbasis Peradaban Islam

Dr. Hj. Septimar Prihatini, M.Pd. (Pengawas Dikmen dan Pakar Bidang Asesmen Pendidikan)

Di saat pendemi yang berkepanjangan ini, dunia pendidikan terasa mengalami sebuah proses jet lag teknologi. Dari pembelajaran  tatap muka ke peradaban daring. Banyak yang mengkhawatirkan jika hal ini berkepanjangan akan menimbulkan learning loss, yaitu suatu keadaan nihil pembelajaran ideal.

Selain itu, arah kebijakan kurikulum 2013 semakin tidak jelas karena pembatasan kompetensi yang bisa dicapai. Juga pencapaian aspek sikap dan soft skill yang semakin tidak terukur dan teramati. Paradigma pendidikan nasional tidak lagi mengarah kepada tujuan pendidikan yang tercantum dalam UUD 1945, menjadikan manusia Indonesia cerdas lahir dan batin.

Baca juga:  [News] Permendikbudristek 30/2021, UIY: Ada Persoalan Besar, Gender Mainstreaming

Namun dari kebijakan sekolah merdeka, kita dapat mengambil hikmah, sekolah-sekolah berbasis Islam diberi ruang cukup bebas dalam menerapkan kurikulum mandiri. Pada momentum hijrah inilah harus kita manfaatkan peluang ini untuk mengembalikan arah dan visi pendidikan ke arah pendidikan berbasis peradaban dan tsaqafah Islam.

Untuk itu kita secara berjemaah, semua stakeholder pendidikan, segera memanfaatkan momentum ini untuk terus mendominasi materi ajar, uslub dan media ajar kembali ke asas pendidikan Islam.

Kembalikan orientasi pembelajaran untuk pengabdian kepada Allah, sebagai wujud tujuan hidup setiap umat Islam sebagai abdi Allah. Hilangkan dikotomi sains dengan agama, jadikan belajar ilmu apapun sebagai mempelajari bagian ilmu Allah. Siapkan guru sebagai agen-agen dakwah melalui profesionalitasnya.  Siapkan apresiasi finansial kepada guru-guru agar dapat mengajar dengan ikhlas tapi terjamin kesejahteraannya. Ini hanya dalam tataran terbatas dan teknis praktis untuk perubahan yang bisa dilakukan.

Untuk sampai pada perubahan pada tataran implementasi hijrah secara totalitas, membutuhkan banyak pengorbanan yang harus diberikan. Serta butuh perjuangan sungguh-sungguh. Lembaga pendidikan tidak lagi terjebak pada sistem kapitalis yang mencari laba dan melupakan idealisme. Juga diperlukan sebuah sistem pendukung dan pemimpin yang amanah. Sejarah membuktikan bahwa sistem pendidikan merupakan kepanjangan dari sistem politik yang berlaku di sebuah negara.

Semoga dengan hijrah ke arah Islam kafah, perlahan tapi pasti, sistem pendidikan Islam berbasis peradaban Islam akan segera terwujud. Melakukan transformasi kembali menuju perubahan yang menyeluruh, baik dalam aspek pendidikan maupun dalam aspek kehidupan lainnya.

Baca juga:  HTI Dituding Penyebab Pendidikan Mandek, Begini Jawaban Telak dari Akademisi

________

Hijrah Bukan Pilihan tapi Kewajiban

Yani Srisusanti, S.Pd. (Praktisi Pendidikan, Penulis)

Hijrah dalam arti berpindah dari tidak taat menjadi taat merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim, bukan pilihan.

Saya memutuskan hijrah ketika kuliah. Sejak saat itu bertekad untuk mempelajari Islam secara kafah dan menjalani hidup sesuai tujuan penciptaan manusia. Untuk apa saya diciptakan, dari mana, dan akan ke mana setelah mati? 

Jawaban dari semua itu membuat saya melakukan semua hal untuk akhirat saya. Bekerja dan berkarya di dunia untuk kebahagiaan di akhirat kelak. Semoga bisa tetap istikamah hingga akhir. Aamiin.

_________

Hijrah Butuh Lingkungan Pendukung

Ai Nurhayati, M.Pd. (Ibu Rumah Tangga dan Pendidik, Ketua MGMP IPS Kota Sukabumi)

Hijrah adalah proses yang terus menerus dilakukan sebagai muslimin dan muslimah menuju rida Allah.

Hijrah proses yang tidak boleh berhenti, karena iman manusia adakalanya naik dan adakalanya turun.

Oleh karena itu, seorang muslimin dan muslimah harus selalu berada dalam lingkungan yang mendukung untuk mempertahankan keimanannya.

________

Tugas Guru, Menghijrahkan Anak Didik

Kurnia Agustini, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)

Belajar sejatinya harus dapat membentuk kepribadian siswa yang kuat. Harus mampu mengubah secara mendasar pola pikir dan pola sikap anak dengan landasan akidah dan syariat Islam. Itulah makna lain hijrah dalam kepribadian.

Baca juga:  [Editorial] Hijrah, Jangan Salah Arah!

Lebih jauh generasi muda yang telah hijrah itu, mencintai Islam kafah dan menerapkannya secara total. Sehingga dia akan mencari solusi tuntas seluruh persoalan diri, bangsa, dan umat dari ajaran Islam.

Itulah pengorbanan dan perjuangan panjang seorang pendidik. Menjadikan anak didiknya hijrah untuk mencintai Islam dan menjadi pejuang Islam. Aamiin.

________

Perubahan Baik itu Butuh Support System

Fatrin (Pendidik di Jakarta)

Perubahan baik seorang penuntut ilmu adalah ketika dia menjadikan niatnya menuntut ilmu untuk meraih keridaan Allah, tidak lagi berorientasi materi, seperti sekadar lulus, dapat ijazah untuk melamar pekerjaan dan mendapat gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dia belajar untuk tahu hakikat siapa dirinya dan untuk apa Allah menciptakannya.

Perubahan baik seorang pendidik adalah mengajar bukan sekadar rutinitas untuk mendapatkan gaji atau honor, maupun eksistensi diri. Namun, menjadikan aktivitasnya sebagai jalan meraih rida Allah, yakni menjadikan ilmunya bermanfaat untuk mencetak anak didik yang berkepribadian Islam, dan siap berkontribusi untuk kemaslahatan umat dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki.

Perubahan baik ini membutuhkan dukungan sistem yang menerapkan aturan Allah pada seluruh aspek kehidupan. [MNews]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *