[Haditsu al-Shiyam] Politik dan Politik Internasional (Bagian 1/3)

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Politik adalah pemikiran yang terkait dengan mengurusi kepentingan orang, baik pemikiran tersebut berupa kaidah-kaidah, akidah, atau hukum-hukum; atau pemikiran tersebut berupa perbuatan-perbuatan yang sedang berlangsung, telah, atau akan berlangsung; maupun berupa informasi-informasi.

Bila pemikiran-pemikiran tersebut adalah persoalan yang realistis, ia merupakan politik, baik terkait dengan persoalan-persoalan kekinian atau futuristik, sekalipun waktunya telah lewat. Yaitu berupa fakta yang telah berlalu dan lenyap, baik baru saja berlalu atau sudah lama, yang berupa sejarah.

Karena itu, sejarah itu pun merupakan politik. Ia merupakan sejarah, baik berupa realitas-realitas yang tidak akan berubah dengan pergantian masa. Inilah hal yang wajib senantiasa diketahui. Ataupun berupa peristiwa-peristiwa dalam situasi tertentu yang berlalu dan berlalu pulalah situasi itu, dan inilah yang tidak harus diambil.

Semestinya, pengamat atau pembaca senantiasa dalam keadaan sadar ketika membaca atau mengamatinya, sehingga tidak akan mengambilnya dalam situasi yang tidak cocok dengan situasinya. Maka, ia terperangkap dalam kesalahan dan amat berbahaya untuk mengambilnya.

Manusia (dari segi kemanusiaannya) atau pribadi (dari segi bahwa ia hidup di tengah kehidupan ini) adalah politikus yang suka berpolitik dan memperhatikan politik. Sebab, ia selalu mengurusi kepentingan dirinya atau orang yang menjadi tanggungannya, atau kepentingan bangsa, ideologi, serta pemikiran-pemikirannya.

Hanya saja individu, kelompok, negara-negara, atau organisasi-organisasi internasional yang menolak mengurusi kepentingan umat, negara, wilayah, ataupun negara-negara mereka secara pasti adalah politikus, dilihat dari sisi bahwa mereka adalah keturunan manusia.

Merupakan sesuatu yang alami dari sisi kealamiahan aktivitas, kehidupan, dan berbagai tanggung jawab mereka. Karena itu, mereka adalah politikus yang jelas-jelas politikus. Merakalah yang berhak disebut dengan kata “politikus”.

Hal ini tidak hanya diperuntukkan bagi individu yang aktif-agresif. Sebab, itu merupakan pembatasan berpikir dalam hal mengurusi suatu kepentingan serta pembatasan kegiatan dalam kehidupan. Pembahasan tentang politik hanya bermakna politikus-politikus tersebut. Dan tidak berarti untuk semua orang.

Para ahli telah mendefinisikan politik bahwa politik adalah bidang kemungkinan-kemungkinan, atau bidang kemungkinan. Inilah definisi yang tepat. Hanya saja, dilihat dari segi apa yang telah dialami manusia dengan membatasi pada hal-hal kekinian, ini adalah kesalahan. Sebab, itu berarti realistis-pragmatis dengan pengertian yang keliru.

Ia telah mengkaji fakta dan perjalanan hidup sesuai dengan fakta tersebut. Kalaupun ini diterima, niscaya tidak akan ada sejarah. Juga pasti tidak ada kehidupan politik. Sebab sejarah adalah perubahan realitas dan kehidupan perpolitikan adalah perubahan realitas-realitas yang berproses menuju realitas-realitas yang lain.

Karena itu, definisi politik sebagai bidang kemungkinan adalah definisi yang keliru sesuai dengan pemahaman orang tentang definisi tersebut, atau sesuai dengan pemahaman politikus tersebut.

Namun, dilihat dari segi bahwa kata mungkin yang memiliki arti hakiki yaitu apa saja yang bertentangan dengan kemustahilan serta bertentangan dengan kemestian, sesungguhnya adalah benar. Sebab politik bukanlah bidang kemustahilan. Tetapi, politik hanyalah bidang kemungkinan.

Maka pemikiran-pemikiran yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan atau yang lebih tepat adalah apa yang tidak terkait dengan realitas-realitas kemungkinan dan fakta ini maka bukan merupakan politik. Melainkan fenomena-fenomena yang terpikirkan, atau sekadar imajinasi-imajinasi kosong, ataupun hanya khayalan-khayalan belaka.

Maka, sebuah pemikiran hingga bisa disebut sebagai pemikiran politik atau sampai pemikiran tersebut menjadi politik harus terkait dengan kemungkinan. Karena itu politik merupakan bidang kemungkinan bukan bidang kemustahilan.

Seseorang hingga bisa disebut sebagai politikus harus memiliki pengalaman politik. Baik menangani politik dan mengurusinya secara langsung. Dan dia disebut politikus yang berhak menyandang sebutan politikus. Atau secara tidak langsung menanganinya, yaitu (yang disebut) pengamat politik.

Dan agar seseorang memiliki pengalaman politik tersebut ia harus memenuhi tiga persoalan penting:

Pertama, informasi-informasi politik.

Kedua, kontinuitas mengetahui informasi-informasi politik yang sedang berkembang.

Ketiga, ketepatan memilih informasi-informasi politik.

Informasi-informasi politik adalah informasi-informasi historis, utamanya adalah realitas-realitas sejarah serta informasi-informasi tentang peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan serta pribadi-pribadi yang terkait dengan mereka, dari segi pandangan politik. Juga informasi-informasi tentang hubungan-hubungan politik, baik antar individu, negara-negara, ataupun pemikiran-pemikiran tertentu. Informasi-informasi inilah yang bisa membuka makna pemikiran politik, baik berupa informasi, tindakan maupun kaidah, akidah, dan hukum tertentu. Maka, tanpa informasi-informasi ini seseorang tidak akan mungkin memahami pemikiran politik apa pun sekalipun didukung dengan kecerdasan dan kegeniusan. Sebab persoalannya adalah persoalan pemahaman, bukan persoalan logika.

Sedangkan mengetahui berita-berita yang berkembang, terutama berita-berita politik, karena ia merupakan informasi, dan karena ia merupakan berita tentang peristiwa tertentu yang sedang berkembang, juga karena ia merupakan pusat pemahaman dan pembahasan, karena itu harus mengetahuinya.

Ketika peristiwa-peristiwa kehidupan ini secara pasti terus berubah, berkembang dan berbeda-beda serta bertolak belakang, maka jelas menjadi keharusan mengikutinya secara kontinu. Sehingga tetap senantiasa mengetahuinya. Yaitu tetap senantiasa berhenti menanti di stasiun kereta api yang secara riil akan dilewati kereta api tersebut. Dan agar tidak berhenti menanti di stasiun yang kini tidak dilewati kereta api tersebut. Tetapi kereta itu selalu lewat satu jam sebelumnya kemudian berubah, lalu lewat di stasiun lain.

Karena itu menjadi keharusan untuk mengikuti berita-berita tersebut secara kontinu dan terus mengikutinya hingga tak satu pun berita yang terlewatkannya, baik berita tersebut penting atau biasa-biasa. Bahkan, wajib senantiasa dibawa saat mencari dalam tumpukan jerami untuk mendapatkan sebutir gandum. Dan kadang-kadang tidak dia temukan, karena dia tidak tahu kapan berita penting itu datang, dan kapan tidak.

Untuk itulah, harus senantiasa mengikuti semua berita-berita tersebut, baik yang dianggap penting atau tidak. Sebab, berita-berita tersebut merupakan penggalan-penggalan yang terkait sebagiannya dengan sebagian yang lainya. Bila satu penggalan hilang, maka terputuslah “rantai” tersebut.

Juga sulit mengetahui persoalannya, bahkan kadang-kadang bisa dipahami dengan salah. Kadang fakta yang ada dikaitkan dengan berita atau pemikiran yang telah berakhir dan sirna, dan tidak akan pernah kembali lagi. Karena itu, mengikuti berita-berita tersebut harus secara terus-menerus hingga pemahaman politiknya menjadi jelas. [MNews/Rgl]

Sumber: Haditsu Al-Shiyam

Bersambung ke bagian 2/3

Tinggalkan Balasan