[Nafsiyah] Sebaik-baik Istigfar


Penulis: Mohammad Fauzil Adhim


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Ada apakah kiranya dengan kita? Masjidilharam tetap tegak berdiri. Lampu-lampunya masih menyala dengan terang dan air zamzam tak pernah berhenti mengalir. Tetapi langkah kita terhalang. Penerbangan dihentikan dan pintu-pintunya ditutup untuk kita bersujud di dalamnya.⁣

Kemaksiatan apakah yang telah kita perbuat, sehingga kita tak layak untuk mengagungkan nama-Nya di masjid yang paling mulia itu? Kesibukan apakah kiranya yang melalaikan kita, sehingga kita tak layak untuk tawaf mengelilingi Ka’bah?⁣

Kita telah mengikat perjanjian dengan Allah ‘Azza wa Jalla; janji untuk taat, janji untuk hanya beribadah kepada-Nya, dan hanya kepada Allah ﷻ pula kita meminta pertolongan.

Kita mengakui nikmat-nikmat-Nya sebagaimana kita mengakui dosa-dosa kita. Makin kelu lidah kita mengakui dosa, bukan berarti karena kita tidak punya dosa, tetapi karena hati yang terlalu gelap.

Begitu pula, makin berat kita mengakui nikmat-Nya, bukan karena Allah ﷻ tak lagi mencurahkan kasih-sayang-Nya kepada kita, tetapi karena kita yang sibuk meninggikan diri sendiri, bahkan tanpa sadar di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.⁣

Ambillah waktu sejenak. Renungi sebaik-baik istigfar, yang terbaik di antara permohonan ampunan yang paling baik, sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita.

Baca juga:  [Nafsiyah] Kala Masalah Mendera, Beristighfarlah

Apakah yang kita dapati pada istigfar terbaik, pemimpin seluruh istigfar (sayyidul istighfar) itu? Pengakuan dan peneguhan tauhid, pujian yang sempurna kepada Allah ﷻ, dan pengakuan atas dosa-dosa kita, barulah kemudian kita memohon ampunan kepada-Nya beriring pengakuan—sekali lagi— bahwa hanya Allah ﷻ dan semata-mata Allah ﷻ saja yang dapat memberikan ampunan.⁣

Dari Syaddad bin Aus radhiyaLlahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya sayyidul istighfar adalah seseorang hamba mengucapkan,

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ⁣

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku. Tidak ada Tuhan kecuali hanya Engkau saja. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian untuk taat kepada-Mu dan janji balasan-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”⁣

(Nabi ﷺ kemudian bersabda,)⁣

مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ⁣

Baca juga:  [Nafsiyah] Kala Masalah Mendera, Beristighfarlah

“Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk Ahlul Jannah.(Muttafaq alaih)

[Apakah] hanya dengan ucapan ini kita mendapatkan ampunan dan termasuk ahli surga? Perhatikan sekali lagi sabda Rasulullah ﷺ mengenai doa tersebut. Ada bagian yang sangat penting, yakni diucapkan pada siang ataupun malam hari, ia mensyaratkan adanya keyakinan yang sesungguh-sungguh yakin.

Seseorang yang amat sangat yakin dengannya, dalam hadis tersebut beliau ﷺ sebutkan dengan “مُوْقِنًا بِهَا”, maka ia termasuk ahlul jannah.

Karena itu penting sekali memahami maknanya, menghayati, sekaligus meyakini dengan keyakinan yang bersih sepenuh keyakinan atas tiap-tiap bagian dari sayyidul istighfar tersebut. Tanda dari adanya keyakinan yang kukuh dan bersih adalah tunduknya hati kita di hadapan-Nya dan ke hadapan-Nya.⁣

Ada bagian yang hari ini makin perlu kita hayati, renungi, dan yakini. Sesungguhnya keburukan itu datangnya dari kelalaian dan kesombongan kita. Maka, kita menyatakan ke hadapan Allah ‘Azza wa Jalla dalam sayyidul istighfar ini:⁣

Baca juga:  [Nafsiyah] Kala Masalah Mendera, Beristighfarlah

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ⁣

“Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku.”⁣

Maka, tiadalah bermakna istigfar kita jika lisan menyatakan pengakuan dan sekaligus memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari keburukan perbuatan kita sendiri, sementara di saat yang sama kita justru sibuk menepuk dada dan mengandalkan kekuatan pikiran kita.⁣ [MNews]

Tinggalkan Balasan