Kesetaraan Generasi= Pembajakan Potensi ala Kapitalisme


Penulis: drg. Luluk Farida


MuslimahNews.com, FOKUS — Sudah 1,5 tahun lebih dunia dilanda pandemi Covid-19, total kerugian finansial global mencapai 20 triliun USD dan mengantarkan kepada krisis global dunia. Di tengah kegagalan kapitalisme menangani pandemi, dunia global menyeru peran perempuan untuk berpartisipasi penuh menyelesaikan krisis pascapandemi.

Administrator UNDP Achim Steiner menyatakan, “Pemulihan berkelanjutan hanya mungkin terjadi ketika perempuan mampu memainkan peran penuh dalam membentuk dunia yang dapat ditinggali oleh kita semua pasca-Covid-19.” Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Kesetaraan Generasi yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Paris yang berlangsung pada 30 Juni—2 Juli 2021.

Adanya pandemi Covid-19 mengancam untuk membalikkan kemajuan global dalam kesetaraan gender. Pertemuan global ini bertujuan untuk mempercepat jalan menuju kesetaraan gender dan memobilisasi investasi jutaan dolar, program, dan kebijakan untuk mencapai tujuan dalam aksi lima tahun yang berdasarkan pada Rencana Percepatan Global untuk Kesetaraan Gender. (IDNtimes, 1/7/2021)

Dalam forum ini bergabung juga (WEA) Women’s Entrepreneurship Accelerator yaitu inisiatif multimitra (perusahaan swasta dan lima badan PBB: UN Women, ILO, ITC, UNGC, UNDP). Misi accelerator adalah menghilangkan hambatan bagi pengusaha perempuan di seluruh dunia melalui empat alur pemberdayaan: pendidikan, pendanaan, advokasi, dan partisipasi. Accelerator bertujuan untuk memberdayakan lima juta perempuan secara ekonomi pada akhir tahun 2030.

Yang menarik dari forum kesetaraan generasi ini adalah mendorong semua elemen—kepala negara dan pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, sektor swasta, dan terutama perempuan muda yang dianggap produktif dan kreatif—untuk membuat komitmen nyata untuk mempercepat perubahan transformatif dan mewujudkan cita-cita besar. Hal ini sebagaimana diungkap Direktur UN Women, Mlambo-Ngcuka yang berharap pada 2030 kita akan memiliki beberapa negara yang hampir mencapai kesetaraan gender, dengan mendorong lebih keras lagi untuk bisa mencapai kesetaraan gender pada 2050.

Indonesia sebagai negara yang tunduk dengan berbagai keputusan PBB terkait pemberdayaan perempuan, juga mendorong perempuan muda untuk berdaya, baik dalam kepemimpinan maupun ekonomi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan menyatakan, “Saya optimis perempuan Indonesia bisa maju, bisa hebat, dan berdaya ke depannya, khususnya bagi perempuan-perempuan muda yang punya kesempatan yang luar biasa di depan mata.”

Baca juga:  Ilusi Feminisme Menyelesaikan Permasalahan Kekerasan terhadap Perempuan

Berbagai kesempatan di bidang ekonomi di antaranya program bernama Strategi Nasional Inklusi Keuangan Perempuan, menyediakan dukungan untuk mengakses permodalan, peningkatan kapasitas usaha, dan literasi keuangan. Bahkan, ada pula pelatihan wirausaha pemula yang diberikan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM yang dapat dimanfaatkan oleh perempuan.

Mewujudkan perempuan muda berdaya kepemimpinan dan ekonomi juga menjadi roh dari kurikulum pendidikan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka di antaranya dengan link and match kampus dan industri.

Dengan pemberdayaan ekonomi terutama di kalangan perempuan muda sebagai usia produktif dan kreatif, diharapkan mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi sebagai solusi krisis di tengah pandemi.

Kesetaraan Generasi, Ilusi Solusi Pandemi dan Kesejahteraan

Forum kesetaraan generasi yang diadakan PBB adalah wujud keseriusan kapitalisme global untuk membangun “ilusi” kesetaraan gender agar tetap menjadi visi dan misi perempuan dunia, terutama kalangan perempuan muda. Mengingat sebelumnya, para feminisme muda mengungkap kemarahannya terhadap evaluasi capaian platform aksi Beijing dikaitkan dengan komitmen dukungan pemerintah dan dunia global.

Pada 22—26 November 2019 di Bangkok, Thailand, aktivis feminis dan feminis muda dari 35 negara se-Asia Pasifik berkumpul pada forum khusus yang diadakan PBB untuk ekonomi sosial Asia Pasifik (UNESCAP) “masyarakat sipil dan feminis muda”.

Ketika itu mereka menyatakan, “Kami marah, 25 tahun sejak deklarasi dan platform aksi Beijing, masih jauh dalam pencapaian kesetaraan gender. Ketimpangan kekayaan, kekuasaan, dan sumber daya menjadi lebih besar dari sebelumnya.”

Kesetaraan generasi yang diusung oleh para penggiat gender di bawah UN Women meyakini bahwa jika perempuan setara dalam kepemimpinan dan berdaya secara ekonomi, persoalan perempuan dan generasi terselesaikan, perempuan akan sejahtera mulia, jauh dari diskriminasi dan kekerasan.

Padahal sejatinya, kesetaraan gender tidak layak menjadi harapan, apalagi berdasarkan laporan Global Gender Gap Report 2021, dunia membutuhkan waktu 135,6 tahun untuk mewujudkan kesetaraan gender dan 145,5 tahun untuk dapat mewujudkan kesetaraan dalam politik. Bahkan, dalam hitungan UN Women, posisi tertinggi dalam kekuasaan tidak akan bisa dicapai oleh perempuan selama 130 tahun lagi.

Baca juga:  Kewirausahaan Perempuan, Penyelamat Ekonomi Dunia? Bagaimana Nasib Anak Bangsa?

Dari evaluasi ini, tampak dengan jelas absurdnya gagasan kesetaraan gender/generasi, bahkan merupakan ilusi dan harapan palsu untuk solusi perempuan apalagi solusi pandemi yang menyebabkan krisis global lebih luas bukan hanya di kalangan perempuan dan generasi.

Ada penyebab lain yang justru menjadi penyebab utama krisis dunia yang diperparah dengan pandemi, yakni keserakahan kapitalisme dengan penjajahannya terhadap dunia Islam dan penguasaan sumber daya alam. Diperparah lagi, rezim penguasa di dunia Islam menjadi antek Barat yang memperpanjang berlangsungnya penjajahan negeri-negeri Islam oleh Barat.

Kapitalisasi Perempuan Muda Cegah Kebangkitan Islam

Sejak awal, kapitalisme global mendukung gerakan kesetaraan gender, bahkan menjadi tersistematis oleh PBB adalah dengan dua tujuan yaitu:

  1. Tujuan ekonomi global untuk mengurangi angka kemiskinan, sehingga masyarakat tetap punya daya beli. The Middle East mengungkapkan faktor utama dalam program emansipasi perempuan adalah kebutuhan ekonomi, yakni kebutuhan tenaga kerja perempuan. Bahkan, Nicholas Rockefeller—seorang penasihat RAND—menyatakan tujuan kesetaraan gender adalah untuk mengumpulkan pajak dari publik 50% lebih dalam rangka mendukung kepentingan bisnis.Dalam forum World Economic Forum (WEF) yang berlangsung sejak Senin (25/1/2021), Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa dunia saat ini berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan.Data yang diberikan Organisasi Perburuhan Dunia (ILO) tercatat sekitar 8,8% jam kerja hilang di dunia selama 2020. Hilangnya pekerjaan ini dikhawatirkan menyebabkan krisis ketidaksetaraan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengancam kembalinya generasi perempuan, pekerja muda dan karyawan berketerampilan rendah ke pasar tenaga kerja.
  2. Tujuan security/keamanan untuk mereduksi konflik sosial sehingga tidak akan terjadi social unrest pengganggu iklim investasi yang merugikan pemilik modal. Di sini kita bisa melihat bahwa kapitalisme juga memerankan perempuan untuk melawan ideologi Islam.

Dalam dokumen RAND, Building Moderate Muslim Network, juga disebutkan bahwa isu kesetaraan gender adalah salah satu medan pertempuran utama dalam perang pemikiran melawan Islam ideologis. Promosi kesetaraan gender adalah komponen penting dari setiap proyek untuk memberdayakan muslim moderat.

Dengan tersibukkan dalam pemberdayaan ekonomi, perempuan terutama perempuan muda makin jauh dari identitasnya sebagai muslimah, enggan dengan syariat Islam karena menganggap menjadikannya tidak produktif dengan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Lebih dari itu, mereka tidak memahami hakikat permasalahan utama kesengsaraan perempuan dan dunia yaitu penerapan sistem kapitalisme.

Baca juga:  Kapitalisme Menempatkan Perempuan Sekadar Bumper Kemiskinan

Perempuan, terutama kalangan perempuan muda, harusnya kritis dengan realitas daur ulang kegagalan selama beberapa tahun ide kesetaraan gender diusung melalui berbagai kebijakan, agenda, dan slogan “ilusi” bagi perjuangan hak-hak perempuan.

Islam dan Khilafah Muliakan Peran Perempuan

Allah telah mewajibkan negara untuk melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, laki-laki dan perempuan, sepanjang masa, dalam kondisi aman maupun krisis.

Islam memandang laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia dan menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan manusia. Islam juga memperhatikan kodrat masing-masing, sehingga memberikan peran sesuai dengan kodratnya.

Khilafah Islamiah menjamin hak-hak perempuan dan kemuliaan perannya. Berikut adalah di antara para perempuan dalam pemberdayaan peradaban Islam:

  1. Ummu Asim binti Asim. Ibu rumah tangga, melahirkan sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz – Khalifah masa Bani Umayyah.
  2. Fatimah binti Ubaidillah. Ibu rumah tangga, membuktikan peran strategisnya sebagai ibu generasi, telah berhasil mendidik ulama besar al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’iatau dikenal dengan Imam Syafi’i pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.
  3. Umma Hatun. Ibu rumah tangga, ibunda Khalifah Muhammad al-Fatih (24 tahun), penakluk Konstantinopel.
  4. Mariam al-Astrulabi, ilmuwan perempuan bidang astronomi (pada abad ke-10/944 M), yang hidup di masa Kekhalifahan Abbasiyah.
  5. Syifa binti Sulaiman yang pernah diangkat oleh Khalifah Umar ra, sebagai Qadhi Hisbah, hakim penegak syariat dan pengkritik kezaliman penguasa.
  6. Fatima al-Fihri. Pendiri Universitas tertua di dunia, Universitas Al-Karaouine yang sangat dihormati saat itu sebagai salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dunia muslim. Bahkan, pada hari ini, Guinness Book of World Records telah mengakuinya sebagai lembaga pendidikan tinggi tertua yang terus beroperasi di dunia.

Yang dapat melindungi perempuan dan memuliakan perannya sepanjang masa, bahkan juga umat manusia secara keseluruhan, hanyalah Khilafah Islamiah, yang dengan penegakannya akan membawa rahmat bagi seluruh alam. [MNews/Tim WAG-Gz]

Tinggalkan Balasan