[News] Aktivasi Pasal 80 Tunisia, Bisakah “Memanen Anggur dari Tumbuhan Liar”?

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Al-Jazeera memberitakan (29/7/2021), pada Minggu, Presiden Kais Saied mengambil alih negara itu dengan menerapkan Pasal 80 Konstitusi Tunisia dalam sebuah langkah populer untuk membebaskan negara itu dari krisis yang disebabkan oleh ketakstabilan politik dan kerapuhan ekonomi, yang semuanya diperparah oleh pandemi virus Corona.

Setelah pengumumannya, presiden dengan cepat memecat Perdana Menteri Hichem Mechichi dan menteri lainnya, menjanjikan perubahan besar pada sistem politik dan membasmi politisi korup.

Perdana Menteri Tunisia Hichem Mechichi muncul dalam konferensi pers di Tunis, Tunisia, pada 3/6/2021. [REUTERS/Zoubeir Souissi/File Foto]
Oussama Aouidit, anggota biro eksekutif partai sayap kiri Echaab, yang mendukung kampanye Saied dalam pemilihan presiden 2019, dengan keras membela tindakan presiden, “Tanggal 25 Juli dimulainya babak baru dalam sejarah Tunisia dan Pasal 80 telah memberikan izin kepada presiden untuk mengelola situasi ini.”

Aouidit berpendapat bahwa sistem politik yang diciptakan setelah revolusi rakyat 2011 yang menggulingkan Presiden lama Zine Abedine Ben Ali telah memungkinkan korupsi meluas di seluruh masyarakat Tunisia.

Umat Tidak akan Menuai Apa-Apa Selain Kesengsaraan dan Keputusasaan

Menyikapi hal ini, salah satu media ideologis Tunisia menyoroti Aktivasi Pasal 80 adalah mempertahankan sistem yang sama dengan wajah baru. “Bisakah memanen  anggur dari tumbuhan liar?” tanyanya retorik.

Baca juga:  Idulfitri di Tunisia, Eidul-Fitrin
Para pengunjuk rasa menghadapi petugas polisi Tunisia selama demonstrasi di Tunis, Tunisia, Minggu (25/7/2021). Demonstrasi dengan kekerasan pecah pada Minggu di beberapa kota Tunisia ketika pengunjuk rasa menyatakan kemarahan atas memburuknya situasi kesehatan, ekonomi, dan sosial negara itu.(AP PHOTO/HASSENE DRIDI)

Ditulisnya, Presiden Kais Saied mengaktifkan Pasal 80 konstitusi, sesuai interpretasinya, setelah mempersiapkan situasi internal dan menerima dukungan eksternal. Presiden membekukan parlemen dan mencabut kekebalan anggotanya, memberhentikan perdana menteri, kemudian mengambil alih pemerintahan dengan bantuan pasukan keamanan dan tentara.

Pertemuan darurat Presiden Tunisia Kais Saied dengan militer. Dok: Twitter @Tnpresidency

Menyoroti perkembangan tersebut, media ini menyatakan pertama, apa yang dilakukan Presiden Kais Saied menegaskan bahwa demokrasi, pemilihan umum, dan dukungan masyarakat internasional hanyalah kebohongan besar.

“Karena meraih tujuan revolusi tidak didapat dengan berada di bawah pengawasan dan persetujuan Barat, dan dalam mekanisme dan proyek peradabannya. Semua tujuan revolusi bisa diraih dengan memutuskan hubungan dengan sistem demokrasi Barat dan perangkat lokalnya, dan membangun pemerintahan yang adil berdasarkan Islam,” ungkapnya.

Kedua, tujuan Presiden Kais Saied dan orang-orang di belakangnya yang didukung  kekuatan Barat adalah untuk melikuidasi sisa-sisa revolusi Tunisia dan pencapaiannya. Bahkan jika ada sisa-sisa secara formal.

“Begitu pun kelas politik yang dibentuk setelah 14 Januari 2011, semua orang menyadari bahwa hal itu mengkhianati tujuan revolusi saat kelas politik itu menyingkirkan Islam dari kekuasaan dan mereproduksi sistem kapitalis itu sendiri, yang ditentang oleh rakyat,” kritiknya.

Ketiga, krisis politik, ekonomi dan kemanusiaan yang dialami Tunisia tidak akan bisa  diselesaikan dengan kediktatoran Kais Saied maupun demokrasi parlemen, yang keduanya ibarat para pegawai dalam  departemen pemerintahan Barat.

Baca juga:  Idulfitri di Tunisia, Eidul-Fitrin

“Peran utama mereka adalah memerangi Islam dan menjaga kepentingan Barat dan perusahaan penjarahannya, dan umat tidak akan menuai apa-apa selain kesengsaraan dan keputusasaan dari kekuasaan mereka,” kecamnya.

Arahkan Panah kepada Sistem Kapitalisme dan Lanjutkan Kehidupan Islam dengan Khilafah

Masih dari media ini, ditekankannya agar umat fokus pada bobroknya politisi dan kroninya.  Tanpa berbicara tentang bobroknya  sistem kapitalis demokrasi, justru menjadi upaya lick Barat  untuk mengarahkan kemarahan rakyat  hanya terhadap orang-orang yang berkuasa.

“Dengan begitu  sistem Barat  jauh dari penilaian buruk  dan pertanyaan, sehingga umat tetap dalam lingkaran tertutup dan tidak menemukan jalan keluar. Suatu kali mereka menduduki pemerintahan  dengan pemilu dan di lain waktu dengan kudeta. Demikianlah Barat mengalihkan umat dari perubahan produktif yang nyata berdasarkan Islam,” tukasnya.

Aksi unjuk rasa di Tunisia/Net

Maka, lanjutnya, hendaknya panah kemarahan diarahkan terhadap sistem kapitalisme dan penjaga lokalnya. “Dan kepada orang-orang yang tulus dari ahlul quwwah wal man’ah (pemilik kekuatan)  agar menyerahkan sistem kepada partai ideologis untuk melanjutkan kehidupan Islam melalui pendirian Khilafah Rasyidah kedua dengan metode kenabian, kemudian mengemban dakwah  Islam, masalah vital umat Islam, ke dunia,” tegasnya.

Allah (Swt.) berfirman,

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

Baca juga:  Idulfitri di Tunisia, Eidul-Fitrin

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Hud: 113) [MNews/Ruh-Gz]

Tinggalkan Balasan