Fokus

Kini, Perempuan Terjebak dalam Triple Burden, Masihkah Berharap pada Kesetaraan Gender?

Penulis: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Perbincangan tentang perempuan memang selalu menarik, tidak pernah ada habisnya dan terus berulang. Kali ini yang hangat diperbincangkan adalah tentang peran ganda perempuan, terlebih ketika datang pandemi beberapa pihak mengeluhkan beban tambahan yang dialami perempuan, tidak lagi peran ganda (double burden) tapi sudah menjadi triple burden.

Kerangka kerja triple burden mengatakan bahwa perempuan dalam suatu kondisi bisa mendapatkan beban rangkap tiga secara bersamaan bahkan secara terus menerus. Beban-beban tersebut lahir dan memberikan efek serius atau dampak diskriminatif terhadap perempuan. (mubadalah[dot]id, 26/7/2021)

Triple Burden, Buah Ide Kesetaraan Gender

Dalam tulisannya di mubadalah[dot]id, Khoniq Nur Afiyah menjelaskan bahwa Triple burden adalah sebuah kerangka kerja analisis berbasis gender yang digunakan untuk melihat suatu keadaan perempuan. Konsep ini dibangun oleh Caroline O.N. Moser akademisi dari University of Manchester.

Triple burden ini menjelaskan bahwa terdapat tiga sektor yang menjadi beban ganda perempuan yaitu sektor reproduksi, komunitas, dan produksi. Peran reproduksi berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga seperti mengasuh anak dan pekerjaan domestik. Konstruksi sosial telah mengakar bahwa pekerjaan domestik atau peran reproduksi ini menjadi kewajiban ibu atau perempuan.

Peran komunitas berkaitan dengan peran perempuan di ruang sosial. Perempuan memiliki peran pada beberapa ruang-ruang sosial masyarakat, seperti keterlibatan perempuan pada kegiatan-kegiatan masyarakat, dan secara tidak sadar kadang melahirkan beban ganda terhadap perempuan.

Peran produksi adalah peran yang harus dijalankan oleh perempuan dari tempat kerjanya. Perempuan-perempuan pada era ini telah memasuki era kebebasan berkarir. Namun, kebebasan tersebut tidak sepenuhnya bisa menyelesaikan persoalan yang terjadi. Peran produksi ini juga melahirkan beberapa beban terhadap perempuan, hal tersebut tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kebijakan dari perusahaan atau tempat kerja yang kurang ramah terhadap perempuan sebagai tenaga kerja. (mubadalah[dot]id, 26/7/2021)

Jika kita telusuri secara mendalam, maka bisa kita menyimpulkan bahwa sesungguhnya double burden atau triple burden merupakan buah dari ide kesetaraan gender yang diusung oleh kaum feminis. Mereka menghendaki kesetaraan laki-laki dan perempuan yang berujung pada kebebasan perempuan selanjutnya menuntut kaum perempuan ‘keluar’ dari rumah. Karena mereka berpandangan sebelah mata kepada ibu rumah tangga yang dinilai tidak mampu memberi kontribusi secara ekonomi terhadap keluarga.

Inkonsistensi Konsep KG, Munculkan Permasalahan Baru

Sesungguhnya jika kita mencermati lebih lanjut, permasalahan ini tidak lepas dari inkonsistensi konsep kesetaraan gender. Mereka menghendaki perempuan setara seperti laki-laki, mandiri, bebas keluar rumah. Akan tetapi, ketika perempuan keluar dari rumah-rumah mereka, mulailah muncul masalah-masalah baru, termasuk apa yang mereka katakan dengan peran ganda atau double burden, dan sekarang triple burden. Lalu, mereka pun mengeluh. Beginilah aturan buatan manusia.

Baca juga:  Kaum Perempuan tak Seharusnya menjadi Bemper Ekonomi

Maka, di mana pun perkembangan konsep ini selanjutnya, akan kita dapati kenyataan bahwa kesetaraan gender tidak membawa kebaikan apa pun. Yang terjadi justru makin rusaknya tatanan masyarakat dan guncangnya struktur keluarga akibat rancunya relasi dan pembagian peran di antara mereka. Namun masalahnya, ide ini telah meracuni para perempuan untuk melepaskan diri dari ikatan dan tanggung jawab kekeluargaan yang pada akhirnya menghilangkan peran lembaga keluarga itu sendiri.

Telah sangat jelas bahwa kesetaraan gender tidak akan mengantarkan perempuan kepada kebaikan dan kemuliaan. Demikian halnya bahwa kesetaraan gender tidak memberikan solusi apa pun, selain hanya menambah panjang daftar persoalan perempuan. Ketika perempuan didorong untuk bekerja, ini justru membebani perempuan dengan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi tugasnya.

Umat Islam Tidak Butuh Kesetaraan Gender

Ketika perempuan didorong untuk mandiri, tidak membutuhkan siapa pun bahkan suaminya sekalipun, ternyata ini melawan fitrah. Perempuan ingin dilindungi, ingin dijaga, ingin bergantung kepada laki laki. Apakah kesetaraan gender dan kebebasan perempuan membawa kebahagiaan? Sama sekali tidak.

Kesetaraan gender bukanlah cara untuk menghilangkan penindasan atas perempuan atau menegakkan kehormatan bagi perempuan. Ide ini tidak menyelesaikan masalah perempuan. Ketika perempuan mandiri, justru lebih rentan dari sisi perlindungan. Lihatlah betapa banyak perempuan bekerja, terlebih mereka yang pergi ke luar negeri tanpa disertai suami atau mahramnya. Banyak di antara mereka yang diperkosa, dianiaya dan tak sedikit yang akhirnya meregang nyawa, pulang hanya tinggal nama.

Demikian halnya perempuan bekerja di negeri ini, mereka harus berjibaku dari pagi hingga petang bahkan malam atau dari malam hingga pagi lagi, demi sebuah kemandirian dan kebebasan atas nama kesetaraan gender. Apa yang kemudian didapatkan? Terkurasnya tenaga dan pikiran. Sementara sang buah hati di rumah, yang menunggu senyuman dan belaian lembut tangan sang bunda, akhirnya harus menelan kekecewaan. Sang ibu bahkan tak sempat lagi memberi senyuman, ataupun sekadar sapaan karena anaknya sudah tertidur kelelahan menunggu bunda tercinta. Dan pagi pagi buta sang bunda sudah harus berangkat. Dengan menempuh perjalanan yang terkadang masih sepi, siap menawarkan ancaman kehormatan dan keamanan sang bunda. Lalu siapa yang akan melindunginya?

Baca juga:  Jebakan “Kamala Harris Effect” dan Kepemimpinan Perempuan

Hanya Syariat Islam yang Memuliakan Perempuan

Islam yang diturunkan Allah Yang Mahaadil dan Maha Mengetahui hakikat makhluk-Nya, telah menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Bila para muslimah memahami, sungguh menarik bahwa dalam konsep Islam, pahala surga bagi perempuan “lebih mudah” untuk diraih daripada kaum laki-laki.

Dengan perannya sebagai ummun wa rabbatu al bayt, kemuliaan dapat diraih. Hal ini tergambar dalam dialog antara Asma’ binti Yazid dengan Rasulullah (saw.). Asma’ berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah Engkau diutus Allah untuk kaum laki-laki dan juga perempuan? Kenapa sejumlah syariat lebih berpihak pada laki-laki, mereka diwajibkan jihad kami tidak, malah kami mengurus harta dan anak mereka di kala mereka berjihad, mereka diwajibkan salat Jumat kami tidak, mereka diperintahkan mengantar jenazah sedangkan kami tidak?”

Rasulullah saw. tertegun atas pertanyaan perempuan ini sambil berkata kepada para sahabat, “Perhatikan betapa bagusnya pertanyaan perempuan ini.” Beliau melanjutkan, “Wahai Asma’! Sampaikan jawaban kami kepada seluruh perempuan di belakangmu, yaitu apabila kalian bertanggung jawab dalam berumah tangga dan taat kepada suami, kalian dapatkan semua pahala kaum laki-laki itu.” (Terjemahan bebas, HR Ibnu Abdil Baar).

Harus dipahami pula bahwa peran utama perempuan sebagai ummun wa rabbatu al bayt tidak menghalangi perannya di tengah masyarakat. Allah Swt. berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 71)

Dalam ayat ini Allah menggariskan bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam melaksanakan aktivitas amar makruf dan nahi mungkar di tengah masyarakat. Mereka tolong menolong dalam menegakkan aktivitas yang menjadi pilar kehidupan bermasyarakat.

Istimewanya lagi, syariat Islam telah memberikan mekanisme yang sangat jitu sehingga para perempuan ini bisa menjalankan perannya dengan maksimal, baik sebagai bagian dari keluarga maupun bagian dari masyarakat. Kaum perempuan dibebaskan dari berbagai kewajiban seperti salat berjamaah di masjid, bekerja, berjihad, dan hukum-hukum lain yang akan berpotensi menelantarkan fungsi keibuannya. Maka, salat di rumahnya adalah lebih baik baginya. Mencari nafkah dibebankan kepada suami atau walinya, begitu pula perlindungan dan keamanannya.

Baca juga:  Kampanye Ide Kesetaraan Gender

Islam menetapkan mekanisme yang menjamin seorang perempuan—dalam kondisi apa pun—mendapatkan nafkah. Mekanisme ini diawali dengan penetapan hukum perwalian laki-laki atas perempuan. Perwalian, tidak seperti yang dipahami masyarakat saat ini sekadar hak untuk menikahkan, akan tetapi para wali (laki-laki) juga berkewajiban untuk melindungi, mendidik, dan menafkahi perempuan dan anak yang berada di bawah perwaliannya.

Perempuan yang belum menikah, walinya yang utama adalah ayahnya. Sedangkan perempuan yang sudah menikah, tugas wali ini diambil alih oleh suaminya. Bila ayah atau suami tidak ada, perwalian akan berpindah kepada kerabat laki-laki dari pihak ayah sesuai dengan kedekatan hubungan kekerabatannya.

Berkaitan dengan peran perempuan di ruang publik, Islam juga telah menggariskan serangkaian hukum yang bertujuan untuk menjaga dan melindungi kemuliaan perempuan. Hukum jilbab, safar dan larangan khalwat hakikatnya adalah hukum-hukum untuk melindungi perempuan dari berbagai fitnah saat beraktivitas di luar rumah, menjauhkannya dari para pengganggu dan memastikan ta’awun yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dalam ruang publik adalah ta’awun yang positif dan produktif.

Dengan demikian, Islam tidak hanya mengatur peran perempuan, melainkan juga menjamin peran tersebut dapat terealisasi dengan sempurna melalui serangkaian hukum yang bersifat praktis. Kelebihan semacam ini tidak mungkin ada kecuali pada ad-diin yang bersumber dari Sang Pencipta manusia, sebaik-baik Pembuat Hukum.

Khatimah

Sudah saatnya kita sadar, tidak ada satu alasan pun yang membuat kaum muslim harus ikut-ikutan mengadopsi, mempropagandakan, bahkan memperjuangkan ide kesetaraan gender yang memunculkan masalah double burden atau bahkan triple burden dan masalah-masalah lainnya.

Cukuplah Islam sebagai panduan kita semua. Karena Islam memiliki pandangan yang unik tentang laki-laki dan perempuan sekaligus mengenai hubungan keduanya serta bentuk kehidupan masyarakat yang hendak dibangun di atas pijakan akidah dan aturan-aturannya.

Pemberdayaan perempuan seharusnya diarahkan bukan pada kemandirian dan kebebasan, melainkan untuk mengukuhkan ketahanan keluarga muslim, melahirkan generasi berkualitas, dan membangun muslimah berkarakter kuat dalam rangka amar makruf nahi mungkar.

Sudah saatnya kita buang jauh ide kesetaraan gender, ide cacat dan irasional, yang jelas tak mampu menyelesaikan persoalan perempuan, tak mampu menghantarkan perempuan pada kemuliaan dan takwa. Hanya dengan menerapkan syariat kafah dalam bingkai negara Khilafah Islamiah perempuan akan mulia dan sejahtera. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *