Pandemi Tak Juga Berhenti, Masyarakat Ribut Sendiri


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Pandemi sungguh mengiris hati. Selain setiap hari muncul kabar duka, konflik horizontal antarmasyarakat juga nakes bikin mengelus dada. Ternyata, selama ini banyak ketakpahaman dalam diri rakyat. Mereka salah menerima informasi atau bahkan tidak mendapat informasi yang benar, sehingga banyak terjadi tindakan di luar nalar.

Konflik Terjadi di Masyarakat

Kisah Salamat Sianipar dari Desa Sianipar Bulu Silape, Kabupaten Toba, Sumatra Utara membuat kita terenyuh. Virus Corona telah memaksanya melakukan isolasi mandiri di hutan, tanpa teman dan penerangan.

Atas permintaan aparat desa beserta masyarakat, ia pun pergi sendirian. Namun, kondisi yang tidak membuatnya nyaman menekannya untuk kembali ke kampung halaman. Nahasnya, bukan pertolongan yang didapat, justru umpatan, pukulan, dan lemparan batu yang mendarat ke tubuhnya.(kompas.com, 24/7/2021)

Sangat disayangkan, hal ini terjadi di negeri yang katanya “orangnya ramah-ramah”. Pandemi seolah sukses menghapus simpati dan empati masyarakat. Bahkan, kekacauan ini terjadi di mana-mana. Bukan hanya antarmasyarakat, tetapi juga dengan tenaga kesehatan.

Tim pemakaman jenazah Covid yang dihajar oleh warga Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember menyisakan lara. Meskipun berakhir damai, peristiwa ini cukup menjadi perhatian kita semua. Bukti bahwa tidak semua orang bisa memahami kondisi yang ada.

Salah Kaprah Memahami Pandemi

Kasus kesalahpahaman tidak hanya terjadi antarmasyarakat atau tenaga kesehatan. Di wilayah lain pun ada, hanya saja tidak sampai masuk berita. Kondisi ini bisa saja terjadi karena masyarakat merasa tertekan, terlebih hari-hari ini banyak kabar kematian. Ketakutan akan stigma “Covid menyebabkan meninggal” menghantui benak mereka. Mereka menganggap orang yang terkena Covid bagaikan aib yang harus dibuang jauh-jauh.

Di sisi lain, pemahaman akan fikih agama pun kurang. Dengan memaksa petugas siaga untuk menyerahkan jenazah yang terkena Covid agar bisa dimandikan, membuktikan bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang fikih agamanya. Ditambah lagi, dengan nekat ada yang menganiaya petugas tersebut. Akhlak yang dielu-elukan pun sekejap sirna. Mereka berubah menjadi macan kelaparan saat berhadapan dengan kasus Covid.

Sebenarnya, di sini ada kesalahan menerima informasi yang mengakibatkan tidak tepat dalam memilih aktivitas. Siapa yang bertanggung jawab? Dalam hal ini tentu saja kewajiban pemerintah. Melalui perangkat desa dan kesehatan desa, seharusnya pemerintah mampu menjelaskan perihal bahaya virus ini hingga ke pelosok-pelosok. Dengan demikian tidak ada kejadian “miskom” hingga berujung penganiayaan.

Kekeliruan dalam Penanganan Pandemi

Sayangnya, kebijakan yang selama ini diambil tak memberikan lampu merah bagi virus untuk berhenti menularkan pada manusia. Gonta-ganti peraturan malah membuat virus berkeliaran ke mana-mana. Korban pun banyak berjatuhan. Bahkan, banyak yang kalah dalam pertempuran melawan Covid-19.

Dalih minimnya anggaran menjadi alasan utama pemegang kebijakan tidak melakukan karantina wilayah. Mereka lebih memilih menghidupkan ekonomi daripada melindungi kesehatan dan jiwa rakyatnya. Bagaikan makan buah simalakama, semua kebijakan yang diambil ternyata menuai kontra dan akibat yang berbahaya.

Herd immunity akhirnya jadi pilihan. Bagi mereka yang kuat, bisa tetap bertahan. Namun, tidak sedikit yang akhirnya harus tumbang di tengah perjuangan melawan sakit. Setiap hari kabar duka datang silih berganti. Inilah hasil yang harus dituai dengan kebijakan yang berganti-ganti. Dari sini, patut jika rakyat menyangsikan segala kebijakan dan memilih bertindak sesuai pemikirannya sendiri.

Mengembalikan Kepercayaan Rakyat

Negara tanpa rakyat tidak akan sempurna. Bagaimana pemerintahan akan berjalan mulus jika rakyatnya tak lagi percaya? Maka, untuk mengembalikan kepercayaan rakyat, negara perlu mengambil kebijakan yang berani. Kita adalah negara yang mayoritas penduduknya Islam. Menjadi suatu kewajiban seorang muslim untuk taat pada agamanya. Baik rakyat maupun pejabat tak ada bedanya.

Andaikan negara mau meniru cara Islam menghadapi wabah, masalah akan cepat selesai. Dengan begitu kepercayaan rakyat pun akan kembali. Namun, cara itu hanya bisa dipraktikkan saat negara memiliki keyakinan penuh dengan Islam, serta menjadikannya sebagai landasan dalam setiap kebijakan. Bukankah Islam mengedepankan keselamatan rakyat daripada urusan dunia dan seisinya? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan