[Tapak Tilas] Kota Baghdad, dari Kejayaan dan Kehancuran


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Sejarah Kota Baghdad memang tak selamanya indah. Namun, di bawah cahaya Islam, kota ini sempat menjadi mercusuar peradaban dunia sekira lima abad lamanya.

Kota ini jatuh ke tangan kaum muslim sejalan dengan penaklukan wilayah Irak pada 636 M.  Saat itu, Panglima Sa’ad Bin Abi Waqash dan pasukannya terlibat peperangan dahsyat dengan pasukan Persia di Qadisiyyah yang berujung pada tumbangnya kekuasaan imperium Persia atau Sassanid di wilayah Irak.

Baghdad menjadi kota yang sangat penting saat pada 762 M Kekhalifahan Bani Abbasiyah menjadikannya sebagai pusat pemerintahan. Sebelumnya, ibu kota Khilafah ada di Damaskus Suriah.

Lalu Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754-755 M) berinisiatif membangun kota baru ini dan menyulapnya sebagai kota metropolitan yang sangat megah.

Menurut para sejarawan, ada beberapa alasan mengapa terjadi pemindahan ibu kota pemerintahan. Di antaranya, di Kota Damaskus masih banyak loyalis Bani Umayyah yang menjadi lawan politik Bani Abbasiyah.

Di samping itu, Kota Baghdad jaraknya cukup dekat dengan kawasan Iran yang menjadi basis pendukung Bani Abbasiyah. Lalu posisinya yang dekat dengan sungai Tigris dan Eufrat pun dipandang tepat untuk menjadi pusat politik pemerintahan.

Kota Lingkaran yang Tiada Bandingan

Khalifah Al-Manshur membangun kota ini benar-benar dengan pertimbangan yang sangat matang. Berbagai ahli ia libatkan untuk memastikan kota ini memang layak menjadi kota masa depan bagi umat Islam.

Masa keemasan kota Baghdad ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) serta anaknya Al-Makmun (813—833 M). Di kedua masa kekhalifahan inilah Baghdad berhasil menjadi mercusuar peradaban.

Dalam bukunya History of Arab, Philiph H. Hitti menceritakan secara khusus tentang zaman keemasan Baghdad. Di halaman 375 (terjemahan) ia menyebut, meski usianya kurang dari setengah abad, Baghdad muncul sebagai pusat dunia dengan tingkat kemakmuran dan peran internasional yang luar biasa.

Ia juga menyebut Baghdad saat itu menjadi saingan satu-satunya bagi imperium Bizantium. Bahkan kota yang ikonik karena berbentuk lingkaran ini dikenal sebagai kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia.

Desain kota Baghdad di era Abbasiyah, berbentuk Kota Lingkaran. (Republika online)

Posisinya yang sangat strategis di lembah Eufrat dan Tigris membuat Baghdad menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhan yang ada di sana menjadi pusat bongkar muat barang-barang yang datang dari Cina, India, Kepulauan Melayu, Turki, Arab, Asia Tengah, bahkan Eropa.

Di saat sama menjadi pusat pengiriman barang-barang dari Mesir, Suriah, Semenanjung Arab dan Persia ke seluruh dunia, seperti ke Timur Jauh, Eropa dan Afrika.

Namun selain bidang ekonomi dan perdagangan, Baghdad pun tumbuh sebagai kota intelektual. Gerakan intelektual di kota ini muncul sejalan dengan banyaknya proyek penerjemahan kitab-kitab pengetahuan asing, seperti dari Persia, Aramik, India, Yunani dan lain-lain yang diinisiasi dan di-support oleh negara (khalifah)

Baca juga:  Idulfitri di Irak, Meneruskan Tradisi Khilafah Abbasiyah

Proyek ini akhirnya memicu diskusi-diskusi intelektual yang melahirkan karya-karya ilmu pengetahuan dengan tetap menjadikan ajaran Islam dan bahasa Arab sebagai basisnya. Dan situasi ini sejalan dengan besarnya perhatian penguasa kepada bidang pendidikan dan pengajaran.

Tak heran jika saat itu di kota Baghdad banyak terdapat banyak sekali Kuttab dan Madrasah (sekolah dasar hingga menengah), serta Jam’iyat (perguruan tinggi) dan Darul Hikmah atau Baitul Hikmah (perpustakaan nasional).

Semua fasilitas dan kebutuhan operasionalnya pun betul-betul full disokong oleh negara. Termasuk insentif sangat besar bagi para ulama dan pelajarnya.

Tak heran jika berbagai bidang keilmuan tumbuh dengan pesat. Baik di bidang agama dan ilmu kalam atau filsafat, ilmu pengetahuan alam, matematika,  astronomi, sejarah, geografi, hingga ilmu-ilmu terapan.

Masjid-masjid besar yang banyak dibangun pun tak hanya menjadi pusat peribadatan. Namun justru menumbuhsuburkan majelis-majelis muhadharah dengan tokoh-tokohnya yang  sangat terkenal dan jumlahnya sangat banyak.

Maka kita kenal di bidang filsafat ada nama Abu Ishak Al-Kindi, Abu Nashr Al-Faraby, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Al-Ghazali. Di bidang kedokteran ada Abu Zakaria Yuhana bin Maswaih, Sabur bin Sahal dan Abu Zakaria Ar-Razy.

Sementara di bidang matematika ada Al-Khawarizmi penemu angka nol dan dikenal sebagai bapak aljabar. Juga ratusan tokoh lain di bidang ilmu farmasi, kimia, astronomi, tafsir, hadis, kalam, ilmu kebahasaan, dan lain-lain.

Kemakmuran Material yang Akhirnya Menjatuhkan

Tentu saja, semua hal yang terjadi di kota Baghdad, termasuk era puncak keemasan ilmu pengetahuan, berpengaruh luas di wilayah-wilayah Islam yang lainnya.

Hingga umat Islam sebagai sebuah entitas dan negara pun mampu tampil sebagai umat dan negara yang terbaik di tengah situasi masyarakat Eropa yang masih berkubang dalam kegelapan.

Bahkan di era keemasan Baghdad ini, umat Islam benar-benar mencapai puncak kesejahteraan yang demikian gemilang dan mencengangkan.

Hal itu merupakan salah satu dampak logis dari kebangkitan pemikiran, politik, ekonomi, perdagangan dan ilmu pengetahuan.

Dalam buku yang sama, Hitti juga menggambarkan, tingginya level kemakmuran di era Baghdad ini tampak dari dibangunnya sejumlah istana-istana megah milik para pembesar. Serta dari pembangunan berbagai fasilitas umum yang serba megah yang dilakukan besar-besaran di sekitar kota.

Dr. Yusuf Al-Isy dalam bukunya, Dinasti Abbasiyah (Pustaka Al-Kautsar, 2007, Terj.) juga memaparkan hal yang senada.  Kemajuan material yang tampak di kota Baghdad demikian luar biasa, hingga ia sendiri menyebut kota Baghdad sebagai ibu kota kemegahan.

Untuk fasilitas kesehatan saja misalnya, dibangun fasilitas rumah sakit dengan ketersediaan ahli medis yang memadai dan digaji minimal 10 ribu dirham per bulan.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Pembebasan Irak dan Akhir Kekuasaan Persia

Fasilitas ini didukung dengan teknik-teknik dan alat operasi yang modern di masanya, apotek dengan ahli farmasinya, serta keberadaan lembaga-lembaga riset, dan lain sebagainya.

Pemandian umum dan tempat rekreasi di kota Baghdad juga menjadi hal yang sangat lumrah. Bahkan konon jumlah pemandian umum saja sampai lebih dari 10 ribu buah.

Masing-masing diurus oleh lima orang pegawai, berikut fasilitas masjid yang dibangun di tiap kompleks pemandian.

Terkait kekayaan material yang dicapai kota Baghdad, Dr. Yusuf menulis di halaman 276 buku Dinasti Abbasiyah (terj.) sedemikian: “Kita mendapatkan berbagai cerita tentang kekayaan, harta, perhiasan, kemegahan, kemuliaan yang tidak ada batasnya dan akan mengagetkan kita.”

Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis Hitti saat ia menggambarkan dengan rinci tentang kemewahan yang mewarnai kehidupan di kota Bagdad. Yakni tentang penggunaan emas dan perak dalam bangunan-bangunan istana pembesar.

Juga dalam berbagai peralatan makan yang dipamerkan dalam acara-acara seremonial bertabur kemewahan yang makin marak diselenggarakan.

Ia pun menceritakan tentang munculnya tren penggunaan batu perhiasan yang mahal dalam pakaian hingga sepatu-sepatu kaum perempuan. Hal itu setidaknya menunjukkan betapa kemakmuran material telah dicapai sedemikian oleh kekuasaan Islam, khususnya di kota Baghdad.

Namun sayang beribu sayang. Kemakmuran material yang tampak mencengangkan dan seperti dongengan ini tak didukung oleh upaya simultan penguatan fondasi akidah dan keterikatan hukum syarak yang kukuh dalam kehidupan. Apakah di level individu, masyarakat maupun negara.

Bahkan di akhir-akhir kekuasaan Abbasiyah, tak sedikit pemangku kekuasaan dan masyarakat umum yang kian dikuasai penyakit wahn tersebab makin jauhnya mereka dari tuntunan Islam.

Akibatnya, kekuatan umat dan negara pun makin lama makin melemah.  Dan pada akhirnya mudah dilumpuhkan oleh kekuatan luar.

Hal ini diperparah dengan kian melemahnya kekuatan politik dinasti Abbasiyah akibat memuncaknya konflik internal di kalangan para pembesar. Serta munculnya kekuasaan dinasti Syiah Fathimiyyah di Mesir yang tak mampu diselesaikan.

Saat Baghdad Bersimbah Tinta dan Darah

Tahun 1258 M adalah tahun paling menyedihkan bagi kota Baghdad dan umat Islam secara keseluruhan. Tahun itu Kekhilafahan Bani Abbasiyah yang eksis selama berabad-abad akhirnya benar-benar tumbang.

Adalah Hulagu Khan, pemimpin pasukan Mongol, cucu Genghis Khan, bersama ratusan ribu prajuritnya menyerang kota Baghdad dengan brutal.

Khalifah Al-Mu’tashim dan pasukannya benar-benar tak berdaya menghadapi kekuatan pasukan barbar yang memang berniat menghancurkan kekuasaan Islam.

Tak hanya tentara yang dibantai. Bahkan nyaris semua kepala penduduk kota yang jumlahnya lebih dari sejuta dipenggal. Begitu pun sang khalifah dan keluarganya.

Hingga dikisahkan, tanah-tanah di kota Baghdad pun berubah merah oleh darah. Lalu harta benda mereka pun dijarah.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Pembebasan Irak dan Akhir Kekuasaan Persia
Gambar ilustrasi pengepungan kota Baghdad oleh pasukan Hulagu Khan (wikipedia)
Gambar ilustrasi penerobosan benteng kota Baghdad oleh pasukan Hulagu Khan (wikipedia)

Namun tak hanya itu. Istana-istana, gedung-gedung, dan semua fasilitas umum yang ada di Kota Baghdad habis dihancurkan. Bahkan kitab-kitab ilmu pengetahuan yang melimpah di kota itu pun habis dirusak dan dibuang ke sungai Tigris hingga berminggu-minggu airnya berubah hitam oleh lunturan tinta.

Demikianlah, Kota Baghdad, pusat politik Islam yang sebelumnya dikenal sebagai kota kemegahan harus hancur di tangan kaum barbar. Setelah itu Baghdad berubah menjadi kota mati yang butuh bertahun-tahun kondisinya dipulihkan.

Sementara selama dua tahun kemudian, umat Islam di seluruh dunia hidup tanpa kepemimpinan (Khilafah). Hingga qadarullah, akhirnya diselamatkan oleh Bani Umayyah yang kekuasaan politiknya kembali menguat di Spanyol Andalusia. Bahkan pusat peradaban pun akhirnya beralih ke sana.

Baghdad di Era Penjajahan Barat

Di masa kemudian nama Baghdad memang tak muncul ke permukaan. Di bawah kekuasaan Islam selanjutnya, Baghdad tak lebih dari wilayah-wilayah Islam lain yang penduduk dan kotanya diurus oleh kekuasaan Islam hingga tetap merasakan kesejahteraan dan kemakmuran, namun tak sampai mengalami kembali puncak kejayaan.

Nama Baghdad baru muncul kembali saat di awal-awal abad ke 20 kaum kafir Barat akhirnya berhasil melemahkan kekuatan Khilafah Utsmaniyah dan menjadikan wilayah kekuasaan Islam sebagai daerah jajahan.

Bahkan di era “kemerdekaan” mereka mengerat-ngerat wilayah Islam itu  dalam bentuk negara bangsa, dengan target melanggengkan perpecahan umat Islam. Irak adalah salah satu kawasan yang di-setting menjadi sebuah negara bangsa, dengan Baghdad sebagai ibu kotanya.

Kawasan Islam dikerat-kerat menjadi negara bangsa oleh imperialis Barat (wawasansejarah.com)
Masing-masing kawasan dikuasai penjajah Barat (duniatimteng)

Kemudian dari masa ke masa, Baghdad pun menjadi pusat politik sekaligus pusat konflik kepemimpinan akibat campur tangan Barat yang saling bersaing berebut pengaruh di sana.

Kawasan Irak yang kaya minyak dan posisi wilayahnya yang strategis di timur tengah dan dunia rupanya menjadi alasan utama mengapa negara-negara adidaya Barat, khususnya Inggris, Rusia, dan Amerika begitu serius berusaha merebut loyalitas pemimpinnya.

Invasi Irak oleh Amerika, 2003 (vova.co.id)
Kehancuran akibat invasi Amerika 2003 (republika.co.id)

Tak heran jika meski ceritanya telah merdeka sejak 1932 M, wilayah Irak tetap saja menjadi salah satu medan konflik yang mengerikan.

Bahkan pada tahun 2003, Kota Baghdad menjadi sasaran serangan militer Amerika yang berdalih ingin menghukum loyalis Inggris Saddam Husain pemimpinnya. Saddam disebut-sebut mendukung terorisme dan memiliki fasilitas nuklir yang membahayakan dunia.

Maka dunia pun akhirnya tahu, bahwa Amerika cuma cari alasan saja. Tujuan mereka hanya mengganti para boneka demi penguasaan minyak dan wilayah pengaruh di sana.

Maka sejak hari itu, kota Baghdad dan kekuasaan Islam di sana makin tenggelam dalam kubangan kehinaan akibat tegaknya kepemimpinan sekuler yang tak punya wibawa.

Kota ini benar-benar menunggu datangnya kekuasaan hakiki Islam yang akan mengembalikan kemuliaannya, sebagaimana kawasan Islam lainnya di seluruh dunia. Wallaahu a’lam. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan