Pribadi Rasulullah

[Pribadi Rasulullah] Kelakar Rasulullah saw.

MuslimahNews.com, PRIBADI RASULULLAH – Anas bin Malik ra. berkata, “Sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepadanya, ‘Wahai Pemilik dua telinga!’ Selanjutnya Mahmud menerangkan bahwa Abu Usamah berkata, ‘Maksudnya senda gurau.’”

Anas bin Malik ra. Bercerita: Sesungguhnya Rasulullah saw. bergaul akrab dnegan kami sehingga beliau bersabda kepada adikku yang masih kecil, “Wahai Abu Umar (bapak Umair), apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu?”

Adik kecil yang dimaksud di sini adalah saudara seibu Anas bin Malik ra., namanya adalah Ibnu abi Talhah Zaid bin Sahl al-Anshari. Sedangkan Ibu bagi keduanya adalah Ummu Sulaim binti Malhan. Ibnu Abi Talhah (Abu Umair) wafat sewaktu masih kecil, yakni di masa Nabi saw. masih hidup.

Imam at-Tirmidzi berkata, “Maksud hadis ini, Rasulullah saw. bergurau. Di dalam gurauannya beliau memberi gelar kepada seorang anak kecil dengan sebutan bapak, “Wahai Abu Umair.”

Di dalam hadis itupun terdapat suatu hukum bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa. Ceritanya adalah, “Anak kecil itu mempunyai burung kecil sebagai mainannya. Kemudian burung itu mati. Maka anak itu berduka cita karenanya. Untuk mengobati dukanya Nabi saw. bergurau kepadanya.”

Abu Hurairah bercerita, Mereka (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda suka bergurau kepada kami?”

Beliau bersabda, “Benar, hanya saja apa yang kukatakan tidak lain adalah kebenaran.”

Anas bin Malik mengabarkan : Sesungguhnya ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah saw. agar ia dibawa naik kendaraan. Rasulullah saw. bersabda, “Baik, aku akan membawamu di atas anak unta betina!”

Laki-laki itu berkata, Wahai Rasulullah, apa yang dapat kulakukan dengan anak unta betina itu?”

Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah yang melahirkan unta itu unta betina.”

Anas bin Malik ra. bercerita : sesungguhnya ada seorang laki-laki dari pedusunan, bernama Zahir. Zahir pada masa itu masih berstatus budak mukatab, yakni hamba sahaya yang dijanjikan merdeka oleh tuannya dengan syarat ia harus mampu menebus dirinya.

Ia datang kepada Nabi saw dengan membawa hadiah dari daerah pedusunan. Tatkala ia mau pulang, Nabi saw. memberinya bekal.

Perihal laki-laki itu, Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Zahir adalah teman kita dari pedusunan, dan kita sebagai warga (Madinah) adalah temannya.”

Nabi saw. senang kepadanya, padahal ia seorang laki-laki yang tidak elok raut mukanya.

Pada suatu hari, Nabi saw. mendatangi, sedang ia (Zahir) lai menjual barang dagangannya. Tiba-tiba Nabi saw. memeluknya dari belakang. Ia tidak melihat beliau. Ia pun berkata, “Siapakah ini? Lepaskan aku!”

Lantas ia menoleh, maka ia mengenal orang itu adalah Nabi saw. Ia pun tidak membuang kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Nabi saw.

Nabi saw. bersabda, “Siapakah gerangan yang membeli hamba sahaya ini?”

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, Tuan akan menemukan aku dalam keadaan tak laku.”

Nabi saw. bersabda, “Tidak, tetapi kau di sisi Allah bukanlah tidak laku.”

(Perawi ragu) atau beliau bersabda, “Kau di sisi Allah bernilai tinggi!”

Hasal al-Bishri mengabarkan : Seorang wanita tua datang menghadap Rasulullah saw. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah aku kepada Allah SWT mudah-mudahan masuk surga.”

Nabi saw bersabda, “Wahai ibu fulan, sesungguhnya di surga itu tidak bakal dimasuki wanita tua”

Selanjutnya al-Hasan berkata, “Wanita tua itu berpaling sambil menangis.”

Maka Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepada wanita itu, bahwa ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua (di surga akan menjadi muda lagi). Sungguh Allah berfirman “Maka Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.”’ (QS 56 al-Waqi’ah: 36 – 37). [MNews/Juan]

Sumber: Asy-Syamailul Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *