[Tapak Tilas] Kota Bashrah, Venesia di Timur Tengah yang Tinggal Sejarah

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Kota Bashrah di Irak tunduk pada kekuasaan Islam sejalan dengan penaklukan kawasan Irak secara keseluruhan. Penaklukan Irak sendiri dirintis di masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq bersamaan dengan upaya penaklukan wilayah Syam pascapemberangusan kekuatan Musailamah al-Kadzdzab di Perang Yamamah (632 M).

Peta penaklukan di masa Khilafah Rasyidah. Foto: wikiwand.com

Misi penaklukan ini tentu bukan misi yang mudah, karena yang dihadapi pasukan Islam adalah dua kekuatan adidaya yang sedang berkuasa di dunia. Wilayah Irak dikuasai imperium Persia atau Sassanid, sementara wilayah Syam dikuasai imperium Romawi atau Bizantium Timur.

Wilayah Irak sendiri sudah sangat lama dikuasai Imperium Sassanid. Bahkan penguasa Sassanid menjadikan Irak sebagai salah satu basis pertahanan utama mereka di wilayah Arab.

Itulah mengapa, pasukan yang dikirim untuk menyukseskan misi penaklukan Irak ini jumlahnya banyak. Di antaranya, pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Al Mutsanna bin Haritasah Asy-Syaibani dan Iyadh bin Ghunm radhiyallaahu ‘anhum. Masing-masing pasukan diminta merintis penaklukan dari berbagai arah yang berbeda.

Pada tahun 633 M, misi itu berhasil dengan baik. Wilayah Irak akhirnya jatuh ke tangan kaum Muslimin setelah melalui berbagai pertempuran yang cukup dahsyat di masing-masing wilayah yang mereka buka.

Saat itu mereka berhasil merebut beberapa kota penting di Irak, seperti kota al-Hirrah, Ayn Al-Tamr dan Ullais. Termasuk wilayah al-Ablah (Ubullah), yang kelak diberi nama sebagai kota Bashrah.

Disebut demikian karena wilayah ini posisinya sangat strategis, berada di tepi barat Shatt al-Arab, yang mempertemukan muara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat.

Tempat ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk mengintai sekaligus pintu pembuka ke wilayah kekuasaan imperium Romawi di wilayah Syam.

Penaklukan Kedua Kali

Pada tahun 634 M, saat kekhilafahan beralih kepada Sayyidina Umar bin Khaththab, beliau menjadikan kota Bashrah di Irak ini sebagai kamp militer di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid ra.

Maka ketika beliau mendengar bahwa pasukan pembebasan Syam yang dirintis Khalifah Abu Bakar menghadapi tantangan berat dari pasukan Romawi, beliau langsung memerintahkan Khalid dan pasukannya untuk bergerak dari Irak untuk membantu pasukan Muslim di Syam, khususnya di benteng pertahanan mereka di daerah Yarmuk.

Saat itulah, penguasa Sasanid Yadzerged III dan sisa-sisa kekuatan yang masih ada di Madain (Ctesiphon) Irak dan Iran memanfaatkan kesempatan untuk merebut kembali wilayah Irak. Hingga kekuasaan Muslim pun kembali melemah di sana.

Baca juga:  Idulfitri di Irak, Meneruskan Tradisi Khilafah Abbasiyah

Situasi inilah yang mendorong Khalifah Umar untuk mengirimkan pasukan militer dari kota Madinah di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqash ra. Misi pasukan ini adalah membebaskan kembali Irak dari tangan penguasa Sassanid.

Misi ini berhasil gemilang, setelah terjadi pertempuran besar di Qadissiyah (636 M). Bahkan selain berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya sudah direbut pasukan Khalid bin Walid, pertempuran ini menjadi washilah direbutnya kota Madain atau Ctesiphon yang merupakan basis terakhir kekuatan Sassanid di Irak.

Adapun wilayah Bashrah, ada pasukan khusus yang dikirim Khalifah Umar untuk membebaskannya. Yakni pasukan yang dipimpin Uthbah bin Ghazwan ra. yang juga berhasil menunaikan misinya dengan baik. Hingga Bashrah pun kembali jatuh ke tangan kaum Muslim.

Maka sejak saat itu, seluruh wilayah Irak termasuk kota-kota penting seperti Al-Hirrah, Ayn at-Tamr, Ullais, Madain maupun Bashrah benar-benar jatuh dalam kendali kekuasaan Islam di Madinah. Lalu bagi kota-kota itu khalifah mengangkat seorang gubernur untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan sesuai arahannya.

Meski ditaklukkan dengan pertempuran, penduduk Irak menerima dengan ringan kepemimpinan Islam. Bahkan tak perlu waktu lama, mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam setelah melihat keagungan penerapan sistem Islam dan keadilan yang berhasil diwujudkannya.

Bashrah Menjadi Kota Metropolitan

Di bawah kepemimpinan Uthbah bin Ghazwan yang kemudian diangkat sebagai gubernur Bashrah, kawasan Ablah (Ubullah) yang berganti nama menjadi Bashrah disulap menjadi sebuah kota yang hidup, sekalipun fungsinya tetap sebagai kamp militer.

Maka yang pertama ia bangun adalah sebuah masjid besar yang diplot sebagai titik pusat kota. Lalu ia membuat blok-blok pemukiman di sekitarnya dengan bahan yang mudah dibongkar pasang untuk antisipasi perang.

Juga dibangun berbagai fasilitas umum yang diperlukan oleh penduduk kota. Misalnya, jalan-jalan raya, masjid-masjid yang lebih kecil, fasilitas kesehatan, pendidikan dan area pemakaman.

Masjid berusia 1.000 tahun di Kota Bashrah. Foto: https://www.tripadvisor.in/
Bagian dari Kota Bashrah. Foto: pinterest.com

Di masa selanjutnya, Kota Bashrah berkembang dengan pesat menjadi kota yang sesungguhnya. Terutama saat pada tahun 638—640 M Khalifah Umar mengangkat sahabat Abu Musa Al-Asy’ari sebagai gubernur (wali) di sana.

Ia pun melakukan penataan ulang konsep perkotaan. Ia menganjurkan pembangunan rumah warga kota dengan bahan yang lebih permanen. Juga membangun fasilitas air bersih bagi mereka.

Baca juga:  Puluhan Orang Tewas dalam Ledakan Besar di Beirut Libanon

Bahkan ia merenovasi masjid yang dibangun Uthbah di pusat kota hingga konstruksinya lebih kokoh dari sebelumnya. Lalu ia menjadikannya sebagai pusat politik dan aktivitas kemasyarakatan.

Masjid Imam Ali di Kota Bashrah. Foto: Unusual Traveler

Di masa-masa berikutnya, baik di masa khalifah Utsman maupun Ali, para gubernur yang diutus melanjutkan pembangunan kota. Di antaranya membangun sistem irigasi yang sangat baik sehingga memacu pengembangan pertanian.

Wajar jika kota ini muncul sebagai wilayah yang sangat subur. Bahkan dikenal sebagai salah pusat penghasil kurma terbaik, yang menambah kemakmuran bagi warga kota. Juga dibangun pusat-pusat ekonomi, seperti pasar, area pertokoan dan lain-lain.

Di dalam buku History of The Arabs (terj. Hal. 303), Philip K. Hitti sempat menyebutkan bahwa Bashrah juga dikenal sebagai kota Kanal. Setidaknya di tahun 670 M ada 120 ribu kanal di kawasan ini. Sehingga kota ini pun dikenal sebagai kota yang ramai dengan pelayaran, bahkan sempat dikenal sebagai “Venice (Venesia) dari Timur”.

Bashrah, Venesia di Timur Tengah. Foto: beachbaby.net
Bashrah Kota Kanal. Foto: https://www.gckuwait.com/
Seorang serdadu Irak menjaga kilang minyak negaranya di daerah Basrah, Irak. Foto: Republika.co.id

Ketika kekhilafahan beralih kepada Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, kota Bashrah bahkan makin melesat sebagai kota metropolitan. Basrah juga menjadi kota persinggahan penting para pedagang Arab, sebelum mengarungi lautan berdagang ke timur jauh di Cina.

Bashrah Sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan

Bashrah dikenal sebagai kota kembaran bagi Kuffah, karena sama-sama dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di masanya.

Selain merupakan pusat militer, Bashrah juga menjadi pusat perdagangan dan perekonomian serta dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Di kota ini tumbuh tempat-tempat kajian Islam, yang para sahabat dan tabiin banyak yang bermukim di sana. Di antara para sahabat adalah, Anas bin Malik, Ma’qil bin Yassar, Abdullah bin Abbas, dan lain-lain.

Sementara para tabiin, ada banyak nama-nama ahli ilmu yang lahir dan atau bermukim di Bashrah. Di antaranya, Hasan Al-Bashri (wafat 728 M).

Adapun cabang-cabang ilmu yang berkembang di masa itu, antara lain ilmu bahasa Arab, termasuk di bidang ilmu Nahwu.

Bahkan antara Kuffah dan Bashrah terjadi semacam persaingan dalam perkembangan ilmu nahwu ini, sehingga di masa itu lahirlah dua aliran, yakni aliran Kuffah dan aliran Bashrah. Di antara tokohnya yang terkenal adalah Sibawaih dan Al-Khalil bin Ahmad.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Khalifah Umar bin Khaththab ra. Membangun Kota Bervisi Kemaslahatan

Dalam bukunya, Hitti juga menyebutkan bahwa di perbatasan Persia ini, kajian ilmiah tentang bahasa Arab dan tata bahasanya khususnya dilakukan oleh dan untuk para mualaf yang ingin mempelajari Al-Quran, menduduki posisi di pemerintahan, dan agar bisa berinteraksi dengan kaum penakluk.

Foto: pinimg.com

Maka dari sini, berkembang pula ilmu-ilmu yang lainnya. Seperti ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu sastra, sejarah, bahkan ilmu kalam yang melahirkan kelompok muktazillah yang sangat kontroversial.

Juga lahir ilmu-ilmu sains, seperti zoologi dengan pakarnya yang terkenal, Abdul Malik bin Quraib al-Asma’i (739—831 M). Juga berkembang ilmu fisika dengan pakarnya yang tak kalah fenomenal, Ibnu Al-Haitham (965—1039 M).

Peta tua Kota Bashrah. Pieter van der Aa (Leiden, 1659—1733)

Tenggelamnya Pamor Kota Bashrah

Sejalan dengan menurunnya kekuatan politik Abbassiyah akibat konflik internal, juga akibat serangan Mongol yang memporak porandakan pusat politik Khilafah Abbasiyah, serta kian menguatnya kekuatan Syiah di Persia (Iran), maka menurun pulalah pamor kota Bashrah sebagai pusat peradaban Islam.

Apalagi, di masa berikutnya, mayoritas penduduk Bashrah berubah menjadi pengikut Syiah yang dipengaruhi oleh kekuasaan politik Syiah di Iran (Persia). Maka situasi ini kerap menjadikan wilayah Bashrah terlibat konflik dengan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul Turki.

Situasinya terus bertambah parah, terutama saat kekhilafah Turki makin kehilangan kekuatan politiknya hingga setelah keruntuhannya di tahun 1924.

Saat itu kawasan Timur Tengah termasuk Irak dan Bashrah di dalamnya terlepas dari kepemimpinan Islam dan menjadi salah satu medan persaingan antara negara-negara adidaya.

Bahkan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan kian terjebak dalam situasi konflik ciptaan Barat, yang semuanya kian menghapus jejak-jejak peradaban Islam.

Kawasan yang sangat strategis dan kaya sumber daya ini seolah jadi hidangan yang diperebutkan oleh negara-negara kapitalis rakus hingga tak ada lagi yang tersisa selain kehinaan dan buruknya masa depan.

Mirisnya, situasi ini terus berlangsung hingga sekarang. Bahkan nama Bashrah yang dulu demikian terkenal kini nyaris tenggelam ditelan jaman.

Ia seakan menunggu waktu saat kekuasaan Islam yang dijanjikan akan kembali di masa depan. Di saat itu, kemuliaan peradaban Islam akan kembali terpancar menebar kebaikan ke seluruh alam. Allaahu a’lam. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan