[Haditsu al-Shiyam] Politik dan Politik Internasional (Bagian 2/3)

Sambungan dari Bagian 1/3

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Untuk ketepatan memilih berita semata-mata adalah untuk diambil, bukan sekadar didengarkan, maka yang diambil hanya berita-berita penting. Apabila mendengar berita bahwa Perdana Menteri Prancis berkunjung ke London, itu akan didengarkan sekaligus diambil. Namun, bila mendengarkan berita bahwa parlemen Jerman berkunjung ke Berlin atau pergi ke Washington atau mengadakan pertemuan dengan General Assembly PBB, itu akan didengarkan dan bukan untuk diambil.

Wajib membedakan antara apa yang bisa diambil dan apa yang tidak, sekalipun semua berita tadi harus tetap didengarkan. Sebab, yang diambil hanya berita-berita yang ada gunanya untuk diambil, dan bukan karena yang lain sekalipun berita-berita tersebut kadang-kadang membentuk informasi-informasi. Inilah yang disebut mengikuti, yaitu mengikuti berita untuk diambil, bukan sekadar didengarkan.

Politik dalam arti nasional, seperti mengurusi kepentingan bangsa dan kepentingan negara, sekalipun penting tetapi kepentingan nasional ini tidaklah sah untuk dijadikan sebagai pusat perhatian. Juga tidak diperbolehkan untuk membatasi perhatian terhadap kepentingan nasional. Sebab dengan menjadikannya sebagai pusat perhatian berarti terjebak egosentris, apriori, serta berupaya untuk kepuasan belaka.

Di samping itu, hal ini amat berbahaya terhadap terciptanya pertentangan secara internal antar politikus, kemudian antarindividu-individu rakyat atau pun kelompok-kelompok mereka. Dalam hal ini terdapat bahaya bagi negara dan bangsa. Di samping membatasi hanya kepentingan nasional tadi tidak akan menjadikan seseorang memahami politik, ini pun berarti melalaikan kepentingan bangsa.

Padahal, seorang politikus harus senantiasa mengurusi kepentingan bangsanya hingga bisa disebut sebagai politikus. Dan ini tidak mungkin, melainkan dengan memedulikan kepentingan bangsa dan negara-negara yang lain. Serta mengetahui berita-berita, manuver-menuvernya, serta mengikuti apa saja yang mungkin terjadi dengan informasi-informasi dari bangsa dan negara-negara tersebut.

Baca juga:  Moderasi Islam Masif, Dakwah Islam Jangan Pasif

Karena itu, politik internasional dan politik luar negeri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari politik. Dilihat dari segi politik itu sendiri. Karena itu, politik tersebut hanya berupa pemikiran untuk mengurusi kepentingan-kepentingan bangsanya, serta pemikiran-pemikiran yang mengurusi kepentingan-kepentingan bangsa dan negara-negara lain. Hubungan politik internasional, politik luar negeri dengan politik tersebut adalah hubungan antara satu bagian dengan keseluruhan. Bahkan bagian penting yang membentuknya.

Politik luar negeri dan politik internasional yang wajib diperhatikan adalah politik bangsa-bangsa yang berpengaruh. Bukan semua bangsa. Dan politik negara-negara yang berpengaruh, bukan semua negara. Terutama negara yang memiliki hubungan dengan bangsa ataupun negaranya, atau akidah yang dijadikan sebagai landasan negaranya.

Karena itu, politik luar negeri dan politik internasional hanya bisa diartikan sebagai politik bangsa-bangsa dan negara-negara yang berpengaruh. Terutama yang berpengaruh terhadap bangsa dan negaranya. Baik pengaruh tersebut dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Sebagai contoh mengetahui bahwa ada revolusi telah terjadi di Haiti, tidaklah terlalu penting untuk diketahui. Tetapi bila revolusi tersebut terjadi di Brazil, atau Kuba, atau Abesinea, ataupun Uganda adalah hal yang urgen untuk diketahui. Sebab, negara yang pertama disebutkan tidak berpengaruh terhadap posisi internasional, juga tidak ada pengaruhnya terhadap bangsa dan negaranya, selain Islam merupakan musuh baginya. Dan secara terus-menerus akan meninggalkan keburukan terhadap negara Islam. Bahwa semua negara tersebut merupakan musuh negara Islam, dan selalu melingkarinya.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Dampak Politik di Afganistan

Juga sibuk mengendalikan dan mendiktenya untuk melemahkan negara Islam, mengalahkan dan menghancurkanya. Karena itu, semua umat ini -terutama para politikus- wajib sibuk untuk menghindari ancaman secara ekstern. Yaitu selalu sibuk dalam politik luar negeri dan politik internasional dengan pengetahuan, pengamatan, serta kesadaran terhadap daerah-daerah bahaya tersebut.

Hanya saja negara Islam tidak hanya berarti para penguasa. Melainkan juga umat yang berada di bawah kekuasaan Khilafah secara langsung. Umat secara keseluruhan adalah negara. Dan negara-negara kafir memahami hal itu. Dia kemudian bekerja dengan dasar kerangka tadi. Dan selama umat ini sadar, bahwa ia merupakan negara, maka ia harus selalu mengikuti berita-berita, situasi negara-negara, bangsa-bangsa, dan umat lain. Sehingga selalu menyadari musuh-musuhnya. Hingga selalu dalam keadaan betul-betul siap untuk melawan semua musuh tersebut.

Karena itu, berita-berita politik luar negeri harus senantiasa menyebar di tengah umat secara keseluruhan, yang diketahui orang secara umum. Dan para politikus serta pemikir harus menelaah orang lain dengan dasar politik luar negeri. Sehingga ketika orang-orang tersebut memilih wakil mereka di Majelis Umat untuk mengoreksi penguasa, dan untuk kepentingan syura (mengambil dan memberikan pendapat), mereka hanya akan memilih dengan dasar politik luar negeri serta politik internasional. Sebab inilah yang wajib dimiliki umat.

Baca juga:  [Haditsu al-Shiyam] Menyibukkan Diri dengan Politik Regional dan Internasional Adalah Wajib Sebagaimana Wajibnya Jihad

Sedangkan para politikus dan pemikir secara umum, tentang memahami poltik luar negeri dan politik internasional adalah harus merata bagi semua aktivitas dan pemikiran politikus tersebut. Itulah yang tampak secara jelas bagi kalangan pemikir, dalam berpikir dan pemikiran mereka. Sebab seorang muslim, ada adalah untuk Islam. Dan adanya pun hanya untuk dakwah Islam.

Dia hidup hanya untuk kepentingan agama ini, melindungi dan menyebarkan dakwahnya. Bila jihad merupakan ujung tombak Islam, maka mengemban dakwah adalah tujuan yang karena dakwah itulah, ada jihad.

Ini menuntut untuk mengetahui politik luar negeri dan politik internasional. Disamping itu, dengan memerhatikan hal ini, sebenarnya negara-negara yang tamak, agar kemudian memiliki pengaruh serta menikmati kekuasaan dan kemuliaanya, akan selalu menjadikan politik luar negerinya sebagai salah satu dasar (kebijakannya). Dan mengambil politik luar negeri tersebut sebagai media untuk menguatkan kedudukannya di dalam dan luar negeri.

Bila faktanya seperti ini, maka para politikus dan pemikir harus mengikuti politik luar negeri serta politik internasional. Baik mereka yang dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Sebab inilah yang menjadikan mereka sebagai poltikus, atau orang yang mengurusi kepentingan umat mereka. Sebab kepentingan-kepentingan mulia umat tersebut hanya terpusat dalam politik luar negeri dan politik internasional. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 3/3

Sumber: Haditsu al-Shiyam

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *