[Haditsu al-Shiyam] Menyibukkan Diri dengan Politik Regional dan Internasional Adalah Wajib Sebagaimana Wajibnya Jihad

MuslimahNews.com, HADITSU AL-SHIYAM — Allah Swt. berfirman,

الم (١) غُلِبَتِ الرُّومُ (٢) فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (٣)

“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang beriman.” (TQS ar-Rum [30]: 1-3)

Diriwayatkan dari Nabi saw., beliau bersabda,

“Barang siapa yang di pagi hari (bangun) dan tidak terbersit (dalam benaknya) kepedulian terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka (kaum muslimin).”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Umamah, bahwa ada seorang laki-laki, pada saat ia melontarkan jumrah yang pertama mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw., seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jihad apa yang paling utama?” Rasulullah diam (tidak berkata apa-apa). Pada saat lontaran jumrah yang kedua, laki-laki itu mengulang pertanyaannya lagi, tetapi Rasulullah tetap diam (tidak berkata apa-apa).

Setelah lontaran jumrah ‘aqabah (yang ketiga), kaki Rasulullah menginjak sanggurdi hendak menaiki tunggangannya, tetapi berkata, “Di mana penanya tadi?” Dijawab, “Saya wahai Rasulullah.” Sabda Rasul, “(yaitu) melontarkan kalimat hak di hadapan penguasa yang zalim atau amir yang zalim.”

Dalam riwayat Abu Daud, dari Abi Sa’id dengan sanad marfu’:

“Jihad yang paling utama adalah (melontarkan) kalimat yang adil (yakni Islam-peny.) di hadapan penguasa yang zalim.”

Nas-nas tersebut menunjukkan kewajiban untuk menyibukkan diri dalam berpolitik. Ibnu Abi Hathim dari Ibnu Syihab menafsirkan ayat di atas seraya berkata,

“Telah sampai kepada kami berita bahwa kaum musyrikin telah berpolemik dengan kaum muslimin, sementara mereka masih tinggal di kota Makkah dan Rasulullah saw. belum pergi berhijrah. Mereka (kaum musyrikin) berkata, orang-orang Romawi telah bersaksi bahwa mereka adalah ahli kitab. Dan mereka telah dikalahkan oleh orang-orang Majusi. Sementara itu kalian mengira bahwa kalian akan mampu mengalahkan kami dengan (senjata) kitab yang diturunkan kepada Nabi kalian. Bagaimana bisa Majusi dikalahkan oleh Romawi yang ahli kitab. Maka kami (kaum muslimin) akan mengalahkanmu, sebagaimana Romawi mengalahkan Persia.”

Turunlah firman Allah Swt.,

Baca juga:  Hadis Hudzaifah tentang Keharusan Adanya Jama'atul Muslimin dan Pemimpin Mereka (Bagian 2/2)

“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi.” (TQS ar-Rum [30]: 1-2)

Ini menunjukkan bahwa kaum muslimin di Kota Makkah, sebelum berdirinya negara Islam (di Madinah), mereka telah berpolemik dengan orang-orang kafir mengenai berbagai berita internasional dan informasi tentang hubungan internasional.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar melakukan taruhan dengan orang-orang musyrik bahwa Romawi akan mengalahkan (Persia). Berita ini sampai kepada Rasulullah saw., dan Rasulullah pun menyetujuinya (dengan taqrir), seraya menegaskan bahwa dirinya pun turut andil di pihak Abu Bakar dalam taruhan tersebut. Ini juga petunjuk lain bahwa mengetahui kondisi berbagai negara saat ini serta hubungan mereka satu dengan yang lainnya, adalah perkara yang biasa dibicarakan oleh kaum muslimin (saat itu). Dan Rasulullah saw. menegaskannya.

Tambahan lagi, bahwa umat ini yang mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, hal itu tidak akan mudah dilakukan kecuali dengan mengetahui politik pemerintah negeri-negeri tersebut. Dengan kata lain mengetahui politik internasional yang tengah berlangsung.

Ini berarti bahwa mengetahui politik internasional secara umum, dan politik masing-masing negara yang bangsanya ingin kita dakwahi, atau melawan tipu daya mereka terhadap kita, adalah fardu kifayah bagi kaum muslimin. Karena mengemban dakwah adalah fardu.

Melawan tipu daya musuh-musuh umat juga fardu. Semua itu tidak mungkin tercapai melainkan dengan mengetahui politik internasional dan politik regional, di mana kita melakukan interaksi dengan mereka dalam rangka menyerukan dakwah Islam terhadap bangsa-bangsa tersebut, atau untuk melawan tipu daya mereka.

Terdapat kaidah syarak, “Suatu kewajiban tidak akan sempurna (terlaksana) kecuali dengan (menjalankan) sesuatu, maka sesuatu itu (hukumnya) wajib.”

Baca juga:  Mengemban Dakwah (Bagian 1/4)

Dengan demikian, menyibukkan diri dengan politik internasional adalah kewajiban atas kaum muslimin. Jadi, tatkala umat Islam dibebankan dengan kewajiban mengemban dakwah Islam kepada seluruh umat manusia, maka—pada saat yang sama—diwajibkan pula untuk selalu berinteraksi dengan dunia internasional.

Dengan interaksi yang dibalut dengan kesadaran dalam rangka memahami kondisi dan masalah-masalah (internasional), memahami keinginan berbagai bangsa dan negara-negara; mencermati aktivitas-aktivitas politik yang sedang berlangsung di dunia, terutama strategi politik berbagai negara (besar), dan uslub (teknis operasional) penerapan strategi tersebut; juga mempelajari tata cara hubungan mereka satu dengan yang lainnya yang ditampakkan sebagai manuver politik yang dilakukan negara-negara tersebut.

Berdasarkan hal ini, maka kaum muslimin wajib memahami hakikat dari konstelasi politik dunia Islam yang menjadi bagian dari konstelasi politik internasional, hingga mampu menyusun dan menjelaskan langkah-langkah praktis penegakan negara mereka di tengah-tengah hiruk pikuk (politik) internasional, serta dalam rangka memperkuat pengembanan dakwah mereka ke penjuru dunia.

Dari sini, maka fardu kifayah atas kaum muslimin untuk mengetahui secara sempurna konstelasi politik internasional. Dibarengi dengan mengetahui secara terperinci perkara-perkara yang berhubungan dengan konstelasi politik internasional sehari-hari dengan jalan mengikuti perkembangan secara kontinu, memberi perhatian dan peduli dengan kondisi politik internasional (terutama terhadap manuver negara-negara tertentu yang sangat memengaruhi peta politik internasional-peny.) yang senantiasa disebut-sebut dalam peta politik internasional.

Oleh karena itu, fardu kifayah atas kaum muslimin menyibukkan diri dalam politik internasional. Jika umat ini melalaikan diri dari perhatiannya dalam politik internasional, tidak mau tahu terhadap politik internasional maupun regional, maka mereka semuanya berdosa, sebagaimana halnya jika kaum muslimin seluruhnya melalaikan jihad. Karena dua perkara tersebut sama-sama wajibnya. Ini dilihat dari sisi politik internasional.

Adapun dari sisi politik regional, maka yang dimaksudkan disini adalah menyibukkan diri dengan perkara-perkara kaum muslimin secara umum dan memberi perhatian terhadap kondisi kaum muslimin, terutama perlakuan pemerintah atau penguasa terhadap mereka.

Baca juga:  [Haditsu al-Shiyam] Politik dan Politik Internasional (Bagian 2/3)

Ini adalah perkara yang telah diwajibkan Allah atas mereka. Haram bagi mereka melalaikannya. Apalagi Rasulullah saw. mendorong untuk memberi perhatian terhadap kondisi kaum muslimin dan menganggap bahwa siapa saja yang tidak memedulikan kondisi kaum muslimin berarti dia tidak termasuk golongan kaum muslimin.

Rasulullah saw. juga telah menyampaikan anjuran untuk mengawasi para penguasa yang menjadi pengatur urusan kaum muslimin dan memberi perhatian terhadap tindak tanduknya dalam mengatur urusan rakyatnya. Juga menjadikan aktivitas melontarkan kalimat yang hak di hadapan penguasa yang zalim sebagai bagian dari jihad yang paling utama. Ini berarti menyibukkan diri dengan kondisi dan perkara (yang dihadapi) kaum muslimin dan memberi perhatian terhadapnya, merupakan sesuatu yang wajar (dilakukan umat-peny.).

Terdapat hadis syarif,

“Barang siapa melihat penguasa yang zalim, melanggar janji Allah, menghalalkan yang Allah haramkan, berperilaku dosa dan melakukan permusuhan terhadap hamba-hamba Allah, lalu (yang menyaksikan itu) tidak melakukan perubahan, baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka Allah berhak memasukkannya ke dalam (neraka).”

Maka yang dimaksud dengan melakukan perubahan dengan ucapan maupun perbuatan adalah menyibukkan diri dengan aktivitas politik regional. Dari sini jelas bahwa statusnya adalah wajib untuk menyibukkan diri dalam politik regional.

Dengan demikian jelaslah, bahwa berpolitik itu fardu kifayah atas kaum muslimin, baik itu politik regional maupun politik internasional. Sebab politik itu adalah (bagaimana) mengatur dan memelihara urusan-urusan umat, baik di dalam maupun luar negeri.

Jadi, wajib atas kaum muslimin—tidak terkecuali orang-orang yang bertakwa dan berperilaku baik—untuk menyibukkan dirinya dalam politik internasional dan politik regional. Tanpa aktivitas tersebut, tidak mungkin kita melawan tipu daya (negara-negara) kafir. Dan tanpa aktivitas tersebut tidak mungkin mengembangkan dakwah ke seluruh penjuru dunia. [MNews/Rgl]

Sumber: Hadits al-Shiyam

Tinggalkan Balasan